My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.104. Nikahkan saja!!


__ADS_3

Selang tiga puluh menit mobil Sandra pun tiba dikediaman Devan, disusul mobil sedan berwarna hitam dibelakangnya.


Kedua pemilik mobil itu pun keluar secara bersamaan dan membuat kedua mata Sandra membulat sempurna.


"Ehh kamu pak tua!! Ngapain ngikutin saya sampai sini???" tuduh Sandra denga kedua tangan berkecak di pinggang ramping nya.


"Kenapa ibu ibu rempong itu ada disini juga sih?" batin Yukas seraya menggaruk dahinya yang tak gatal.


"Heh jawab?? Kamu ngikutin saya sampai sini mau ambil stroller ini kan? Enak aja orang saya sudah bayar ko" cerocos Sandra.


"Yukas kamu mengenali wanita ini?" tanya tuan Erdan yang baru saja keluar dari mobil. Yukas tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.


"Maaf nyonya ini siapa ya? Kenapa marah marah pada anak saya?" tanya tuan Erdan pada Sandra.


Mendengar suara keributan dari luar, nek Mawar dan Lifia pun keluar dari dalam rumah karena penasaran.


"Sandra ada apa ini? Kenapa kamu harus teriak teriak gitu" tanya nek Mawar.


"Itu ma laki laki itu ngikutin aku sampai sini cuma gara gara kalah waktu rebutan stroller bayi buat anaknya Devan" jelas Sandra pada nek Mawar.


"Mawar kamu kenal wanita itu?" tanya tuan Erdan.


"Ini Sandra menantu saya, ibu tirinya Devano" jelas nek Mawar.


Tuan Erdan dan kedua anaknya yang tak lain Lifia dan Yukas pun hanya menganggukan kepalanya faham.


"Sebaiknya kita bicara didalam saja" ujar Lifia.


"Tapi ma laki laki itu?" sergah Sandra.


"Itu keluarga bundanya Devan, sudah ayo masuk Devan sudah cerita tadi kalau kamu akan kesini, dia dan istrinya sudah menunggu didalam" ajak nek Mawar.


Sandra pun bergegas mengikuti mertuanya, namun sebelum itu ia menatap sengit pada pria keturunan turki yang sedari tadi hanya memandang dirinya dengan aneh.


"Kak Yukas, baba ayo masuk" ajak Lifia.


Kedua pria beda generasi itu pun mengikuti langkah Lifia untuk memasuki kediaman Devan.


***


Semua orang kini tengah berkumpul diruang keluarga dirumah Devan, kecuali Devan yang masih dikamar menemani Tiara yang sedang menyusui.


Suasana tampak canggung karena untuk pertama kalinya Sandra dan Lifia bertemu setelah dua puluh tujuh tahun lamanya, itu pun akibat kejadian yang tak diinginkan.


"Mbak saya minta maaf atas kejadian dimasa lalu" tutur Lifia pada Sandra.


"Justru saya yang seharusnya minta maaf karena tidak merawat dan mengasuh Devan dengan baik" ucap Sandra dengan penuh sesal.


Kedua wanita dewasa itu pun berpelukan, seolah menghapus segala kenangan buruk di masa lalu masing masing. Fokus mereka kini sama sama bahagia apalagi dengan kehadiran cucu pertama dari mendiang Dani Mahendra, yang benar benar membawa kebahagiaan untuk semua.


"By the way, apa dia suamimu?" tanya Sandra setelah pelukan keduanya terlerai, matanya sedikit melirik pada laki laki berjambang lebat yang sedang sibuk dengan gawainya.

__ADS_1


"Bukan, dia kakak saya" ucap Lifia dengan senyum hangat.


Merasa dibicarakan, Yukas menoleh pada dua wanita itu tatapan tajam nya seolah menusuk mata Sandra.


"Kenapa berbeda sekali, kau memiliki sorot mata yang lembut dan ramah. Berbanding terbalik dengan dia" sindir Sandra.


"Tutup mulut anda ya!!!" balas Yukas tak terima.


"Kalian ini sudah pada dewasa, sudah memiliki cucu juga kenapa ribut terus sih! Cuma gara gara stroller bayi, toh cucu yang kalian maksud itu sama. Sama sama anaknya Devan" jelas nek Mawar.


"Ehh mommy kapan tiba? Maaf saya tadi sedang menemani Tiara dikamar" ujar Devan bergabung duduk diruangan itu.


"Tidak apa apa, mommy juga baru sampai, oiya apa boleh mommy liat cucu mommy?" ujar Sandra.


"Tentu saja boleh" jawab Devan.


Sandra pun langsung bergegas menuju ruangan baby Ry disusul oleh nek Mawar.


"Elif, Alena mana?" tanya Yukas.


"Dia lebih dulu pulang kak, sepertinya dia salah faham saat Riki membawa adiknya kemari sehingga membuat suasana hatinya buruk" ucap Lifia.


"Hmm dasar anak muda, apa kita langsung nikahkan saja mereka" ujar Yukas.


"Baba setuju, lagi pula usia Alena sudah cukup untuk menikah" balas tuan Erdan.


"Tapi apakah Riki setuju?" tanya Devan yang sedari tadi menyimak obrolan dua generasi itu.


"Sebaiknya kalian tanyakan dulu pada yang bersangkutan, jangan asal memutuskan kehendak" ujar Devan dingin, kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Ketiga orang itu pun saling melempar pandang, namun setuju dengan ucapan Devan.


"Gimana proses perceraianmu?" tanya tuan Erdan pada Yukas.


"Alhamdulillah sudah ditetapkan, dan saya sudah resmi bercerai dengan Alisa, lagi pula sepertinya Alisa lebih bahagia setelah bercerai dengan saya" jawab Yukas sedikit lesu.


"Baba yakin kau pun pasti akan menemukan kebahagiaanmu Yukas, pesan baba kamu berubahlah, buang jauh semua perangai burukmu, baba tau kamu orang baik hanya saja terlalu terpengaruh oleh mantan istrimu itu" jelas tuan Erdan.


Elifia hanya diam menyimak, sedangkan Yukas nampak terdiam seolah merenungi kesalahannya selama ini.


***


Malam pun tiba, Devan menyuguhkan makan malam spesial untuk keluarga besarnya karena ini moment yang berharga bagi Devan. Dimana orang orang yang ia sayangi kini tengah berkumpul ditempat yang sama. Sayangnya kurang satu orang lagi, yaitu kakaknya David Mahendra.


"Mom kakak sudah tau kan kalau anak saya sudah lahir" tanya Devan disela sela kegiatan makan malam mereka.


"Sudah, hanya saja kakakmu masih sibuk belum ada waktu kosong, tapi Dave sudah janji kalau minggu ini dia akan kesini bersama Hanum" jelas Sandra pada Devan yang tampak tegar dan faham dengan kesibukan kakaknya.


"Bunda udah hubungin Alena belum? Dia pasti kesepian dirumah" ucap Tiara


"Tadinya mau bunda telfon, tapi Riki sudah nelfon bunda duluan katanya malam ini Riki mau ajak Alena makan diluar, bunda juga gak enak kalo harus melarang nak" jelas Lifia.

__ADS_1


Obrolan mereka terputus karena tiba tiba terdengar dentingan suara garpu dan piring yang beradu. Semua mata tertuju pada arah suara tersebut, dimana Yukas dan Sandra tengah beradu pandang sengit dengan garpu ditangan masing masing yang di tusukkan pada sepotong ayam bakar yang sama, dan keduanya tak ada yang mau mengalah.


"Sandra ambillah ayam bakar yang lain, atau makanan yang lain ini masih banyak loh" ucap nek Mawar yang tak habis fikir dengan tingkah kekanakan dua manusia itu.


"Tapi ma, itu dadanya tinggal satu dan aku mau itu. Devan kamu tau kan kalo mommy suka sekali ayam bakar bagian dada?" ujar Sandra seraya meminta pembelaan pada Devan.


Devan yang tak tau harus menjawab apa hanya menganggukan kepalanya.


"Yukas kamu ini bukan anak keci lagi, malu sama adik dan keponakanmu, astagaa!!" ucap tuan Erdan benar benar tak habis fikir, karena sedari tadi kedua orang itu belum juga mau mengusaikan masalah remeh temeh itu.


"Ba, tadi siang saya sudah mengalah soal stroller bayi. Kali ini saya tidak mau mengalah lagi" ujar Yukas dengan menatap tajam Sandra.


"Potong dua aja ayamnya" usul Tiara yang sama herannya dengan tingkah orang dewasa dihadapannya itu.


"Tidak mau!!!" ujar Yukas dan Sandra serempak.


"Wahhh, kompak sekali kalian ini.!" Sindir tuan Erdan.


Kedua orang dewasa itu masih tak bergeming, tangannya mereka masih kukuh memegang garpu masing masing.


Tuan Erdan yang merasa geram pun akhirnya memutuskan


"Kalau kalian tetap seperti itu, mungkin lebih baik kalian dinikahkan saja kali ya, bukan begitu Mawar??" ujar tuan Erdan dengan sedikit tersenyum mengejek.


Ancaman itu pun berhasil, akhirnya keduanya sama sama melepaskan ayam bakar dada yang tinggal satu itu.


Devan, Tiara dan Lifia hanya bisa menahan tawa mereka.


"Aku setuju Er, lagi pula Sandra juga sudah sepuluh tahun menjanda" kekeh nek Mawar.


"Mama apa apain sih, aku udah tua gini ogah buat nikah lagi" bantah sandra.


"Selagi belum manopouse masih bisa ko jadi istri saya" gumam Yukas yang kemudian membuat semua mata tertuju padanya.


.


.


Bersambung.....


...Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya bestie...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Biar author tambah semangat lagi loh..!...


...Terimakasih :)...

__ADS_1


.


__ADS_2