
"Devano Mahendra, sejak pertama kita bertemu saya sudah menyangka jika kamu adalah putra dari Elifia, ditambah nama belakangmu adalah Mahendra. Dan setelah saya telusuri perusahaan milikmu memang benar, kamu memang putra kedua Dani Mahendra tapi dari perempuan yang berbeda" ucap tuan Erdan.
"Opa Itu tidak mungkin!! Tente Elif kan m*ndul mana mungkin dia memiliki putra" sanggah Alena tak sepakat dengan ucapan sang kakek.
Elifia hanya membuang nafas dengan kasar, karena percuma saja ia menjelaskan apa pun pada Alena ia tidak akan percaya.
Namun tuan Erdan nampak tak perduli dengan ucapan tak penting dari cucu perempuannya itu.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" ujar Lifia tak percaya, ia fikir ini adalah untuk pertama kalinya baba nya bertemu dengan Devan ternyata bukan.
"Devano Mahendra ini pengusaha muda yang terkenal didunia bisnis pertanian dan perkebunan, mana mungkin baba tidak mengenalnya, bahkan beberapa restoran milik baba pemasok sayur dan buah buahan itu dari perusahaan milik Devan" ujar tuan Erdan.
Lifia nampak tak percaya tapi dalam hatinya lega karena baba nya sudah mengetahui performa Devan dalam pekerjaannya.
Lain lagi dengan Alena, ia tak terima jika opanya memiliki cucu yang lain apa lagi laki laki, akan gagal impiannya menjadi pewaris tunggal kekayaan sang kakek.
Sementara itu baik Devan maupun Tiara hanya diam dengan wajah yang tenang menunggu giliran mereka untuk berbicara.
"Opa! Opa jangan percaya begitu saja, bisa saja mereka bersekongkol untuk mengelabuhi opa dan ingin memanfaatkan harta kekayaan opa" ujar Alena sarkas.
"Alena, coba kau lihat baik baik wajah Devan begitu mirip dengan tentemu Elifia, dan jika dibanding dengan dirimu Devan malah lebih banyak memiliki kesamaan dengan opa" jelas tuan Erdan dengan tenang.
"Maaf ya nona, suami saya tidak perlu mengelabuhi siapa pun untuk mendapatkan harta, harta yang kami miliki saat ini sudah lebih dari cukup! Untuk apa banyak harta tapi tidak punya hati dan hanya digunakan untuk kesombongan" ucap Tiara geram, ia tak tahan karena sejak tadi suaminya terus terusan dipojokan dan dihina oleh Alena.
Semua mata tertuju pada Tiara menatap takub atas pembelaan untuk sang suami yang telah dilakukannya, namun Alena hanya berdecih sebal.
Dengan lembut Devan langsung merangkul sang istri.
"Tuan Erdan, perkenalkan ini istri saya namanya Mutiara" ucap Devan dengan wajah dinginnya.
Jujur saja, Devan belum bisa merasakan kenyamanan dirumah mewah yang sedang ia singgahi sekarang ini meskipun pemiliknya adalah kakeknya sendiri.
"Sayang jangan panggil tuan, panggil saja opa" ucap Lifia lembut.
__ADS_1
Tak ada respon apa pun dari Devan, ia masih bertahan dengan wajah datarnya. Hanya Tiara saja yang menanggapi dengan senyuman dan menganggukan kepalanya.
"Hay Tiara, apa kamu sedang mengandung?" tanya tuan Erdan.
"Benar opa, Tiara sedang mengandung" ucap Tiara dengan senyum hangatnya.
"Alhamdulillah, kebahagiaan saya bertambah dua. Selain mendapatkan cucu laki laki ternyata saya juga akan mempunyai cicit" ucap tuan Erdan.
Lifia dan Tiara hanya tersenyum hangat.
Beda dengan Alena, rasanya ia semakin panas saja berada diantara mereka.
Dengan perasaan sebal yang memuncak Alena pun meninggalkan ruang tamu.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus beri tau papa dan mama" ujar Alena dalam hati, ia pun bergegas masuk kedalam kamarnya.
"Tiara, Devan maafkan ucapan Alena ya. Bunda sendiri tidak mengerti kenapa anak itu ucapanya selalu membuat orang lain sakit hati" ujar Lifia.
Namun, baru saja dua langkah Alena meninggalkan posisinya ia mendengar suara yang sangat familiar baginya, membuat ia mengurungkan langkahnya dan terbitlah seringai licik diwajahnya.
"Oh kebetulan kau kembali Yukas, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya tuan Erdan.
"Sudah, mereka berdua itu siapa ba?" tanya Yukas pandangan matanya mengarah ke Tiara dan Devan.
Namun tepat saat memandang Devan, tatapan mereka beradu.
"Astaga!! Kenapa sorot matanya sama persis dengan baba! Dan wajahnya sekilas mirip dengan Elif" ujar Yukas dalam hati, perasaannya mulai tak karuan.
Devan yang merasa sedang ditatap oleh Yukas, dengan sengaja membalas dengan sorot mata tajam dan dingin miliknya.
"Yukas, perkenalkan namanya Devano Mahendra, dia keponakanmu. Putra dari Elifia dan mantan suaminya yang pertama Dani Mahendra" ujar tuan Erdan.
Dua bola mata Yukas langsung membulat sempurna.
__ADS_1
"Papa, Ale aja aneh kenapa opa gampang sekali dihasut oleh orang orang miskin ini" ucap Alena kepada sang ayah yang terlihat tak percaya dengan ucapan tuan Erdan.
"Omong kosong apa ini ba?" ujar Yukas tak terima.
"Baba hanya memiliki satu cucu, yaitu Alena" ujar Yukas dengan suara yang menggelegar.
Membuat tubuh Tiara bergetar begitu hebat, Devan yang peka terhadap apa yang dirasakan istrinya langsung membopong tubuh Tiara dan memutuskan keluar dari rumah itu.
"Sejak saya mengetahui jika tuan Erdan adalah kakek saya, saya tidak butuh pengakuan! Karena sedari awal pun tanpa adanya kalian, hidup saya sudah bahagia dan cukup dari segi apa pun! Jika kalian tidak berkenan kehadiran saya dan istri saya disini, tak perlu berteriak! Dengan senang hati saya akan pergi, permisi" ucap Devan dengan gigi yang nggeretak dan rahang yang mengeras karena menahan emosi.
Devan merasa harga dirinya terluka dengan penolakkan dan tuduhan yang ditujukkan pada dirinya. Jika bukan karena bundanya, ia sendiri tak ingin berhubungan dengan keluarga kakeknya itu.
Karena tubuh Tiara yang masih bergetar, Devan langsung menggendongnya. Dan melangkah meninggalkan manssion mewah milik tuan Erdan.
"Devan, bunda bisa jelaskan semuanya nak. Tunggu jangan pergi dulu!!" teriak Elifia seraya mengejar langkah lebar Devan menuju mobilnya.
Namun terlambat, mobil Devan telah melaju dengan cepat menjauh dari rumah yang baginya hanya mengundang emosi saja.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Agar author tambah semangat lagi buat up...
__ADS_1
...Terimakasih :)...
.