My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.51 Kecelakaan Tunggal


__ADS_3

"Jadi mas Dani sudah meninggal?" ucap Lifia yang terkejut dengan pernyataan bi Esih.


"Benar bunda, papa sudah meninggal sepuluh tahun lalu karena kecelakaan" jawab Devan.


"Sepuluh tahun lalu??" ujar Lifia masih dengan wajah terkejut.


"Iya, memangnya kenapa? Apa bunda mengetahui sesuatu" tanya Devan penasaran dengan ekspresi wajah sang ibunda.


"Sepuluh tahun yang lalu, bunda sempat bertemu dengan papamu nak" ucap Lifia lemah.


Flashback on


"Agenda kita hari ini diawali dengan meeting dari perusahan MRc group" ucap Lifia pada suaminya, selain menjadi seorang istri ia juga merangkap menjadi sekretaris sang suami, tuan Khalid.


"Oke, kamu siapkan saja semuanya" ucap tuan Khalid.


Lifia dan tuan Khalid tehitung sudah tiga tahun berumah tangga. Mereka menikah karena dijodohkan oleh orangtua Lifia.


Mereka terpaksa menjodohkan anak perempuan satu satunya itu. Karena trauma yang dialaminya, membuat ia susah untuk berinteraksi dengan laki laki. Namun karena kedewasaan yang dimiliki tuan Khalid, mampu meluluhkan hati Lifia yang selama ini membeku. Meskipun terpaut usia yang cukup jauh namun keduanya nampak selalu harmonis dan romantis.


Karena trauma pernah dikhianati pula, Lifia menerima dengan ikhlas kekurangan tuan Khalid yaitu tidak bisa memiliki keturuanan, baginya yang penting suaminya itu setia dan sayang dengan tulus pada dirinya.


Saatnya meeting dengan perusahaan MRc group pun telah tiba. Lifia tidak mengetahui jika pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan suaminya itu adalah Dani Mahendra, sang mantan suami.


Kini Lifia dan tuan Khalid telah sampai disebuah restoran dengan privat room yang sudah mereka booking sebelumnya.


Tak lama pintu terbuka, muculah dua orang laki laki yang salah satunya sangat Lifia kenali. Laki laki yang ka tinggalkan tujuh belas tahun yang lalu.


Tak hanya dirinya, laki laki itu pun sama terkejutnya.


"Selamat pagi Mr.Dani Mahendra" ucap tuan Khalid pada sang client.


Dani pun tersadar dari lamunannya, pandangannya sesekali mengarah pada wanita berhijab disebelah clientnya itu. Wajahnya sangat mengingatkan ia pada mendiang istrinya.


"Hay tuan Khalid" jawab Dani seraya menyalami clientnya itu.


"Perkenalkan ini Mahdi sekretaris saya" ucap Dani mengenalkan pria disebelahnya, ia berharap jika clientnya juga akan memperkenalkan satu satunya wanita yang berada ditengah mereka itu.


"Oh ini perkenalkan Namanya Elifia Ayshe Khalid" dia istri sekaligus sekretaris saya.


Degg!!!


Entah dapat serangan dari mana, hati Dani serasa dihujam ribuan pisau. Tidak hanya wajah yang mirip, tetapi juga namanya.


"Hay, salam kenal" ucap Lifia berpura pura seolah tidak mengenal client suaminya itu.


Setelahnya, perbincangan mengenai bisnis itu pun berlanjut. Namun karena mereka berbeda pendapat dengan hasil pembicaraan, kerja sama pun batal.

__ADS_1


Keduanya tidak ada yang merasa kecewa, karena berlanjut atau tidaknya kerja sama dalam dunia bisnis itu hal biasa.


Setelah meeting selesai, Dani dengan sang asisten pun pamit pulang.


Begitu pun Lifia dan tuan Khalid, mereka turut meninggalkan restoran tersebut.


Itulah pertama dan terakhir kalinya Lifia melihat Dani setelah perpisahan mereka tujuh belas tahun lalu.


.


.


Setelah selesai melakukan pertemuan yang berada dikota S, Dani pun pulang sendirian ke kota asalnya.


Karena Mahdi sang asisten memilih izin untuk menengok ibunya, karena kebetulan ibu Mahdi juga berada didaerah itu.


Fikirannya terus di bayang bayangi oleh istri mudanya Elif, apalagi baru saja ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan mendiang istrinya, perasaan bersalah dan penyesalan yang selama ini ia rasakan seolah menghembusnya seperti badai yang menerjang kewarasannya.


Membuat ia tidak fokus mengemudi, sehingga terjadilah kecelakaan tunggal yang membuat dirinya tewas ditempat.


Dalam hembusan terkahirnya ia sempat mengungkapkan permintaan maaf pada sang anak yang selama ini kekurangan kasih sayang darinya.


"Devan maafkan papa" ucapnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.


Flashback off


"Papa kecelakaan saat akan pulang dari kota S" lanjut Devan.


"Mungkin bun, tapi sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu" ucap Devan.


Kini mereka tersenyum bersama, ada kesejukan dihati masing masing. Rasanya kebahagiaan Devan sudah lengkap, selain imutnya yang kembali padanya juga sang ibunda. Ditambah tinggal beberapa bulan lagi sang buah hati akan lahir ke dunia.


Mungkin benar apa yang dibilang kebanyakan orang "Akan indah pada waktunya".


Itulah yang Devan rasakan, jika dulu ia selalu merasakan kepahitan karena tak mendapat kasih sayang dari orang yang ia sayangi. Kini orang orang yang selalu ia pinta dalam doa, saat ini sudah berada dalam pelukannya.


"Awwwhh" ringis Tiara memegang perutnya.


Membuat semua orang yang berada diruangan itu panik.


"Imut kamu kenapa sayang" ucap Devan denga raut wajah paniknya.


"Sayang anak kita menendang nendang" ucap Tiara sumringah melunturkan kepanikan yang telah tercipta.


"Alhamdulillah anak papa sudah mulai aktif"ucap Devan mengelus perut sang istri kemudian mengecup keningnya.


"Bunda senang sekali melihat kalian bahagia seperti ini" ucap Elifia.

__ADS_1


Devan dan Tiara hanya tersenyum


"Emm, permisi den, non, nyonya. Bibi mau ke belakang dulu. Mau masak sebentar lagi waktunya makan siang" ucap bi Esih.


"Tidak perlu bi, saya akan membawa anak dan menantu saya makan dikediaman saya yang tak jauh dari sini. Kalian mau kan?" tanya Elifia pada Devan dan Tiara.


Keduanya mengganukan kepala, seakan setuju.


"Bibi hari ini istirahat aja, atau kalau mau bibi boleh pulang cepat" ucap Tiara pada sang asisten.


"Beneran non? Yaudah bibi pulang aja deh minta anterin sama si Asep kebetulan ini lutut bibi masih lemes" ucap bi Esih. Kemudian pergi kebelakang untuk minta tolong si Asep sang tukang kebun untuk mengantarnya pulang menggunakan sepeda motor.


****************************************


"Selamat datang dikediaman bunda nak" ucap Lifia dengan senyum sumringah, karena berhasil membawa sang putra ke kediamannya.


Hal yang selalu ia angankan sejak dulu, sayangnya ia telah melewatkan banyak moment pertumbuhan sang anak semata wayangnya itu.


Setelah selesai makan siang, mereka bercerita banyak. Karena Lifia sangat penasaran kehidupan seperti apa yang dijalani putranya waktu kecil, ia pun banyak bertanya tentang itu.


Devan hanya menceritakan secara garis besarnya saja. Jika ia dibesarkan oleh pengasuh yang dibayar papanya, dan hanya dari pengasuhnya lah Devan mendapat kasih sayang yang tulus.


"Devan sekali lagi maafkan bunda ya, akibat keegoisan bunda kamu harus merasakan itu semua" Ucap Lifia penuh sesal setelah mendengar cerita sang anak.


"Tidak apa apa bunda, jika Devan tidak mengalami semua itu, mungkin saja ia tidak akan menjadi pria hebat seperti sekarang" ucap Tiara seraya mengusap lengan suaminya.


Devan hanya tersenyum samar.


"Benar yang diucapkan imut, jika saja saat itu aku tidak mengalami nya tidak mungki aku bisa sekuat sekarang" batinnya.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa ya my readers


LIKE


KOMEN


VOTE


Biar author tambah semangat lagi up nya 😊😊😊

__ADS_1


.


.


__ADS_2