
Pagi yang cerah..
Didalam sebuah kosan yang hanya berukuran 3x3 meter seorang gadis sedang bersiap untuk memulai aktifitas hariannya.
Karena jam masuk kerja di restoran pukul setengah dua belas siang, maka paginya ia manfaatkan untuk melakukan pekerjaan lain yaitu mencuci dan setrika baju baju tetangganya.
Meskipun upah yang didapat tak seberpa, namun bagi Hanum itu cukup untuk tambah tambah dirinya membeli makan.
Saat ia membuka pintu matanya membulat sempurna kala melihat seseorang berbadan tegap berdiri didepan pintu kos nya.
"Maaf bapak siapa ya?" tanya Hanum hati hati.
Saat pria itu kembalikan tubuhnya, Hanum semakin terkejut
"Om David???" tanya Hanum
Namun sang mpunya nama hanya tersenyum ramah kepada dirinya
"Ada apa om pagi pagi kesini?? Dari mana tau alamat kos aku??" tanya Hanum heran.
"Kalau menemukan tempat tinggalmu itu hal mudah bagi saya, oiya saya kesini mau ngajak kamu sarapan bersama" ucap David.
"Emmmh maaf om, tapi aku harus kerja" ucap Hanum, menolak secara halus. Ia masih tidak mengerti kenapa David tiba tiba datang kesini lalu mengajak dirinya sarapan bersama. Bukankah ia juga memiliki keluarga.
"Katamu kerja direstoran masuknya siang" ucap David menaikan sebelah alisnya.
"Ii-iya memang kerja direstoran masuk siang om, tapi ini kerja tambahan. Hehe" ucap Hanum.
"Kerja apa??" ucap David penasaran
"Mencuci setrika baju tetangga" ucap Hanum dengan sengir kudanya
"Astaga, gadis ini sungguh pekerja keras" batin David
"Begini saja, kamu temani saya sarapan. Nanti upah kerja kamu pagi ini saya ganti dua kali lipat, gimana???" tawar David.
Mata Hanum membulat sempurna, ia memang bukan cewe matre. Tapi karena kepahitan hidup yang ia rasakan membuat dirinya selalu mengambil kesempatan apapapun itu asalkan menghasilkan uang, yang halal tentunya.
"Hhmmm" Hanum nampak berfikir
__ADS_1
"Gimana?? Tiga kali lipat saya kasih" tawar David lagi.
"Hmm gimana yah, sebenarnya aku gak enak sih sama customer customer aku, tapi karena om maksa. Ayok deh" ucap Hanum
"Customer kamu bilang, udah kaya apa aja" kekeh David.
Setelah mengunci kamar kosnya, Hanum pergi mengkuti David untuk sarapan bersama.
"Kebetulan aku belum sarapan, lumayan dapet makan gratis hehe" kekeh Hanum dalam hati.
***********
"Hay bunda, perkenalkan aku Tiara istrinya Devan anak bunda. Aku juga sedang mengandung cucu bunda loh" ucap Tiara seraya mengusap batu nisan bertuliskan nama "Elifia ayshe" itu.
Devan hanya tersenyum melihat keantusiasan sang istri, ia hanya bisa membayangkan jika saja bundanya masih ada pasti ia senang memiliki menantu seperti Tiara.
Setelah selesai melafazkan doa untuk sang bunda mereka pun memutuskan kembali kerumah. Karena Devan hari ini sengaja meliburkan diri dari pekerjaannya, karena ingin membuat kejutan untuk sang istri.
Saat tiba dihalaman rumah.
"Sayang, itu mobil siapa?? Sepertinya aku kenal" ucap Tiara kala mendapati mobil sedan berwarna silver terparkir dihalaman rumah mereka.
"Nanti juga kamu akan tau" ucap Devan.
"Ayaahh, ibuu, adek??" ucap Tiara terkejut saat mendapati keluarganya tengah duduk diruang tamu rumahnya.
"Aaaa Tiara kangen" ucap Tiara lalu memeluk keluarganya itu satu persatu.
Devan kemudian menyalami kedua mertuanya itu kemudian duduk disofa yang nampak masih kosong.
"Kata nak Devan kalian akan mengadakan tasyakuran empat bulan kehamilan kamu" ucap ayah.
"Benar yah, tapi Tiara gak nyangka kalau kalian akan datang" ucap Tiara antusias.
"Dek kakak kangen banget sama kamu, kemarin waktu kakak pulang kamu tidak ada" ucap Tiara memeluk sang adik, Susan.
"Iya kak, Susan juga kangen. Waktu itu kan Susan sedang magang, dan gak tau kalau kakak pulang" ucap Susan.
Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat kedua anaknya sedang melepas rindu.
__ADS_1
.
.
.
Acara tasyakuran empat bulanan itu pun berlangsung hari itu juga. Dihadiri para tetangga dan rekan kerja Devan yang berada disekitar perkebunan. Acara yang begitu sederhana namun khidmat, penuh dengan doa hingga acara itu selesai.
"Tiara sepertinya ayah dan ibu tidak bisa menginap" ucap ibu.
"Loh memangnya kenapa yah? Bu?" tanya Tiara
"Setelah nak Devan memberi tahu ayah, kalau rumah yang dulu ayah jual di Cibungur itu telah ia beli kembali atas nama kamu, rencananya ayah mau berkunjung kesana. Apa boleh Tiara" ucap sang ayah.
"Kenapa harus minta izin Tiara, tentu saja boleh ayah" ucap Tiara.
Devan dari tadi hanya menyimak obrolan keluarga istrinya itu.
Setelah beberapa saat mengobrol tentang keluarga mereka saat tinggal dikampung dulu. Ayah dan ibu berpamitan untuk pergi ke Cibungur karena takut kemalaman.
"Kamu yang benar kuliahnya dek, sebentar lagi wisuda" ucap Tiara.
"Pastinya dong!!!" jawab Susan dengan senyum merekah nya
"Hati hati yaa kalau gantian nyetir sama ayah, kakak titip ayah dan ibu sama kamu. Jaga kesehatan mereka" ucap Tiara
"Siap bos!" jawab sang adik.
Mobil ayah pun menjauh dari kediaman Devan dan Tiara. Pandangan Tiara masih fokus pada ujung jalan hilangga mobil sanga ayah menghilang.
Devan merangkul bahu istrinya.
"Saya ada perlu ke panti asuhan yang tidak jauh dari sini. Imut apa mau ikut aoa tetap di rumah?" tanya Devan.
"Aku mau ikut" ucap Tiara manja.
Mereka pun pergi ke panti asuhan yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumah.
Devan merupakan salah satu donatur tetap di panti asuhan Arrahman. Dan kebetulan hari ini ibu pengurus panti mengundang dirinya, karena ada musyawarah seluruh donatur tetap dipanti asuhan tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya yaa my readers