My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.84 Rencana yang Gagal


__ADS_3

Waktu terus berlalu, sebulan sudah usaha Yukas mendalami informasi tentang siapa Devan, namun hasilnya tidak memuaskan baginya.


Karena yang hanya bisa ia ketahui jika Devan Mahendra merupakan pengusaha sukses di bidang pertanian dan perkebunan, itu saja. Mengenai kekuasaan dan kekuatan apa yang Devan miliki itu tak berhasil ia tembus.


"Selamat siang tuan" ucap seorang pria yang usianya tak jauh dari Yukas dengan wajah yang tertunduk lesu, seakan ia sudah siap dengan kemurkaan sang majikan yang akan ditumpahkan pada dirinya.


"Jangan bilang jika pekerjaanmu untuk menghancurkan perusahaan milik anak itu gagal lagi Kemal?" ucap Yukas dengan rahang yang mengeras dan mata yang memerah.


"Benar tuan, gerak gerik kita seolah sudah terbaca oleh mereka. Sehingga rencana kita selalu gagal" ucap asisten Yukas yang bernama Kemal itu, dengan wajah yang masih menunduk.


"Dasar tidak becus!! Sekarang keluar!! Saya tidak mau mendengar alasan apapun lagi" ucap Yukas dengan penuh emosi.


Tak ingin membuat majikannya tambah marah Kemal tak menunggu lama lagi untuk keluar dari ruangan sang majikan.


Tak lama dari kepergian Kemal, pintu ruangan Yukas terbuka kembali. Kali ini seorang wanita cantik yang datang.


"Papa, kenapa wajah papa kusut begitu?" ucap Alena seraya melangkah menghampiri sang ayah.


"Rencana papa semuanya gagal untuk memberi peringatan pada Devan sialan itu" ucap Yukas geram.


"Apa???" ucap Alena tak terima.


"Papa gimana sih? Harusnya papa lebih berusaha lagi dong! Kalo kaya gini caranya Ale bakal kehilangan kesempatan menjadi pewaris tunggal kekayaan opa" ucap Alena dengan wajah yang tak kalah emosi pada sang ayah.


"Alena! Papa sudah berusaha dengan maksimal, tapi kekuatan anak itu tidak bisa ditembus" Sanggah Yukas.


"Yasudah kalau papa tidak bisa, biar Ale sendiri yang melenyapkan manusia sialan itu" ujar Alena kemudian dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan Yukas.


"Dasar anak itu, keras kepala sekali! Memangnya dia bisa apa" ucap Yukas membiarkan saja putri satu satunya itu melakukan apa yang ia inginkan.


**********


Ditempat lain tepatnya kantor milik Devan, nampak sang bos tengah tersenyum puas dengan hasil kerja anak buahnya tak lain adalah Riki.


"Kamu memang selalu bisa diandalkan Rik" ucap Devan pada pria yang berusia dua tahun dibawahnya yang kini tengah tersenyum bangga pada dirinya.


"Iya dong bos, cuma begitu aja mah gampil" ujar Riki menyombongkan diri.


"Eits tapi ini belum selesai" ujar Devan

__ADS_1


Riki hanya menaikkan kedua alisnya.


Meskipun Devan tidak melanjutkan kembali ucapannya, namun Riki seolah mengerti apa yang di maksud oleh bosnya itu.


"Oke serahkan saja pada Riki" ucapnya dengan nada narsis.


Setelah itu ia pun keluar dari ruangan Devan.


.


.


.


*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#


Sebuah mobil mewah berwarna merah menyala melaju dengan kencang menyusuri jalan perkebunan didaerah pedesaan.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Devano Mahendra kau harus mati!" ucap Alena dengan penuh penekanan.


Laju mobil yang ia kamudikan semakin bertambah kecepatannya, ia tak perduli dengan kondisi jalan diperkebunan yang berkelok dan mendaki, Alena benar benar sudah seperti kehilangan akal sehatnya.


Saat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi Alena tidak sadar jika didepannya ada tikungan tajam dan dari arah yang berlawanan ada truk pengangkut barang yang sejak tadi sudah membunyikan klaksonnya.


Mobil merah milik Alena mengalami tabrakan dengan truk pembawa barang itu, sehingga mobilnya terpental jauh dari tempat kejadian dan menyebabkan kerusakan yang sangat parah.


"Bang Riki, tolong kami! Kami baru saja tabrakan dengan sebuah mobil dijalan cirampis" ucap sang sopir dengan tubuh yang bergetar.


"Baik saya akan segera kesana! Bagaimana kondisi kalian?" tanya Riki dari seberang telfon.


Setiap mobil operasional perusahaan milik Devan yang mengirim barang ke kota memiliki dua orang pegawai, yakni sopir satu dan sopir dua. Agar jika mereka lelah bisa bergantian dalam mengemudi agar meminimalisir kecelakaan. Dan kecelakaan ini terjadi pun bukan karena kelalaian mereka, namun mobil yang berlawanan itu yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kami tidak apa apa bos, hanya saja mobil yang tabrakan dengan kami terpental sangat jauh" ujar sopir tersebut.


Setelah mendapat telfon dari sang sopir, Riki langsung bergegas menuju lokasi yang telah ditunjukan oleh bawahan tersebut.


.


.

__ADS_1


Setibanya Riki di lokasi kejadian, para sopir itu pun kangsung menjelaskan bagaimana kronolgi kejadian yang sebenarnya, jika mobil merah itu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga tidak memberikan kesempatan mereka untuk memberhentikan mobil terlebih dahulu.


"Yasudah sebaiknya kalian kembali ke gudang, dan hari ini kalian berdua tidak usah ke kota, istirahat saja dulu. Masalah ini biar saya yang menyelesaikan" ucap Riki memerintahkan para sopir agar kembali ke gudang karena melihat kondisi mereka yang masih shok dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Setelah itu, ia menghampiri mobil merah yang mengalami kerusakan yang cukup parah itu.


Namun kedua matanya terbelalak saat mengetahui siapa perempuan sang pengemudi mobil mewah itu.


"Nona Alena" ujar Riki dengan dahi yang mengkerut.


Meskipun wajah Alena berlumuran darah, namun dengan mudah Riki dapat mengenalinya, karena dalam waktu sebulan kemarin rutinitas pekerjaannya adalah menyelidiki keluarga Yukas.


Ia langsung meraih gawai miliknya dalam saku, kemudian mendial kontak bernama bos Devan.


"Halo bos! Anak buah kita barusa saja mengalami tabrakan saat akan mengirim barang ke kota, dan kebetulan korban tabrakannya adalah nona Alena" ucap Riki.


"Riki kau urus semuanya, tapi jangan sampai mereka tau kalau kamu orang saya" ucap suara dari seberang sana.


"Oke bos" ujar Riki.


Ia langsung menelfon ambulans daerah sekitar, kemudian membawa Alena kerumah sakit terdekat.


.


.


.


Bersambung...


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKSIH :)...

__ADS_1


.


.


__ADS_2