
Sesampainya dirumah sakit, Devan langsung mengangkat tubuh Tiara kedalam gendongannya. Ia merasakan panik yang luar biasa, beda halnya dengan Tiara. Ia malah tersenyum melihat ekspresi suaminya yang menurut dia itu sangat lucu.
"Imut, kenapa kamu malah senyum senyum begitu?" ujar Devan.
"Sayang kamu semakin tampan dengan wajah panik seperti itu" canda Tiara.
"Astagfirullah imut, gimana saya gak panik? Kamu pecah ketuban sebelum waktunya, saya gak mau terjadi apa apa sama kamu dan anak kita" jelas Devan tak merubah raut wajahnya.
Tiara mengangguk, ia faham kekhawatiran yang melanda suaminya. Jujur didalam hatinya ia juga sama khawatirnya dengan Devan, hanya saja ia mencoba tenang.
"Tuan Devan ada apa dengan nona Tiara?" tanya seorang dokter obgyn yang sudah Devan sewa agar selalu siaga menangani istrinya kapan pun dibutuhkan.
"Dok, istri saya pecah ketuban, padahal kan perkiraan lahir masih dua atau tiga minggu" jelas Devan.
"Baiklah, mari biar saya periksa dulu" ucap dokter wanita yang berusia sekitar empat puluh lima tahun itu memepersilahkan Devan dan Tiara masuk ke ruang pemeriksaan
Selang beberapa menit, dokter itu pun usai memeriksakan keadaan Tiara.
"Gimana dokter?" tanya Devan.
"Nona Tiara mengalami pecah ketuban dini, untung saja dibawa kerumah sakit dengan tepat waktu. Karena jumlah ketubannya semakin sedikit, dan khawatir terminum oleh bayinya nona Tiara harus segera melahirkan tuan. Lagi pula detak jantung dan berat badan janin sudah cukup untuk lahir" jelas sang dokter.
"Lakukan yang terbaik dok" pinta Devan.
"Karena nona Tiara tidak mengalami kontraksi dan jika mengambil tindakan induksi itu membutuhkan waktu yang lama, sedangkan air ketuban nona Tiara sudah semakin sedikit. Kemungkinan besar kami akan melakukan tindak oprasi, kami harap tuan Devan dapat menyetujuinya" sambung dokter.
"Lakukan dok, saya setuju. Apa pun itu asalkan yang terbaik untuk istri dan anak saya" ucap Devan mantap.
"Baiklah, operasi akan dilakukan tiga puluh menit lagi. Silahkan nona dan tuan untuk bersiap, sementara sudah saya pastikan kondisi nona Tiara aman sampai oprasi berlangsung" ucap dokter, kemudian keluar dari ruang tersebut untuk persiapan operasi nanti.
Devan menghampiri Tiara yang kini tengah duduk diatas gameball yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Ia merendahkan posisi tubuhnya agar sejajar dengan Tiara kemudian memeluk istrinya itu dari belakang.
"Anak papa yang kuat ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu" ucap Devan mengelus perut besar Tiara.
"Sayang aku takut" ucap Tiara, kini malah dirinya yang diserang khawatir. Tiara takut terjadi sesuatu pada anak mereka.
"Ssst imut sayang, saya yakin kalian akan baik baik saja. Percaya pada saya ya" lirih Devan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang pinjam hp kamu, aku mau nelfon ibu meminta doa agar lahiranku berjalan lancar berkat ridha nya" tutur Tiara.
Devan merogoh saku celana joger sportnya, namun tak mendapatkan handphone disana.
"Imut, saya lupa bawa handphone. Tunggu sebentar saya akan pinjam handphone salah satu suster disini" ucap Devan kemudian bergegas keluar dari ruangan.
.
__ADS_1
.
Waktu yang dinanti pun tiba, kini sudah saatnya Tiara memasuki ruang oprasi.
"Dok apa boleh saya mendampingi istri saya didalam" pinta Devan.
"Boleh tuan, silahkan" ucap dokter Rima.
Lampu ruang oprasi pun menyala, pertanda tindakan akan segera dimulai.
"Bismillah ya sayang.." ucap Devan seraya menggenggam erat tangan Tiara.
Tiara mengangguk pelan, tak terasa air matanya menetes membasahi pipi. Perjuangannya akan segera dimulai, beberapa menit lagi statusnya akan berubah menjadi seorang ibu. Didalam hatinya tak henti mengucapkan asma Allah dan shalawat kepada nabi. Dengan harapan perjuangannya ini akan berjalan dengan baik, serta dia dan bayinya kuat sampai lahir nanti tanpa kekurangan satu apapun.
***
Dikediaman Devan, bi Esih tengah mondar mandir bak setrikaan panas. Ia merasa khawatir dengan kondisi Tiara, pasalnya beberapa jam yang lalu saat ia baru kembali dari kebun belakang rumah. Bi Esih mendapati Devan menggendong tubuh Tiara dengan raut wajah yang khawatir.
"Ya Allah semoga tidak terjadi apa apa dengan non Tiara" lirih bi Esih.
Tak lama, deru suara mobil terdengar dari halaman kediaman Devan.
Dengan langkah cepat bi Esih bejalan menuju halaman, ia berharap yang datang adalah tuan dan nonanya.
"Itu nyonya, beberapa jam yang lalu saya melihat den Devan menggendong non Tiara dengan wajah panik. Saya takut kenapa napa dengan non Tiara, sedangkan den Devan pun susah dihubungi, sepertinya handphone nya tertinggal di kamarnya" jelas bi Esih.
"Jangan jangan Tiara mau melahirkan" ucap tuan Erdan.
"Itu yang saya khawatirkan tuan besar, kandungan non Tiara baru memasuki sembilan bulan. Kalau menurut hitungan dokter belum saatnya non Tiara melahirkan" ujar bi Esih masih tampak gusar.
"Ba, Elif tau rumah sakit tempat biasa Tiara memeriksakan kandungan, waktu itu Tiara juga pernah bilang jika Devan sudah menyewa kamar beserta dokternya untuk persiapan ia melahirkan nanti" ucap Lifia, mengingat ia pernah menemani Tiara untuk kontrol kehamilannya.
"Yasudah ayo kita kesana" ucap tuan Erdan.
"Nyonya, tuan besar saya tidak ikut ya. Soalnya rumah tidak ada yang jaga. Tapi kalo kenapa napa tolong kabarin saya ya nonya" ucap bi Esih yang kini ditugaskan untuk tidur dirumah Devan oleh sang majikan semenjak Tiara hamil besar.
"Iya bi, pasti saya kabarin" ujar Lifia.
***
Sesampai nya dirumah sakit.
"Sus pasien atas nama Mutiara dirawat diruangan mana?" tanya Lifia pada petugas resepsionis.
"Atas nama Mutiara Mahendra?" tanya balik sang suster dengan name tag bertuliskan Anggi.
__ADS_1
"Benar" ujar Lifia.
"Ruang rawatanya berada di kamar VVIP 105, namun saat ini pasien sedang dalam proses operasi secar bu" jelas Anggi.
"Oprasi secar??? Astagfirullah.." tuan Erdan panik.
Seraya menuntun tuan Erdan, Lifia pun melangkah gusar mendekat ke ruang operasi berlangsung.
Tak lama, pak Hermawan dan istrinya pun datang menghampiri mereka.
"Ba, ini orang tua Tiara" ucap Lifia memperkenalkan besannya pada sang baba.
"Salam kenal tuan, saya Hermawan dan inu istri saya Abarwati" ucap ayah Tiara.
Mereka berempat pun menanti dengan mulut yang tak berhenti merapalkan doa untuk anak tercintanya
***
Oeekk oekkk oekkk
Suara tangisan bayi memenuhi ruangan dingin itu. Dibalik tirai yang menghalangi anggota tubuh sebagian istrinya, Devan meneteskan airmatanya seraya mengecup kening wanita tercintanya.
"Alhamdulillah sayang anak kita telah lahir dengan selamat" ucap Tiara, Devan hanya mengangguk haru.
"Terimakasih istriku sayang" Bisik Devan.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...^^^TERIMAKASIH :)^^^...
.
.
__ADS_1