
"Nona Laura, anda mau langsung pulang atau mau saya antar kemana dulu?" ucap suara seorang pria dibalik kemudi.
Sontak saja Laura menghentikan tangisannya, ia kaget bagaimana bisa supir taksi itu tau namanya.
"Kamu siapa?" tanya Laura cemas.
Kemudian laki laki itu menampakan wajahnya sambil tersenyum hangat
"Yoga?? Bagaimana bisa??" tanya Laura keheranan.
"Tadi kebetulan saya lewat rumah tuan David, tiba tiba nona menghentikan mobil saya. Saya fikir nona butuh tumpangan" jelas Yoga.
Laura nampak berfikir, mungkin karna fikirannya yang sedang kacau tadi, sampai sampai ia mengira mobil Yoga adalah taksi.
"Maaf Yoga, aku fikir tadi taksi" ucap Laura.
Yoga terkekeh, bagaimana bisa Laura tidak dapat membedakan mobil mewah miliknya dengan mobil taksi. Tapi melihat kondisi Laura yang sedang tidak baik baik saja, akhirnya ia mengerti.
"Terus mau langsung pulang apa gimana nih??" tanya Yoga.
"Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan kacau begini, bisa bisa mama khawatir" batin Laura.
"Yoga, bawa aku ke suatu tempat yang bisa membuat fikiranku tenang" ucap Laura.
"Siap bosku" kekeh Yoga.
Sebenarnya sudah sejak lama Yoga menyimpan perasaan pada Laura. Namun karna Laura terlalu terobsesi pada David, sampai sampai tidak ada celah untuk dirinya masuk kedalam hati sang gadis.
Terkadang ia kasihan pada gadis itu, berbagai cara dilakukannya untuk mencuri perhatian David namun selalu diacuhkan.
Apalagi setelah David mengenal Tiara, membuatnya semakin kasihan. Pasalnya David semakin meutup dirinya untuk gadis itu, sedangkan dirinya terus bersikeras. Laura tak menghentikan kebiasaannya mengirim bekal makan siang hasil masakannya untuk David.
Tapi David selalu memerintahkan Yoga untuk membuang saja makan yang didkirm Laura. Namun dengan senang hati Yoga selalu menghabiskan bekal bekal itu.
Kini Yoga tengah tersenyum, menatap kaca spion mobilnya yang menampakkan wajah murung Laura.
Jarang sekali ia melihat wajah mendung Laura. karna Laura yang ia kenal wanita cantik, modis, ceria dan selalu tersenyum.
Bahkan Yoga tidak menyangka saat mengetahui Laura terlibat dalam masalah batalnya pernikahan David. Hingga dirinya mencari cara dan meyakinkan David agar tidak menghukum Laura, untung saja David tidak curiga.
__ADS_1
.
.
Mobil Yoga pun terhenti, dari kejauhan terdengar deburan ombak.
"Yoga kita ada dimana??" tanya Laura.
"Tempat yang mungkin bisa membuatmu tenang" ucap Yoga.
Saat keluar dari mobil, Laura takjub dengan hamaparan laut yang dihiasi terangnya rembulan malam.
"Kamu lihat itu nona, bulan saja terlihat terang malam ini. Kenapa wajahmu suram??" ucap Yoga.
Kini mereka tengah bersandar dimuka mobil Yoga.
Laura manghembuskan nafasnya perlahan.
"Yoga, apa kamu mau menjadi temanku" ucap Laura.
"Tentu saja!" jawab Yoga.
"Kalau sedang ada beban, jangan dipendam sendiri. Nona boleh bercerita pada saya, bukan kah sekarang kita berteman" ucap Yoga, sebenarnya dia penasaran apa yang telah terjadi sehingga Laura bersedih.
Laura menatap singkat Yoga.
"Ga, kamu tau kan perjuangan cintaku untuk David?? Mungkin sekarang sudah saatnya aku mengakhiri perasaan ini" ucap Laura.
Yoga hanya mengerutkan dahinya.
"Aku bahkan menghabiskan masa mudaku untuk mengejar angan yang tak pasti. Apakah masih ada laki laki yang mau sama perawan tua sepertiku??? Tanya Laura menatap Yoga.
Seketika Yoga menjadi gugup, apalagi ketika Laura menatap dirinya.
"Ten tentu masih ada nona" jawab Yoga gelagapan.
"Bahkan orang itu ada dihadapanmu nona" batin Yoga.
Laura pun tersenyum, tekadnya sudah bulat. Ia akan mengubur perasaan cinta dan obsesinya oada David, dan akan memcoba membuka hatinya untuk hati yang lain.
__ADS_1
************
2 hari kemudian..
Kini sudah waktunya makan siang, namun David masih belum beranjak dari kursi kebesarannya. Ia terus saja menatap pintu ruangannya.
Biasanya saat saat seperti ini, ada seseorang datang membawakan makan siang untuknya, namun sejak kemarin seseorang itu tidak datang lagi.
Ia masih berharap jika hari ini seseorang itu akan datang, sekalian ia ingin meminta maaf atas apa yang terjadi malam itu, sungguh ia sangat menyesal telah mengucapkan kata kata yang menyakiti hati seseorang itu.
Tak lama pintu ruangannya terbuka, ia sesegera mungkin untuk berpura sibuk.
"Permisi tuan"
Alis David terangkat, rupanya asistennya yang masuk bukan seseorang yang ia tunggu.
"Kenapa??" tanya David.
"Saya hanya mau bilang, saya akan makan siang diluar bareng teman saya" ucap Yoga sumringah.
"Yaudah pergi sono, ngapain juga bilang" ucap David acuh.
"Saya hanya mengingatkan tuan jangan lupa makan siang, karna nanti jam 2 kita akan ada meeting dengan perusahaan IT grup" ucap Yoga kemudian keluar dari ruangan David.
Setelah menunggu setengah jam, yabg ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya ia pun pergi keluar untuk membeli makan.
Jangan tanyakan Yoga kemana? Tentu saja ia pergi makan siang dengan Laura. Mereka makan di butik milik Laura, karna Yoga sangat suka dengan semua makanan yang dimasak oleh Laura.
.
.
Kasian yaa si David, percintaannya apes mulu!!! hahaha
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...