My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.60 Pagi Hanum


__ADS_3

"Hanum lama sekali dikamar mandi" gerutu David, karena sejak tadi istri kecilnya itu belum juga muncul sejak satu jam yang lalu.


Karena penasaran, dengan perlahan David mendorong pintu walk in closet yang kebetulan tidak tertutup rapat.


Sedikit gamabaran, jadi letak kamar mandi David itu nyambung dengan tempat pakaian. Sebelum ke kamar mandi, pasti ngelewatin walk in closet dulu.


Dengan pintu yang sedikit terbuka ia dapat melihat dengan jelas jika istri kecil nya sedang melepas mukena yang dikenakannya, dan melipat sajadah yang terbentang dihadapannya.


"Jadi semalam dia bilang halangan itu bohong" seringai David.


"Awas kau baby, beraninya membohongiku" ucapnya dalam hati dengan senyuman licik diwajahnya.


Karena Hanum sudah selesai dengan kegiatannya, dan David tak ingin Hanum mengetahui keberadaannya yang sedang mengintai, ia buru buru kembali ke tempat tidur.


Diambilnya gawainya diatas nakas sambil mengecek beberapa email masuk mengenai pekerjaannya.


"Ehh om udah bangun" ucap Hanum, wajahnya kini nampak lebih segar, dengan rambut yang masih basah.


"Iyaa, jangan panggil saya om lagi. Saya bukan om kamu" ucap David seraya bangkit dari tempat tidur.


"Mulai sekarang, panggil saya daddy! Oke baby" bisik David ditelinga Hanum.


Setelah itu ia bergegas untuk membersihkan diri.


"Oke daddy" ucap Hanum pelan setelah kamar mandi tertutup.


.


.


.


Setelah merapikan tempat tidur, ia bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.


Keadaan masih sepi karena hari masih belum terang.


Ia mendapati nek Mawar sudah rapi dengan koper kecil ditangannya.


"Nenek mau kemana??" ucap Hanum


"Kan semalam nenek sudah bilang, nenek mau nginep di desa. Dirumah cucu nenek yang satu lagi, kamu baik baik yaa dirumah. Jangan terlalu menanggapi ucapan mertuamu" ucap nek Mawar.


"Iya nenek tenang aja, tapi kenapa sepagi ini??" ucap Hanum heran.


"Nenek mau menikmati udara pagi dipedesaan nanti, pasti sangat segar" ucap nek Mawar dengan senyum hangatnya


"Yaudah nenek hati hati yaa" ucap Hanum kemudian mencium tangan sang nenek suaminya.


Setelah mobil yang menjemput nenek menjauh, Hanum kembali ke dapur untuk melanjutkan niatnya membuat sarapan.


"Bikin nasi goreng aja kali ya" ucapnya.


Dengan lihai, Hanum meracik masakannya

__ADS_1


"Non Hanum kenapa pagi pagi sudah di dapur, inikan tugas kami" ucap mbak Siti dan satu pelayan lain.


"Tidak apa apa mbak, sebaiknya embak kerjakan yang lain saja soalnya ini sudah mau matang juga" ucap Hanum dan disetujui keduanya asisten rumah tangga dirumah itu.


Setelah selesai memasak dan menyusun masakannya dimeja makan, Hanum membuka lemari es dan ternyata ada banyak buah didalamnya.


"Wahh buah alpukatnya besar besar, bikin jus aja ah buat om daddy" ucapnya kemudian mengambil beberapa buah alpukat.


"Baby masakanmu harum sekali" bisik David kini tangannya melingkar di pinggang ramping Hanum yanhs sedang menuang jus kedalam gelas.


"Om malu tau diliat pada embak entar" ucap Hanum.


David hanya mengulum senyum.


"Ko kamu tau sih, kalau saya suka jus alpukat" ucap David dagunya kini bertengger di bahu sang istri.


"Kebetulan aja tadi di lemari es buah alpukat nya besar besar" ucap Hanum


"Tapi lebih besar ini kayanya" ucap David meremas salah satu bukit cinta milik Hanum.


"Ihh om apaan sih, nanti ini tumpah loh" ucap Hanum merasa risih dengan perbuatan suaminya.


"Ekheeem"


Terdengar suara deheman dibelakang mereka. Dan David pun melepaskan tangannya dari pinggang ramping sang istri.


"Selamat pagi mom" ucap David dengan senyum manisnya.


"Lebay banget sih, pake mesra mesraan di dapur segala" ucap Sandra ketus


"Momy ini kaya gak pernah muda aja" kekeh David.


Hanum mendekat dengan membawa tiga gelas jus alpukat dinampannya.


Salah satunya ia berikan pada sang mertua.


"Mbak Siti mana? Kenapa kamu yang siapin semuanya?" tanya bu Sandra dengan wajah yang tak bersahabat.


"Oh para embak sedang mengerjakan pekerjaan yang lain nyonya mami, tenang aja masakan Hanum gak mengandung racun ko" ucap Hanum ramah.


Sandra memalingkan wajah.


"Saya terpaksa memakan ini, karena tidak ada lagi makanan disini" ucap Sandra masih dengan nada sombong nya.


David dan Hanum hanya saling pandang dan sama sama tersenyum melihat tingkah sang nyonya mami.


"Anak udik ini masakannya lumayan lezat juga, dasar jiwa pelayan!" hardik Sandra dalam hati sambil terus mengunyah nasi goreng nya dengan lahap.


"Nanti siang kamu bisa tidak antarkan makan siang untuk saya, sepertinya saya sudah kecanduan masakan kamu" ucap David pada Hanum.


Sandra yang turut mendengar ucapan putra semata wayangnya itu hanya mendelikkan dua bola matanya.


"Dasar lebay!! Perasan mas Dani aja tak selebay itu padaku dulu" rutuk batin Sandra.

__ADS_1


"Siap dad, tapi apa si mona sudah diantar kesini" ucap Hanum.


"Sudah dong, semalam saya lupa bilang sama kamu. Kuncinya ada diatas nakas dikamar" ucap David


Setelah selesai sarapan, David pun pamit untuk berangkat ke kantor. Karena kemarin ia sempat libur, pasti kerjaannya kini sudah menumpuk.


"Saya kerja dulu ya, kamu bisa gunakan ini untuk keperluan kamu" David memberikan salah satu black card miliknya.


"Aku gak mau kartu om, uang cash aja hehe" ujar Hanum


David kemudian memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada istri kecilnya itu.


Saat Hanum akan mengembalikan kartunya, namun David tolak.


"Simpan saja, mana tau kamu ingin beli sesuatu pakai saja itu" ucap David


"Emm oke deh, makasih ya daddy" ucap Hanum kemudian mencium tangan sang suami sebagai tanda bakti.


David membalas dengan mengecup bibir Hanum sekilas, kemudian mengacak pucuk kepala sang istri sebelum akhirnya ia memasuki mobil, dan berangkat ke kantor.


Saat Hanum memasuki rumah, ia berpapasan dengan sang mertua yang sudah rapi denga pakaian dan printilan bermerk nya.


"Hai nyonya mami mau kemana?" sapa Hanum


"Bukan urusanmu! Dengar yaa jangan sok akrab dengan saya. Sampai kapan pun saya tidak akan sudi punya mantu udik kaya kamu. Kita gak selevel. Lihat saja tampilanmu dengan saya bagaikan langit dan bumi" Hardik Sandra.


"Iya gak apa apa sih nyonya mami, biarpun aku udik begini tapi anak nyonya mami loh yang pilih aku, bahkan waktu kita dinikahkan paksa sama warga, anak mami itu tidak mengelak sedikit pun tuduhan mereka" ucap Hanum dengan santai.


"Karena kamu kan yang menjebak anak saya!!" ucap Sandra ketus


"Haha yang ada anak nyonya mami yang jebak aku. duh dia ngebet banget loh mau nikahin aku" ucap Hanum masih dengan gaya santainya.


"Terserah ya! pokonya sampai kapanpun saya gak akan sudi menganggap kamu menantu saya. titik!" ucap Sandra kemudian pergi meninggalkan Hanum.


Hanum hanya tersenyum, kemudian mengangkat bahu dan kedua tangannya.


Ia kembali ke belakang, menghampiri para asisten mana tau ada pekerjaan yang bisa ia bantu.


Karena tak mungkin ia hanya berdiam diri saja dirumah ini.


.


.


.


Bersambung...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2