
"Sandra biar aku jelaskan dulu semuanya" ucap Dani menyamai langkah Sandra.
Keduanya kini telah sampai dikediaman Mahendra.
"Cukup ya Dani!! Aku tidak ingin mendengarkan apa apa lagi, aku sudah lihat sendiri semuanya" ucap Sandra tegas.
"Maa mamaa!!!" teriak Sandra memanggil mama mertuanya.
"Sandra pliss, jangan bilang ke mama nanti dia shok Sandra!!" ucap Dani memohon, namun Sandra tetap tidak memperdulikannya.
Dering suara gawai Sandra berbunyi
"Hallo, mama dimana???" tanya Sandra, panggilan yang baru saja masuk itu rupanya dari mertuanya.
"San mama di klinik, Dave badannya demam kamu dimana??" ucap bu Mawar dari seberang telfon.
"Apa??? Dave sekarang diklinik, tunggu ma Sandra kesana sekarang" ucap Sandra panik.
"Sandra Dave kenapa??" tanya Dani yang sama paniknya.
"Bukan urusanmu!!! Ingat yaa urusan kita belum selesai" ucap Sandra dengan tatapan tajam kearah suaminya.
Karena khawatir dengan keadaan anaknya, Dani pun mengikuti mobil istri pertamanya itu.
Sesampainya di klinik, Sandra mendapati putra semata wayangnya tengah tergolek lemas dengan suhu badan yang tinggi.
Karena melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk ia menceritakan semuanya pada sang mertua, Sandra memutuskan untuk menunda membuka kebenaran itu.
Dani pun merasa lega, namun ia tetap mendapat tatapan tajam dari sang istri. Saat ini ia sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Elif. Jujur dari dalam hatinya yang dalam, ia sangat mencintai Elif, dibanding Sandra yang terpaksa ia nikahi karena perjodohan.
Namun ia juga tidak mungkin melepaskan Sandra, karena prinsip dalan keluarga Mahendra tidak boleh ada perceraian, apalagi sudah ada anak. Jika salah satu dari merka ketahuan selingkuh maka aset kekayaan akan pindah tangan pada satu pihak.
Keesokan harinya.
Suhu tubuh David kini sudah kembali normal, bu Mawar sudah dari semalam pulang kerumah. Tinggalah disitu Dani dengan Sandra yang menunggui David.
"Sandra" ucap Dani
"Cukup!! Jangan bicara lagi, aku sudah muak dengan kelakuan kamu!! Kamu lihat anak kita?? Waktu kamu selingkuh apa kamu ingat sama Dave,??? Huh aku yakin pasti tidak" ucap Sandra dengan menahan emosi.
Dani hanya terdiam, ia mengakui memang ia salah. Jika ada sebutan lelaki pengecut maka itulah sebutan yang cocok untuk dirinya.
Namun tiba tiba handphone Dani berbunyi, panggilan dari nomor rumah yang di Desa.
"Halo bi kenapa?" ucap Dani lesu, perasaannya mendadak tidak enak.
"Tuan, nyonya sudah tidak ada" ucap suara tangis dari seberang sana.
"Maksud kamu tidak ada bagaimana??" tanya Dani emosi, jujur ia sangat takut dengan fikiran buruk di kepala nya setelah mendengar ucapan bi Esih.
"Nyonya Elif meninggal dunia tuan" isak bi Esih.
__ADS_1
Tubuh Dani menegang, gawai dalam genggamannya terjatuh begitu saja ke lantai, ia tak perduli.
"Tidaaaakk!! Tidak mungkin" teriak Dani dengan air mata yang mengucur dari kedua matanya.
Sandra yang melihat pemandangan itu menjadi terheran, ada apa dengan suaminya.
Dengan cepat Dani bergegas meninggalkan klinik.
"Dani kamu mau kemana??" tanya Sandra
"Aku mau ke desa" lirih Dani seraya mengusap air matanya
"Hebat ya kamu, anak kamu sedang sakit dan kamu malah memilih pergi untuk menemui perempuan murahan itu" ucap Sandra menahan Emosi, ingin rasanya ia luapkan segala kekesalannya. Namun tidak mungkin, karena mereka sedang berada di klinik.
"Jaga ucapanmu Sandra!!" bentak Dani kemudian pergi meninggalkan klinik tempat putra pertamanya itu dirawat.
Sandra hanya menatap nanar punggung sang suami yang semakin jauh meninggalkannya.
"Sampai mati pun aku akan selalu mengingatnya Dani" ucap Sandra geram
******
Sesampainya dirumah yang di desa, Dani langsung memasuki rumah yang kini sudah sepi tanpa orang. Nampaknya para pelayad sudah pada pulang.
Hanya tangisan bayi memenuhi ruangan dirumah itu.
"Bi mana istri saya" ucap Dani tergopoh pada bi Esih yang kini namoak menenangkan baby Devan yang sedang menangis didalam rengkuhannya.
"Nyonya sudah dikebumikan tuan" ucap bi Esih dengan air mata yang masih menetes. Ia tak menyangka jika nyonya mudanya akan secepat itu kembali ke pangkuan sang illahi.
Rasa penyesalan dalam diri Dani semakin menyeruak. Ingatannya bersama Elif seakan kaset yang berputar silih berganti nampak didepan matanya. Elif adalah wanita yang baik, yang rela meninggalkan keluarganya demi laki laki pengecut seperti dirinya, dan kini dia kini telah tiada.
Angan Dani terhenti kala mendengar tangisan putranya yang baru berusia tiga hari.
"Sini bi biar saya yang gendong Devan" ucap Dani mengambil alih bayi mungil yang kini sudah tidak memeliki ibu.
"Tuan nona meninggalkan kertas ini, yang katanya untuk tuan" ucap bi Esih seraya memberikan sebuah surat untuk juragannya itu
Dani mengambil surat itu, kemudian masuk kedalam kamar mereka.
Setelah meletakkan bayinya uang tengah tertidur ke atas ranjang, perlahan Dani membuka isi surat itu.
"Mas, ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi didunia ini, mas terimakasih telah memberikan kebahagiaan disisa umurku. Sampaikan permintaan maaf ku pada istri mas Dani karena aku telah merusak kebahagiaan kalian, seandainya saja dari awal aku tau mas Dani telah beristri sungguh aku takkan memaksakan perasaanku" saat membaca kalimat itu air hati Dani terasa teriris.
"Ini semua salahku, maaf kan mas Elif" ucap Dani dengan air mata yang tak behenti berderai.
Kemudian ia melanjutkan membaca tulisan istri mudanya itu.
"Mas aku titip Devano padamu dan istrimu ya, aku harap istrimu bisa menyayangi anak kita seperti anak kandungnya sendiri. Maafkan aku mas. Aku mencintaimu ~ Elifia Ayshe"
Setelah selesai membaca surat itu, ia kemudian menemui bi Esih untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Elif.
__ADS_1
"Bi sebenarnya Elif kenapa?" ucap Dani
"Setelah tuan pergi kemarin, nyonya mengalami pendarahan. Saat itu juga saya dan suami saya langsung membawanya kerumah sakit. Namun setelah satu jam lebih diperiksa, nyonya dinyatakan meninggal karena komplikasi dan penyakit baru paru yang sudah lama dideritanya
Dan selama diperjalanan kerumah sakit nyonya berpesan kepada saya, jika ia meninggal kami dilarang menghubungi tuan kecuali ia sudah dikebumikan" jelas bi Esih.
Kesedihan yang dirasakan Dani semakin bertambah setelah mendengar penjelasan bi Esih. Ia semakin bersalah, karena tidak ada disaat Elif sedang memebutuhkannya.
"Dimana Elif dimakamkan bi?" tanya Dani lemas.
.
.
Dani memandang nanar gundukan tanah yang masih basah dihadapannya, tangisnya pecah kala mengingat kebahagiaan yang selama ini mereka ciptakan dan tangis penyesalan karena telah menorehkan luka dengan kebohongannya.
*******
Itulah yang membuat Dani enggan mencurahkan kasih sayangnya pada Devan, karena setiap kali memandang wajah Devan yang begitu mirip dengan ibunya, Dani semakin dihantui rasa bersalahnya.
Flashback off.
"Sayang aku tidak tau harus berkata apa" ucap Tiara setelah mendengar cerita tentang masalalu mertuanya.
"Sudah jangan di fikirkan, lebih baik kamu tidur. Kasihan baby kita sudah ngantuk" ucap Devan seraya mengelus perut Tiara.
"Emmm tapi sayang, apa kamu tau makam bunda dimana?" tanya Tiara, ruapanya ia masih belum puas dengan cerita dari suaminya.
"Tentu, kalau saya sedang rindu pasti saya mendatanginya" ucap Devan matanya mulai terpejam.
"Kenapa kamu tidak pernah mengajak aku???" ucap Tiara ngegas sehingga membuat Devan membuka kedua matanya kembali.
"Imut, semenjak saya berhasil menikahimu, hati saya sudah tak kosong lagi. Setiap pulang kerja rasanya selalu ingin langsung melihat wajahmu, hingga tidak ada waktu mengunjungi bunda" ucap Devan
"Bagaimana kalau besok kita mengunjungi bunda" ajak Tiara.
"Iya, tapi sekarang kita tidur dulu ya. Kasihan baby kita, dia sudah ngantuk tapi namanya berisik terus" kekeh Devan seraya mengecup kening istrinya.
Tiara hanya merengut, kemudian memejamkan matanya agar terlelap.
Keduanya pun telah larut dalam buaian mimpi indah.
.
.
.
Bersambung.....
.
__ADS_1
.
.