My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.94 Tes


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar rawat tuan Erdan , Tiara memilih duduk dibangku yang berada di taman depan kamar rawat disusul Lifia yang berjalan dibelakang mereka.


"Imut, tadi katanya lapar banget tapi kenapa malah duduk disini" ucap Devan mengerutkan dahinya heran.


"Ihh sayang kamu ini gak peka banget deh, nenek sama opa itu butuh ruang untuk mereka bicara berdua. Iya kan bun?" ujar Tiara meminta persetujuan pada Lifia.


"Benar nak, sepertinya bu Mawar dengan baba sudah saling mengenal sebelumnya" jelas Lifia, dan akhirnya Devan pun mengerti.


***


"Mawar, kau kah itu?" ucap tuan Erdan.


"Iya, ini saya Mawar Kesuma" ucap Nek Mawar.


"Tak disangka, kita bertemu kembali disaat kita sudah sama sama renta" ucap tuan Erdan tersenyum getir.


"Er apa kabar Sinta?" tanya nek Mawar.


"Dia sudah tiada, setelah melahirkan putri kami yang sangat cantik Elifia Ayshe, Sinta menjadi sakit sakitan dan saat Elif berusia sepuluh tahun Sinta menghembuskan nafas terakhirnya" ujar tuan Erdan, sedikit menolehkan wajahnya pada lawan bicara.


Mendengar ucapan tuan Erdan tentang putrinya, mengingatkan nek Mawar pada kejadian dimasa lalu. Saat putra satu satunya Dani Mahendra menyakiti dua wanita sekaligus. Salah satunya yaitu putri kesayangan tuan Erdan.


"Er saya atas nama Dani meminta maaf atas segala sikapnya telah menyakiti putrimu. Saya sungguh tidak tau jika Dani ternyata tega menikahi wanita lain tanpa sepengatahuan saya dan istrinya" ucap nek Mawar dengan penuh sesal.


"Memang sudah jalan takdirnya begitu, kita gagal menjodohkan anak kita karena anak pertama saya laki laki dan begitupun anakmu, rupanya semesta berkata lain. Selang beberapa tahun, saya memiliki anak perempuan. Tanpa kita lakukan perjodohan pun mereka akhirnya menikah hingga lahirlah cucu kita yang gagah nan tampan, Devano." ujar tuan Erdan, seulas senyum terbit di bibirnya.


"Mawar, saya bahagia sekali bisa bertemu dengan sahabat saat muda dulu disaat sudah tak lagi muda begini" ucap tuan Erdan kemudian berhambur memeluk wanita tua berkacamata dihadapannya.


"Saya juga tidak menyangka Er, rupanya kita ini besan" ucap Mawar.


"Sudah sudah jangan berpelukan begini, malu sama umur. Sebentar lagi kita punya cicit loh" ucap nek Mawar melerai pelukan tuan Erdan.


"Kamu benar.!" ucap tuan Erdan menghapus air yang mengembun disudut matanya.


Tuan Erdan terharu karena bisa bertemu dengan sahabat dekatnya saat muda dulu. Saking dekatnya mereka sudah bagaikan saudara.


Erdan, Mawar, dan Sinta merupakan tiga serangkai di salah satu kampus ternama di kota A. Erdan yang saat itu tak memiliki teman, karena para mahasiswa saat itu merasa minder dengan wajah tampan Erdan yang merupakan asli orang Turki.


Sehingga ia lebih dekat dengan Mawar dan Sinta yang memang satu kelas dengannya.

__ADS_1


Karena Erdan dan Sinta saling mencintai, setelah lulus kuliah mereka pun akhirnya menikah. Dan untuk memepererat kembali tali persahabatan, mereka membuat kesepakatan untuk menjodohkan anak anaknya kelak. Namun sayang anak mereka sama sama terlahir berjenis kelamin laki laki, yakni Yukas Mehmed dan Dani Mahendra.


Dikarenakan suami Mawar orang yang sangat pencemburu, ia selalu protes dan marah jika Mawar terlalu dekat dengan Erdan. Padahal setiap mereka berkumpul pun selalu membawa pasangan masing masing.


Karena hal itulah Mawar memilih menjauh dari kedua sahabatnya demi keutuhan rumah tangganya. Erdan dan Sinta pun memahami itu, dan mereka pun memutuskan untuk menetap di Negara kelahiran Erdan yaitu Turki beberapa tahun. Sehingga komunikasi diantara mereka pun semakin jauh.


"Saya juga minta maaf atas sikap mas Andra dulu Er, karenanya hubungan persahabatan kita jadi putus" ucap nek Mawar dengan wajah penuh sesal.


"Tidak mengapa Mawar, waktu itu kami faham ko dengan posisi kamu. Dan syukurlah, kini kita dipertemukan kembali melalui cucu kita" ucap tuan Erdan tersenyum tenang, begitupun nek Mawar.


"Ekhemm..! maaf ganggu, baba itu ada dokter untuk memeriksa kembali keadaan baba untuk memastikan apakah baba sudah bisa pulang atau belum" ucap Lifia yang hanya menampakan kepalanya saja dibalik pintu.


Kedua orang tua itu pun terkekeh.


"Sudah selesai ko, persilahkan dokternya masuk" ucap tuan Erdan kemudian kembali ke pembaringannya untuk diperiksa kembali oleh dokter.


*****


Dikediaman Mahendra.


Setelah menyelesaikan makan siang yang terlambat, David memutuskan untuk tidak kembali ke kantor.


"Tidak babby..!! Tidak tau kenapa saya ingin terus berada didekat kamu" ucap David kemudian menarik tubuh Hanum agar duduk di pangkuannya.


"Apa sih dadd lebay banget deh!" ucap Hanum memonyongkan bibirnya.


"Serius sayang, kamu makin berisi aja deh sekarang. Tambah seksi" ucap David kemudian mengecup pucuk kepala istri kecilnya.


"Dasar raja gombal..!!!" ucap Hanum mendelikkan kedua bola matanya.


"Emm babby, tadi dibawah saya sedikit mengobrol dengan mommy" ucap David.


"Pasti nyonya mami menanyakan apakah aku udah hamil atau belum kan?" ujar Hanum, wajahnya kembali murung.


"Benar, mommy juga bertanya tentang siklus haid kamu. Dan selama kita menikah hampir dua bulan, saya tidak pernah mendapati kamu halangan babby" jelas David, masih dengan memeluk tubuh istrinya.


"Dadd.! itu karena haidku tidak teratur, saat sekolah dulu juga sering ko telat telat kaya gini" bantah Hanum.


"Tapi babby gak ada salahnya kan kita tes" ucap David hati hati, khawatir istri kecilnya itu akan tersinggung.

__ADS_1


"Aku gak mau dad" ucap Hanum pelan, kemudian bangkit dari pangkuan sang suami.


"Kenapa sayang???" David menarik kembali tubuh Hanum dan kini sudah kembali mendarat di pangkuannya.


"Aku takut mengecewakan daddy, kalau hasilnya tidak sesuai keinginan" ucap Hanum menatap dalam mata David.


"Babby sayang, saya janji apa pun hasilnya saya pasti akan terima. Kalau pun masih belum rezeki, kita kan masih bisa coba lagi. Kita bikin lebih giat lagi" ucap David dengan sengaja menggigit gigit kecil telinga Hanum, membuat sang mpunya telinga merinding kegelian.


"Dad..."


"Percaya pada saya..!! Ini" ucap David seraya memberikan bungkusan kecil berisi alat tes kehamilan.


"Daddy, kamu sudah mempersiapkan ini???" tanya Hanum.


"Tidak, ini mommy yang memberikan" jawab David kemudian mengecup bibir Hanum sekilas, sebelum akhirnya Hanum turun dari pangkuannya untuk menggunakan alat itu.


.


.


Bersambung..


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Yang belum membiru kan gambar hati, jangan lupa di pencet gambar hatinya yaa zheyenk....


...Kalau yang udah, plisss jangan di batalin....


...TERIMAKASIH :)...


.


.

__ADS_1


__ADS_2