
"Hayy, Assalamualaikum nak Tiara" ucap seorang perempuan yang mengagetkan Tiara.
"Walaikumsalam, tante Lifia???" ucap Tiara, matanya membulat sempurna. Ia tak menyangka orang yang dihadapannya saat ini adalah wanita cantik yang ia temui di panti waktu itu.
Lifia hanya tersenyum hangat pada Tiara.
"Tante ko bisa tau rumah Tiara?" tanya Tiara yang kemudian mengajak Lifia masuk kedalam rumahnya.
"Kebetulan tante lewat sini tadi, eh liat kamu lagi siram tanaman. Yaudah tante mampir deh, lagipula tante juga kangen sama kamu" ucap Lifia.
Melihat sorot mata yang tulus dari lawan bicaranya, membuat hati Tiara menghangat.
"Iya tan, Tiara juga kangen sama tante. Waktu itu kita belum sempat tukar nomer telfon kan. Tunggu sebentar yaa Tiara ambilkan minum dulu" ucap Tiara kemudian pergi menuju dapur.
"Rumah ini sudah banyak yang berubah" ucap Lifia dalam hati, kedua matanya mengedar menelusuri setiap sudut ruangan.
Tak lama Tiara pun kembali dengan membawa dua gelas minuman dan makanan makanan ringan lainnya.
"Ayok diminum tante" ucap Tiara kemudian duduk disofa yang bersebrangan dengan Lifia.
"Terimakasih nak. Kalo boleh tau kamu disini tinggal sama siapa nak??" tanya Lifia memulai mengorek informasi tentang putranya.
"Aku cuma berdua sama suami aku tante, tapi kalau siang ada asisten buat bantuin aku beres beres hanya saja hari ini ia sedang menghadiri pesta keluarganya" jelas Tiara dengan mata yang berbinar.
"Emm Tiara apa suamimu Devano Mahendra" tanya Lifia bibirnya sedikit bergetar.
"Benar tante!! Ko tante tau??"
Degg!!!!
Lifia menegang, jadi benar pria gagah yang ia lihat tadi pagi merupakan putranya yang ia tinggal kan dulu saat usianya baru tiga hari.
"Oh itu, kemarin tante lihat list nama nama donatur di panti, dan salah satunya ada nama suami kamu. Yang kebetulan saat musyawarah itu cuma ia yang tidak hadir" kilah Lifia, padahal sejujurnya ia tidak mengetahui sama sekali bahwa ternyata Devan juga merupakan salah satu donatur di panti asuhan itu.
Tiara hanya mengangguki ucapan Lifia.
"Jadi kamu menantu ku nak, syukurlah putraku mendapatkan istri yang cantik dan baik seperti dirimu Tiara" batin Lifia, matanya mulai berkaca kaca.
"Tante, tante gak apa apa?" tanya Tiara khawatir melihat wajah sang mertua yang berubah sendu.
"Tidak apa apa nak" jawab Lifia.
Obrolan mereka pun berlangsung seru, Tiara menceritakan bagaimana perjalanan kisah cinta nya dengan Devan, dari mereka kecil hingga kejadian dihari pernikahan saat Devan menjadi pengantin pria pengganti untuknya.
"Kamu beruntung nak, suami kamu setia mencintaimu dari semenjak kalian kecil, dan Allah merestui hubungan kalian hingga saat kalian dewasa kalian dapat bersatu kembali" ucap Lifia.
"Iya tante, aku beruntung sekali mendapatkan Devan" ucap Tiara bangga.
__ADS_1
"Emm Tiara sepertinya tante harus segera pulang" ucap Lifia yang sedang bersiap untuk pulang.
"Ko buru buru tante, sebentar lagi suami aku kayanya pulang deh. Apa tante gak mau kenalan dulu" ucap Tiara.
"Tidak nak, lain kali saja ya. Tante pasti main lagi ko kesini. Jaga baik baik kandungan kamu ya nak" ucap Lifia kemudian keluar dari rumah yang menyimpan banyak kenangan baginya itu.
Tiara mengantar Lifia hingga ia memasuki mobilnya.
"Mobilnya mirip sama mobil yang waktu itu berhenti didepan rumah" ucap Tiara sekenanya, dan memilih untuk tak memikirkan lebih jauh.
Ia kembali masuk kedalam rumah berniat untuk membereskan gelas minuman bekas ia dan tamunya tadi.
"Imut, tadi siapa yang datang" kata suara yang baru saja memasuki rumah.
"Sayang kamu udah pulang?" jawab Tiara kemudian menyalami tangan suaminya.
"Imut jawab" tanya Devan tak sabar.
"Tadi ada tante Lifia mampir kesini sayang" ucap Tiara dengan mata yang berbinar dan senyum yang mengembang.
"Tante Lifia???" ucap Devan seraya mengernyitkan dahinya.
"Ituloh sayang yang waktu itu ketemu di panti, yang wajahnya cantik kaya orang Turki" ucap Tiara antusias.
Sebenarnya Devan tahu jika Lifia itu wanita berhijab yang berbincang dengan istrinya di panti waktu itu. Hanya saja yang membuat dia heran, kenapa Tiara seantusias dan sebahagia itu setelah bertemu dengannya.
"Aneh!!" batin Devan
"Ahh iya, kamu masak apa imut?" tanya Devan yang kini sedang duduk memangku wanita kesayangannya.
"Sayang aku belum masak, bi Esih hari ini libur jadi dak ada yang belanja ke pasar" ucap Tiara menatap mata suaminya lekat.
"Yasudah kita makan diluar aja" ucap Devan sesekali mencium pipi gembul sang istri.
***********
Keesokan pagi nya Devan kembali mendapati mobil yang sama terparkir tak jauh dari rumahnya.
"Semoga saja bukan sesuatu yang buruk" batin Devan.
Ia terus melajukan sepeda motor nya, hari ini ia menggunakan sepeda motor karena akan melakukan monitoring ke area perkebunan teh miliknya, meskipun jalannya sudah bagus. Baginya lebih seru menggunakan motor.
Dari dalam mobil seulas senyuman terpancar setelah melihat kepergian Devan dengan sepeda motor nya.
"Kamu gagah sekali nak, ingin sekali rasanya bunda memelukmu" ucap Lifia dalam hati.
Ia pun keluar dari dalam mobilnya membawa berbagai bingkisan untuk Tiara, dari pakaian hingga makanan sengaja ia belikan untuk menantunya itu.
__ADS_1
Dengan senyum yang mengembang Lifia melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah Devan.
Toktoktok
"Assalamu'alaikum"
Tak lama pintu terbuka.
"Tante???" ucap Tiara dengan mata yang berbinar.
Tiara sendiri merasa aneh pada dirinya, padahal biasanya ia sangat sulit untuk beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya. Namun dengan Lifia, dari semenjak bertemu ia merasakan sesuatu yang berbeda, rasanya seperti ia sedang bersama Devan, nyaman dan menyenangkan.
Lifia hanya tersenyum melihat wajah ceria sang menantu.
"Ayok tante masuk, wah baru saja kak Vano berangkat. Coba tante datangnya dari tadi biar Tiara kenalkan ke kak Vano suami Tiara" ucap Tiara
"Tidak apa apa nak, lain kali saja" ucap Lifia lembut.
"Oiya, ini tante bawakan sesuatu buat kamu" Lifia menyerahkan beberapa bag paper pada sang menantu.
"Wah tante gak usah repot repot, tante sudah datang kemari saja Tiara udah senang ko, emm tapi makasih loh tan" ucap Tiara.
"Sama sama nak" balas Lifia.
Sedang asik mengobrol tiba tiba seseorang masuk dari pintu utama.
"Non ini bibi bawakan getuk singkong pesanan non" ucap bi Esih, namun suaranya melemah kala tatapan matanya bersibobrok dengan tatapan mata yang sangat ia kenal.
Tiba tiba plastik yang ia bawa terjatuh ke lantai.
Begitu pun yang Lifia, tubuhnya menegang dan matanya mulai mengembun.
"Bi Esih..." ucap Lifia pelan.
"Nyonya..." entah mengapa bi Esih merasakan lututnya melemas, entah ini nyata atau hanya mimpi.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan Like, masukan ke daftar favorit kalian, kasih author hadiah, dan jangan lupa di vote yaa biar author tambah semangat lagi up nya. 😊
.
__ADS_1
.
TERIMAKSIH