
"Yukas, inilah yang baba tak suka dari kamu! Selalu mengedepankan emosi" ucap tuan Erdan dengan penuh tekanan, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Yukas dan juga Alena. Karena Lifia lebih dulu pergi untuk mengejar kepergian putranya.
"Papa! Hanya Ale cucu opa satu satunya kan pa, pokonya Ale gak rela kalau opa punya cucu yang lain" rengek Alena pada sang ayah.
"Kamu tenang aja Alena, papa tidak akan tinggal diam" ujar Yukas dengan seringai liciknya.
"Apa yang kalian rencanakan pada anakku??" ujar Lifia, setelah gagal mengejar Devan ia pun masuk kembali kedalam rumah dengan hati yang kecewa.
"Itu bukan urusanmu" ucap Yukas.
"Tentu saja urusanku! Devan adalah putraku satu satunya" ucap Lifia dengan lantang.
"Tante kami tidak percaya!! orang seperti tante ini pasti menggunakan segala cara kan agar aku tidak menjadi pewaris tunggal kekuasaan opa" ucap Alena
"Yukas, Alena! kalian itu sudah dibutakan oleh keserakahan!!" ucap Lifia dengan air mata yang berderai.
"Selama ini aku sudah mengalah padamu kak! Bahkan aku meminta agar baba menghapus namaku dari daftar hak waris supaya seluruh harta baba jatuh ke tanganmu" ucap Lifia melangkah mendekat ke arah Yukas dan Alena.
"Karena aku tak butuh itu! Bagiku, semua penginggalan dari mendiang suamiku sudah lebih dari cukup untukku dan putraku!!! Aku sengaja membawanya kesini agar baba tau jika aku memiliki putra, itu saja. Tidak ada niat lain sedikit pun! Kalau kalian takut kekuasaan baba akan jatuh ke tangan Devan? jangan khawatir, karena kekuasaan putraku jauh lebih besar daripada kekuasaan baba!" ujar Lifia kemudian pergi meninggalkan dua orang yang memiliki hati yang buruk itu.
Yukas hanya diam mematung.
"Papa ko diam aja sih?? Kenapa tidak membalas ucapan tante mand*l itu??" ujar Alena merasa geram.
Namun tetap tak ada jawaban dari Yukas yang nampak sedang berfikir keras.
Karena merasa sebal terabaikan, Alena pun melangkah pergi dari sang ayah dengan menghentakkan kakinya.
"Apa benar yang Elif bilang, jika dia sudah meminta baba untuk menghapus namanya dari hak waris?" ucapnya dalam hati dengan seringaian licik diwajahnya.
__ADS_1
"Lalu apa lagi tadi? Kekuasaan putranya lebih besar dibanding baba? Aku harus selidiki ini, siapa sebenarnya putra Elif ini" ujar Yukas yang sejak tadi sibuk dengan fikirinnya sendiri.
**#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#**
Sementara itu.
Setelah sedikit menjauh dari manssion tuan Erdan, Devan menghentikkan laju mobilnya. Memberikan air mineral pada sang istri yang saat itu masih lemas akibat rasa terkejutnya.
"Imut sayang, kamu tidak apa apa?" tanya Devan khawatir kemudian merengkuh tubuh Tiara kedalam pelukannya.
"Aku tak apa sayang, tadi hanya kaget saja" ucap Tiara membalas pelukan Devan
"Baby kita gimana? Apa dia merasakan yang kamu rasakan juga" ucap Devan dengan suara yang pelan namun sangat nyaman ditelinga Tiara.
"Dia baik baik saja sayang, mungkin pas kejadian tadi ia sedang tidur makanya tak terganggu sedikit pun" kekeh Tiara.
Mendengar istrinya sudah dapat tertawa dan ceria kembali, Devan pun merasa lega.
"Lanjutkan saja sayang, tapi kita makan dulu ya baby kita udah kelaparan nih" ucap Tiara dengan wajah yang menggemaskan.
"Ok baiklah, mau makan apa anak papa?" tanya Devan kemudian melanjutkan kemudi mobilnya.
"Makanan khas daerah sini yang enak dimana sayang?" tanya Tiara.
Sebenarnya Devan tidak tahu, karena dia belum pernah merasakan semua tempat makanan khas di daerah itu. Namun ia ingat, tempat ia pertama kali meeting dengan tuan Erdan disalah satu tempat makan khas daerah B ini, rasanya tak terlalu buruk dan juga tempatnya yang nyaman karena berada di pinggir danau.
"Tiara pasti senang" ucap Devan dalam hati.
"Ada, tidak jauh dari sini kok bumil imut" ucap Devan mencubit sebelah pipi gembul milik Tiara.
__ADS_1
Sedangkan yang punya pipi hanya mendengus manja karena merasa paams disebelah pipinya.
"Iih sayang" ucap Tiara memonyongkan bibirnya
"Biasa aja bibirnya, nanti saya lahap gak lepas ntar" ucap Devan acuh.
"Ihhh, baby liat tuh papa kamu nyebelin deh" ucap Tiara pada perutnya yang menonjol.
Devan hanya terkekeh melihat tingkah lucu Tiara yang mengadu pada anaknya yang masih didalam perut.
Memang hanya Tiara yang mampu mengendalikan perasaan Devan menjadi baik baik saja seakan lupa dengan masalah yang baru saja menguras emosinya, karena kini keduanya tengah tersenyum bahagia satu sama lain.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Biar author tambah semangat lagi buat up...
...Terimakasih :)...
__ADS_1
.