
"Panggil saya daddy!!!" Bisik David, membuat Hanum semakin meremang.
"Emhhh daddy.." Namun tiba tiba bayangan saat mereka dinikahkan paksa oleh warga berkelebat di kepala nya.
"Tidak! Ini tidak boleh diteruskan, ini hanya pernikahan siri yang belum jelas kedepannya, lagi pula om David tidak mencintaiku, kami menikah karena dipaksa warga" bisik batinnya.
Saat tangan David akan meraih benda kembar milik Hanum, dengan sigap Hanum langsung menepisnya.
Hingga David terpental ke samping nya, dengan nafas yang terengah engah.
"Babyy kamu kenapa???" ucap David dengan suara berat dan nafas yang belum beraturan.
"Om kita tidak boleh melewati batas!!" ucap Hanum memebetulkan penampilannya.
"Melewati batas bagaimana? Saya ini suami kamu" suara David meninggi.
"Iya suami aku!! Tapi kita hanya menikah siri, itupun karena terpaksa. Aku gak mau om menyerahkan tubuhku pada orang yang tidak mencintaiku" ucap Hanum tegas, kemudian beranjak dari posisinya. Ia pergi meninggalkan David yang diam mematung.
Hanum terududuk disofa yang berada di balkon kamar David. Pandangannya lurus ke depan, menatap bulan yang nampak bersinar sempurna.
"Hanum, saya minta maaf" ucap David duduk disamping Hanum.
"Om tak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena belum bisa menjalankan kewajibanku" ucap Hanum.
"Soal pernikahan kita.."
"Iya aku tau ko om, kita nikah karena terpaksa, jadi om tak perlu memintaku untuk tidak berharap pada pernikahan ini, tanpa om minta pun, aku akan melakukannya" cerocos Hanum
David memegang kedua pundak istri kecilnya itu, lalu menariknya perlahan agar Hanum menghadap pada ke arahnya.
"Hanum, sugar baby saya!! Dengar daddy mau bicara!!" ucap David dengan sorot mata yang begitu dalam, hingga terasa getarannya sampai ke hati sang istri.
"Asal kamu tau, saya sudah mengurus pernikahan kita secara resmi ke KUA, dan dua minggu lagi kita akan mengadakan pesta resepsi besar besaran, apa kamu masih menganggap saya tak serius dengan pernikahan ini? Hmm?" tanya David.
Hanum hanya membisu, entah harus sedih bahagia, atau yang lainnya Hanum tidak mengerti.
"Tapi om.."
"Panggil saya daddy" ucapnya serah menaikan sebelah alisnya.
"Dad gimana dengan kekasih om daddy?" ucap Hanum ragu.
"Kekasih???" tanya David tak mengerti.
__ADS_1
"Tadi siang saat aku membereskan barang barang ku di walk in closet, aku menemukan sebuah album yang berisi foto foto om bersama seorang wanita, apakah itu kekasih om?" ujar Hanum.
David tersenyum lembut, ia mengerti kegundahan didalam hati kecil Hanum.
"Itu Tiara, istrinya Devan" ucap David
Hanum semakin tak mengerti
"Istri Devan katanya, jelas jelas cowok difoto itu adalah dirinya" rutuk Hanum dalam hati.
"Dulu saya dan Tiara sudah akan menikah" ucap David, seraya menatap bintang bintang yang bertaburan di langit malam.
Hanum mulai serius menyimak ucapan sugar daddy nya itu.
"Namun semuanya gagal, karena saya dijebak oleh momy. Dan Tiara jadinya menikah dengan adik saya, Devano" ucap David melirik istrinya yang nampak terkejut.
"Dijebak mami? Ko bisa??" tanya Hanum penasaran.
"Momy tidak suka, karena Tiara hanya dari kalangan biasa, tapi itulah garis Tuhan. Ternyata Tiara adalah kekasih masa kecilnya Devan yang selama ini ia cari cari" jelas David.
"Wahhh berati mereka itu udah jodoh sejak kecil dong" ucap Hanum, matanya kini kembali berbinar.
"Iya, mereka jodoh sejak kecil, dan jodoh saya adalah anak kecil" ucap David smbil mencubit pucuk hidung Hanum sampai merah.
Sadar dengan ucapannya, Hanum refleks menutup mulutnya dengan tangan.
"Baby, ayok kita bikin bocil" ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aaaa tidakkk!!!" Hanum berlari kedalam kamar, dan David langsung mengejarnya.
"Kemari kamu, mau kemana huh!! Jangan menghindar lagi ya" ucap David yang kini sudah berhasil menangakap tubuh Hanum, kini Hanum berada diatas pangkuan David, dengan posesif David terus memeluk tubuh ramping sang istri agar tak bisa lepas lagi.
"Han.. Saya ini sudah dewasa, sudah pantas memiliki anak" Sebelum David melanjutkan ucapannya jari telunjuk Hanum sudah mendarat dibibirnya.
"Ssssttt" bisik Hanum.
"Ayok kita bikin" ucap Hanum sensual, membuat semangat David kian bergelora, ia langsung membaringkan tubuh istri kecilnya ke tempat tidur, baru saja akan memulai tiba tiba..
"Tapi tidak sekarang, soalnya aku sedang halangan" bisik Hanum
David tampak membulatkan kedua matanya, semangat gairahnya yang begitu membara seketika padam tanpa kepuasan.
Ia langsung melemah, dan membaringkan tubuhnya disebelah Hanum dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
"Tapi selain yang itu boleh kan?" Ucap David lemah.
"Boleh daddy" ucap Hanum seraya mencolek dagu suaminya.
Gairah David yang semula sempat padam, kini menyala kembali.
Ia langsung melahap bibir merah jambu Hanum dengan rakusnya. Karena sudah mendapat izin dari yang punya, tangan nakalnya mulai menelusup kedalam kaus kebesaran yang dikenakan Hanum.
Saat tangannya sudah menggapai tujuannya, David dibuat terkejut.
"Dibalik baju baju kebesaran yang sering kamu gunakan, ternyata ada sesuatu yang sangat besar disini. Bahkan tangan saya pun masih belum mampu menggengam keseluruhannya" bisik David ditelinga Hanum, membuat wajah si mpunya bak udang rebus karena malu.
"Ahh" lenguh Hanum saat David mulai mer*m*s benda besar miliknya dan bermain di pucuknya.
Setelah puas berci*m*n, David kini pindah ke bongkahan besar yang sejak tadi ia mainkan.
Ia langsung menghisap benda itu, seperti bayi yang kehausan.
"Om geli" ucap Hanum, tangannya meremas seprei karena tak kuat menahan perasaan aneh dalam tubuhnya.
Namun David tak menghiraukannya, ia terus melakukan kegiatannya yang baginya sangat memabukkan itu, sebelah ia his*p, sebelahnya ia mainkan dengan tangannya.
David menarik tubuh hanum agar posisinya menjadi miring, sehingga kini ia persis seperti seorang bayi yang sedang menyu*s* pada ibunya.
Perlahan mata David terpejam.
"Jangan dilepas, biarkan saja begini" ucapnya pada Hanum.
Mau tidak mau Hanum pun membiarkannya
Akhirnya mereka pun terlelap dengan posisi seperti itu sampai pagi.
.
.
.
Bersambung..
.
.
__ADS_1
.