My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.59 Bertemunya Nenek & Bunda


__ADS_3

Hanum terjaga dari tidurnya, karena merasakan ada gerakan dibagian dadanya.


Saat ia membuka mata, ia kaget mendapati David memeluknya dengan posesif dan mulut yang masih menempel di bukit cinta miliknya.


"Om lepasin, aku mau ke kamar mandi" bisik Hanum.


Namun bukannya dilepaskan, David malah menggerak gerakan lidahnya menyapu si pucuk bukit cinta milik istrinya.


"Emmhh geli om"


Namun masih tak dihiraukan oleh David.


"Awhh, om aku mau ke kamar mandi, tolong di lepasin dulu.


Bukannya langsung dilepas, David malah menariknya dengan mulutnya terlebih dahulu baru dilepaskan.


Plupp


"Akhirnya lepas juga, ahh sampai kebas rasanya" ucap Hanum seraya merpaikan pakaian yanh dikenakannya.


Matanya menatap wajah David yang terpejam, namun ia tau laki laki itu hanya pura pura tidur saja.


"Dasar om om mesum" ucap Hanum mencubit hidung suaminya dengan gemas.


"Awwww!! Baby kamu apa apaan, sakit tau" ucap David


"Rasain!!! Emang enak, lagian pake pura pura tidur segala" ucap Hanum kemudian pergi ke kamar mandi.


Setelah kepergian Hanum, David menyeringai.


"Baru segitu aja udah nikmat, apalagi yang lain" senyum David seraya membayangkan yang iya iya.


*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#


"Sayang, nenek jadi hari ini mau nginap disini?" ucap Tiara sambil memasang satu persatu kancing kemeja suaminya.


"Iya imut, nanti Riki yang menjemputnya" jawab Devan, tangannya bertengger di pinggang Tiara yang mulai melebar.


Sejak kehamilan Tiara memasuki trimester kedua, ia menjadi lebih posesif pada suaminya. Segala keperluan suaminya secara mendetail harus Tiara sendiri yang melakukan. Dari mandi hingga berpakaian, seperti saat ini contohnya.


"Makasih ya imut, kamu semakin hari semakin perhatian sama saya" ucap Devan seraya mengecup pucuk kepala sang istri.


"Iya sayang sama sama, ayok sarapan aku udah buatin nasi goreng putih kesukaan kamu" ucap Tiara dengan senyum cerianya.


"Imut, kan sudah saya bilang tidak perlu memasak lagi untuk saya. Kamu jangan terlalu lelah, kasian baby kita" ucap Devan


"Iya sayang, tapi aku tuh pengen masakin kamu terus gimana dong!" ucap Tiara manja.


"Boleh, tapi kamu jangan terlalu lelah. Minta bantuan bi Esih ya" ucap Devan kemudian menggandeng tangan istrinya ke ruang makan.


.


.


Tintiinnn

__ADS_1


Bunyi klakson mobil dari luar


"Itu Riki mungkin sudah datang sama nenek" ucap Tiara.


Riki memang sudah sejak semalam stay dikota. Karena nek Mawar ingin berangkat lebih pagi, agar ia bisa menikmati udara segar perkebunan teh didesa.


Tiara langsung menyambut kedatangan nenek suaminya itu dengan antusias.


"Nenek, Tiara kangen" ucap Tiara seraya memeluk tubuh nenek suaminya itu.


Devan hanya tersenyum samar melihat pemandangan itu.


"Nenek juga kangen sama kalian, terutama sama cicit nenek ini" ucap nek Mawar seraya mengelus perut buncit Tiara.


Devan langsung menyalami sang nenek, kemudian membawanya ke dalam rumah.


"Nenek baik baik dirumah sama Tiara ya, saya mau monitoring perkebunan sayur dulu" pamit Devan pada sang nenek.


Tak lupa ia memberikan kecupan hangat pada kening dan perut buncit Tiara.


"Anak papa baik baik sama mama yaa, jangan nakal, jangan nyusahin mama. Papa kerja dulu" bisiknya pada perut Tiara.


Tiara tersenyum bahagia melihat perlakuan suaminya.


Setelah berpamitan, Devan pun berangkat ke tempat kerjanya.


"Nenek mau istirahat atau mau sarapan?" tanya Tiara


"Nenek mau sarapan kupat tahu yang diperempatan itu nak, kita kesana yuk sekalian jalan jalan pagi. Jalan kaki bagus juga loh untuk ibu hamil" ajak nek Mawar


"Ayok nek, kebetulan Tiara juga mau beli siomay yang didekat situ"


Tintin..!!


Keduanya pun menoleh kala mendengar suara klakson mobil dari arah belakang.


"Sayang kamu mau kemana?" ucap seorang wanita yang keluar dari mobil.


Nenek hanya menatap heran wanita dihadapannya ini.


"Siapa wanita ini kenapa memanggil Tiara sayang" batin nenek.


"Ehh bunda, ini Tiara mau ke depan sama nenek mau beli kupat tahu sama siomay" ucap Tiara.


"Nak itu siapa?" bisik nenek.


Tiara nampak berfikir.


"Rupanya nenek tidak mengenali ibu kandung Devan" fikirnya.


"Gimana kalau kita ngobrolnya di caffe itu aja" tunjuk Tiara pada salah satu kaffe didekat sana. Karena tidak mungkin ia berbicara masalah penting dipinggir jalan.


Nek Mawar menjadi heran, padahal mereka awalnya cuma mau beli kupat tahu, tapi kenapa malah ke kafe.


"Pasti ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan Tiara" ucap nenek dalam hati.

__ADS_1


Elifia yang mengerti keadaan, ia hanya mengikuti saja instruksi dari menantunya.


"Mungkin ini mamanya mas Dani" ucap Lifia.


*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#


Setibanya dikaffe


"Nek, perkenalkan ini bunda Elifia, ibu kandungnya Devan" ucap Tiara ragu.


Elifia hanya menunduk, ia siap dengan kemurkaan nek Mawar karena keeogoisannya meninggalkan Devan jangan kematian palsu nya, ia menyaadari jika dirinya bersalah.


"Tiara nenek tidak mengerti" ucap nek Mawar.


"Setau nenek, waktu itu papanya Devan bilang jika ibu kandung nya sudah meninggal"


Nek Mawar kemudian kemudian menatap wajah perempuan berdarah Turki itu, wajahnya memang sangat mirip dengan Devan, terutama mata dan hidung.


"Bu maafkan saya, dulu saya egois karena telah meninggalkan anak kandung saya sendiri dengan memalsukan kematian saya. Itu semata mata karena sakit hati saya pada mas Dani bu. Dia telah membohongi saya, bahkan dia bilang ia sudah yatim piatu dan masih bujang. Ternyata semua bohong bu. Maafkan saya karena telah merepotkan kalian untuk merawat putra saya Devano" isak Lifia.


"Sudah nak, hapus air matamu" ucap nek Mawar seraya mengelus punggung tangan Lifia.


"Seharusnya saya yang minta maaf atas nama anak saya Dani, saya benar benar tidak tau jika Dani telah menikah lagi disini dan membohongimu. Jika pun saya diposisi kamu waktu itu, saya juga akan melakukan hal yang sama. Mengenai merawat Devan, kamu tak perlu berterimakasih karena itu sudah kewajiban saya sebagai neneknya. Meskipun Devan kekurangan kasih sayang dari papanya" ucap Mawar setenang mungkin, agar Lifia tetap nyaman.


"Yang penting sekarang Devan sudah bertemu dengan ibu kandungnya" ucap nek Mawar dengan senyum ramahnya.


Lifia tidak menyangka jika respon nek Mawar akan sebijak itu.


"Udah jangan ada kesedihan dan penyesalan lagi, yang penting kita sudah berkumpul kembali, sini dong peluk Tiara" ucap Tiara mentang kan kedua tangannya.


Kedua wanita beda generasi itu pun berhambur kedalam pelukan Tiara.


"Karena masalahnya sudah selesai, ayok kita lanjutkan tujuan kita nek, beli kupat tahu sama siomay" ucap Tiara kemudian diangguki oleh sang nenek.


"Bunda mau gabung juga?" tanya Tiara


"Tidak nak, bunda sedang ada urusan didepan sana. Kalo gitu bunda duluan ya nak, bu" pamit Lifia kemudian meninggalkan kaffe itu.


Setelah men take away minumannya, Tiara dan nek Mawar pun kembali pada tujuan awalnya, pergi ke perempatan membeli kupat tahu kesukaan nenek.


.


.


.


Bersambung....


Bunda bunda syantik jangan lupa tinggalkan jejak ya


LIKE


KOMEN


VOTE

__ADS_1


Agar author tambah semangat lagi buat up ceritanya.


Iloveyou kalian 🤭


__ADS_2