
Melihat kedekatan Devan dengan neneknya sekilas hati Lifia berdesir.
"Apakah baba akan menerima Devan sebagai cucunya?" ucapnya dalam hati.
"Mengingat baba tidak memiliki cucu laki laki, aku yakin baba pasti menerima Devan. Lagipula Devan juga harus tau jika sebenarnya ia masih memiliki kakek dariku" lanjutnya.
"Bunda ko bengong? Ini puding bikinan bunda enak banget loh" ucap Tiara.
"Ehh iya nak, maaf bunda lagi teringat almarhumah mama bunda. Soalnya beliaulah yang mengajarkan bunda membuat puding ini" kilah Lifia.
"Nanti kapan kapan ajari Tiara ya bun" ucap Tiara.
"Oke sayang, tenang aja!" ujar Lifia.
"Wahh ko saya gak kebagian puding nya?" ujar Devan yang baru saja kembali dari kamar nek Mawar.
"Tenang sayang ini masih banyak ko" ucap Tiara
Devan mendaratkan bokong nya disebelah sang istri tercinta.
"Devan ada sesuatu yang ingin bunda katakan" ucap Lifia.
Devan hanya mengangkat kedua alisnya.
"Katakan saja" ucap Devan
"Emmm sebenarnya kamu masih memiliki kakek nak" ucap Lifia ragu.
Devan nampak biasa saja, ia malah sibuk dengan puding yang dimakannya.
Ia tidak merasa terkejut, karena sebenarnya ia sudah tahu jika kakek dari pihak ibunya itu masih hidup.
Setelah kembalinya sang bunda kedalam kehidupannya, Devan tidak serta merta langsung menelan mentah mentah setiap ucapan Lifia.
Diam diam ia mencari informasi tentang ibu kandungnya tersebut. Salah satunya mengenai keluarganya, tidak ada kebohongan yang Lifia lontarkan selama ini. Hanya saja ia belum mengatakan mengenai keluarga dirinya dan Devan pun enggan bertanya tentang itu, bagi Devan lebih baik ia selidiki dan cari tau sendiri.
Yang membuat Devan sempat terkejut adalah, ternyata ia sudah beberapa kali bertemu dengan kakek dari pihak ibunya itu. Karena tuan Erdan Mehmed merupakan salah satu client pentingnya yang bergerak di bidang kuliner.
"Sayang, itu bunda ngomong kenapa malah dicuekin" ucap Tiara seraya menyenggol boleh alus lengan suaminya.
"Oh maaf bunda, puding bikinan bunda sangat lezat sampai saya kurang fokus mendengarkan ucapan bunda" ucap Devan kemudian meletakkan mangkok kecil yang dipegangnya.
"Gimana tadi bun?" tanya Devan kini dengan wajah lebih serius
"Bunda hanya mau bilang, jika baba bunda masih hidup. Apa kamu tidak ingin bertemu dengan kakekmu nak??" ucap Lifia pelan
"Bukankah bunda mengaku padanya kalau bunda tidak memiliki anak?" ucap Devan dengan dahi yang mengerut.
Hati Lifia berdenyut mendengar ucapan anaknya, ya memang benar jika dulu dirinya tidak mengaku jika dirinya telah memiliki putra dihadapan keluarga besar nya.
"Iya memang benar, tapi nanti bunda akan berbicara dengan kakek kamu. Bunda yakin ia pasti sangat senang memiliki cucu laki laki hebat sepertimu nak" jelas Lifia
Devan tak bergeming, sesekali mulutnya terbuka menerima suapan puding dari tangan Tiara.
"Yasudah nanti bunda atur saja waktunya kapan saya harus bertemu dengan kakek" ucap Devan.
"Jadi kamu mau nak ketemu dengan kakek kamu?" tanya Lifia dengan mata yang berbinar.
Devan hanya mengangguk kan kepalanya yakin.
"Alhamdulillah, bunda senang sekali nak"
Tiara hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak dihadapannya itu.
"Kalau begitu bunda pamit pulang dulu ya, nanti bunda kabarin kapan waktunya" ucap Lifia.
__ADS_1
Setelah berpamitan tak lupa saling memberi pelukan akhirnya Lifia pun melangkah meninggalkan kediaman putra tunggalnya.
Kantor MRc.group
Hanum nampak memarkirkan sepeda motor maticnya di dekat post satpam.
"Pak titip si mona sebentar ya" ucap Hanum pada salah satu satpam yang bertugas.
"Siap non" ucap Satpam yang sebelumnya sudah mendapat informasi dari David, jika ada gadis muda menggunakan motor matic berwarna merah muda, itu adalah istrinya.
Kini Hanum bisa dengan leluasa memasuki gedung yang besar dan tinggi itu, tanpa ada yang menghalangi satu orang pun, terutama Sinta sang receptionist.
"Mba! seperti nya saya lupa deh, ruangan pak David dilantai berapa ya?" tanya Hanum pada Sinta.
"Dilantai 18 nona" ucap Sinta ramah.
"Oke makasih ya mba" ucap Hanum kemudian melangkahkan kaki kearah lift.
Namun baru saja beberapa langkah, tiba tiba ada suara yang memanggil namanya.
"Hanum!!!"
Hanum pun celingukan mencari sumber suara.
"Hey kakak disini" ucap suara laki laki yang sangat ia kenal.
Hanum menoleh kearah sebelah kanan.
"Kak Romi, kakak ngapain disini??" tanya Hanum
"Seharusnya kakak yang bertanya kamu ngapain disini?" kekeh Romi.
"Ihh kakak ini lah, ditanya malah balik tanya" ucap Hanum dengan senyum manisnya.
Mata Hanum tertuju pada tas bekal yang dibawanya, namun belum juga ia berucap tiba tiba tangannya di pegang oleh seseorang.
"Hanum ayo ikut dengan saya!" ucap David seraya menarik tangan istrinya.
"Kak Hanum pergi dulu ya" ucap Hanum pada Romi.
"Iya nanti kapan kapan kita ngobrol lagi ya, kakak masih kangen" ucap Romi tanpa rasa bersalah.
Hal itu membuat wajah David semakin memerah akibat terbakar api cemburu.
.
.
.
Sesampainya diruangan CEO MRc.group
"Dad jangan kencang kencang dong, ini tanganku sakit tau!" ucap Hanum mencoba melepaskan lengannya dari genggaman kasar David.
David pun melepaskan cekalannya.
"Saya disini nungguin kamu dengan kelaparan! Kamu malah dengan asyiknya ngobrol dengan laki laki lain" ujar David dengan mata yang memerah dan rahang yang mengeras.
"Dad aku tadi tidak sengaja bertemu dengan.."
"Diam!!!" bentak David.
Membuat Hanum tersentak, karena untuk pertama kalinya ia dibentak dan melihat David semarah itu.
__ADS_1
Mata Hanum mulai berkaca kaca, entah kenapa hatinya sedih saat David berlaku seperti itu padanya, padahal dirinya tidak merasa berbuat salah.
Tanpa berkata lagi, Hanum langsung meninggalkan ruangan David.
.
.
Setelah kepergian Hanum, David hanya diam mematung.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku sudah membentaknya" ucap David menyesali diri.
Saat dia akan bergegas mengejar Hanum, tiba tiba Yoga memberitahukan jika lima menit lagi akan ada meeting penting dan tidak bisa ditunda ataupun diwakilkan.
"Arghhhh!! Siall" ucap David melayangkan pukulannya ke udara.
.
.
Hanum mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, disepanjang jalan air mata nya terus saja mengalir.
Ia tak habis fikir, kenapa David bisa semarah itu hingga membentak dirinya. Sekuat kuatnya Hanum, ia tetap saja seorang wanita biasa, yang hatinya akan tergores jika dibentak oleh seseorang apalagi itu suaminya sendiri, orang yang biasanya selalu memanjakan dirinya berlaku seperti malaikat baginya namun tiba tiba berubah menjadi menyeramkan.
Sesampainya dirumah, Hanum langsung menghapus air matanya kasar.
Saat ia melewati ruang tengah, disana sedang ada Sandra yang sedang menonton tv.
"Heh bocah kamu kenapa???" tanya Sandra, ia heran melihat tingkah menantunya yang hanya menunduk saja sedari memasuki pintu.
"Hanum tidak apa apa nyonya mami, permisi" ucap Hanum pelan, namun dari suaranya tak bisa memebohongi Sandra jika dirinya habis menangis. Kemudian ia buru buru melangkah meninggalkan sang mertua yang nampak keheranan.
"Ada apa dengan bocah itu, seperti nya dia habis menangis" ucap Sandra kemudian melanjutkan kegiatan menonton nya.
Namun lagi lagi fikiran nya tertuju pada menantu kecilnya.
"Hm apa yang membuat itu bocah menangis ya? Sering kali ku hina aja dia gak pernah sedih dan tetap tersenyum. Apa ada hubungannya sama Dave? Ah keterlaluan kamu Dave, awas aja kalau pulang" gerutu Sandra.
Karena sudah tak fokus pada kegiatan menontonnya, ia lebih memelih masuk kedalam kamarnya untuk istirahat.
"Daripada aku mikirin itu bocah ingusan mending aku tidur siang" ucap Sandra mematikan televisi nya kemudian pergi ke kamar.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Biar author tambah semangat lagi up nya.
Terimakasih :)
.
.
__ADS_1
.