
Kini Tiara dan Devan sudah berada didepan gedung dengan bertuliskan "Panti Asuhan Arrahman".
Saat mereka memasuki lorong gedung tersebut, nampak banyak anak anak sedang bermain.
"Om tampan sudah lama gak pernah main kesini" ucap seorang gadis kecil berusia 6tahun.
"Maaf yaa, om belum sempat main kesini karena dirumah om punya tante cantik" ucap Devan lalu ekor matanya mengarah pada Tiara.
"Hayy tante cantik" ucap gadis itu seraya memberikan senyuman termanisnya pada Tiara.
"Hay sayang, kamu cantik banget" ucap Tiara sambil mecubit pelan pipi sang gadis kecil.
"Tuan Devan" ucap bu panti dari kejauhan.
"Caca, om sama tante ke ruangan ibu dulu yaa" pamit Devan
"Iya om"
Keduanya pun memasuki surangan ibu panti, dan menduduki tempat yang sudah disediakan.
"Maaf tuan Devan, karna anda datangnya terlambat dan musyawarah sudah selesai, saya hanya bisa menjelaskan secara garis besarnya saja hasil musyawarah tadi" ucap bu panti.
"Tidak masalah bu, kebetulan tadi saya sedang ada acara dirumah" ucap Devan.
"Dan perkenalkan ini Mutiara, istri saya" sambung Devan.
"Senang berkenalan denganmu nona Mutiara" ucap bu panti ramah. Begitupun Tiara, ia sebisa mungkin tetap bersikap tenang walaupun ia menahan sedang menahan sesuatu.
Devan yang menyadari perubahan pada istrinya merasa khawatir
"Imut kamu kenapa?" ucap Devan pelan.
"Sayang akua kebelet" ucap Tiara tak bisa menahan lagi.
"Permisi bu, saya mau ke tolilet dulu, kalian teruskan saja diskusinya" ucap Tiara.
Dan diangguki oleh kedua orang dihadapannya itu.
"Imut, apa perlu saya antar" ujar Devan.
"Tidak perlu sayang, kebetulan tadi didepan aku melihat letak toiletnya" jelas Tiara.
Dengan langkah cepat Tiara langsung menuju ke toilet untuk memenuhi panggilan alamnya.
__ADS_1
Setelah selesai, pintu tolilet yang ia gunakan terbuka bersamaan dengan pintu toilet lain yang kebetulan berdampingan.
Tiara nampak takjub melihat siapa yang keluar dari pintu sebelahnya itu.
Seorang wanita paruh baya, mungkin sedikit lebih muda dari ibunya dengan balutan hijab yang menutup dirinya, cantik ah tidak tapi itu sangat cantik, ia yakin wanita itu bukan orang Indo asli.
"Hay" ucap wanita itu sambil tersenyum ramah pada Tiara, membuat Tiara semakin takjub.
"Emmm hayy, tante anda cantik sekali" ucap Tiara pada wanita itu
"Kamu juga sangat cantik, boleh tante tau namamu" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Namaku Mutiara tante" ucap Tiara.
"Nama yang sangat cantik, kamu sedang apa disini nak?" tanya wanita itu.
"Suamiku salah satu donatur di panti ini tan" ucap Tiara.
Mereka kini sudah keluar dari tolilet dan sedang duduk dibangku depan pintu utama.
"Wahh, ko tadi kita tidak bertemu yaa" ucap wanita yang Tiara panggil tante itu
"Hehe iya tan, soalnya tadi dirumah sedang tasyakuran empat bulanana dulu" jelas Tiara
"Kamu sedang hamil nak??" ucap sang wanita seraya mengelus perut Tiara sedikit membuncit.
"Emmm nama Tante Lifia" ucap wanita itu
"Tante cantik banget, semoga m baby aku kalau ia perempuan bisa secantik tante, kebetulan papanya juga ada keturunan Turki" ucap Tiara dengan mata yang berbinar.
"Benarkah?? Wahh semoga ya nak, emm tapi maaf sepertinya tante tak bisa berlama lama disini, itu supir tante sudah menunggu dari tadi" ucap Lifia.
"Yaahh ko cepet banget sih tan" tanya Tiara sedih.
"Nanti kalau ada waktu kita ketemu lagi ya, assalamu'alaikum" pamit Lifia buru buru dan meninggalkan Tiara.
.
.
Diruangan bu panti, Devan nampak gelisah karena istrinya belum juga kembali. Karena takut terjadi apa apa Devan memutuskan untuk menyusul istrinya.
"Bu saya mau melihat istri saya dulu" ujar Devan dan disetujui bu panti.
__ADS_1
Dari kejauhan Devan melihat istrinya sedang bercengkrama dengan seorang wanita berhijab.
Namun tak lama wanita itu pamit pada Tiara dan pergi menaiki mobil meninggalkan panti.
"Siapa wanita itu, kenapa nampak akrab sekali dengan imut" batin Devan
Kemudian Devan pun menghampiri istrinya.
"Imut sayang, kenapa kamu bersedih? Apa wanita tadi menyakitimu?" tanya Devan khawatir mendapati istrinya tengah berkaca kaca.
"Sayang aku gapapa, entah kenapa aku sedih melihat tante Lifia pulang" ucap Tiara sendu.
"Tante Lifia??? Siapa dia?" tanya Devan.
"Aku tidak tau sayang, tadi kami bertemu di toilet, dia sangat cantik banget loh sayang kemudian kami ngobrol. Kamu tau gak??" tanya Tiara membuat Devan penasaran.
Devan hanya menaikan sebelah alisnya.
"Saat tente Lifia mengusap perut aku, entah kenapa rasanya nyamaaann banget" ucap Tiara.
"Imut, lain kali kalau bertemu orang yang tidak dikenal kamu harus hati hati ya, kita tidak pernah tau orang itu berniat baik atau buruk pada kita" ucap Devan sambil merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Sayang tapi dia baik dan cantik banget" ucap Tiara.
"Yasudah, semoga nanti kita ketemu sama wanita tadi ya" ucap Devan dan Tiara hanya mengangguk patuh pada ucapan suaminya.
"Sebaiknya kita pulang saja" ujar Devan
"Sayang apa diskusi mu sudah selsai" tanya Tiara
"Belum sih, tapi itu bisa dilanjut nanti"
Setelah berpamitan pada oengirus panti, mereka pun memutuskan untuk pulang, karena hari sudah menjelang malam juga.
.
.
.
Bersambung....
Dukung terus author, tinggalkan jejak jempol, masukan ke daftar paforite, dan jmkaish gift buat author yaa biar tambah semangat lagi nulisnya.
__ADS_1
Terumaksih 😊
.