
Yukas melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki manssion mewah milik tuan Erdan. Semangat dan ambisinya seakan terkikis dengan kegagalan demi kegagalan yang ia terima.
Apa lagi sang baba tidak memberi kepastian mengenai pembagian harta dan tahta yang dimilikinya, bahkan sampai saat ini babanya itu tak kunjung mengangkatnya sebagai Presdir seluruh perusahaan miliknya. Selama ini Yukas hanya bertugas menjadi tangan kanan tuan Erdan saja.
Sebenarnya itu semua bukan tanpa alasan, tuan Erdan sengaja tidak memberikan anak sulungnya itu tahta, karena ia tidak menyukai sifat sombong dan arogansi yang mendominasi dalam diri Yukas. Dan juga tuan Erdan ingin melihat inisiatif anak laki lakinya itu apakah mampu mendirikan perusahaan sendiri atau tidak.
Ternyata sejauh ini Yukas tidak memiliki niatan itu, ia hanya terfokus ingin menggantikan ayahnya saja, padahal jika saja Yukas mau berusaha tuan Erdan pun tidak akan tinggal diam.
Dan lagi, masih ada pertimbangan pertimbangan lain yang membuat tuan Erdan untuk tidak memindahkan harta dan tahtanya atas nama Yukas maupun cucunya Alena.
.
.
Yukas menjatuhkan tubuh lelahnya diatas sofa, ia tak menyadari jika tuan Erdan sejak tadi sudah lebih dulu duduk disofa yang lainnya.
"Ada apa denganmu Yukas?" tanya tuan Erdan dengan alis yang terangkat sebelah.
"Ah baba! Sejak kapan baba ada disitu??" ujar Yukas langsung merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, ia tidak ingin kelihatan lelah oleh babanya dan membuatnya curiga.
"Sejak kau belum duduk disitu pun baba sudah disini" ujar tuan Erdan.
"Ada masalah apa? Apa masalah kantor? Ceritakan!" ucap tuan Erdan dengan tegas, ia tahu anak laki lakinya itu sedang tidak baik baik saja.
Baru saja Yukas membuka mulutnya untuk berbicara, dering handphone nya berbunyi tanda panggilan masuk. Ia menghela nafas lega, pasalanya ia bisa terhindar dari pertanyaan sang baba.
"Hallo"
"Apaa? Kecelakaan? Dirumah sakit mana saya langsung kesana sekarang!!" ujar Yukas dengan wajah yang berubah puas karena cemas.
"Siapa yang kecelakaan Yukas??" tanya tuan Erdan yang sama khawatirnya.
"Alena ba! Alena kecelakaan, saya harus segera kesana" ujar Yukas kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Baba ikut" ucap tuan Erdan kemudian turut melangkah mengikuti sang anak yang tengah khawatir setengah mati itu.
__ADS_1
*#*#*#*#*#*#*
Setelah sampai dirumah sakit yang dituju Yukas langsung melangkahkan kakinya dengan lebar mencari ruangan dimana Alena dirawat.
"Dokter bagaimana kondisi anak saya??" tanya Yukas saat dokter yang menangani Alena keluar dari ruang perawatan.
"Kondisinya lumayan parah pak, kepalanya mengalami benturan sehingga nona Alena mengalami pendarahan yang cukup banyak, jadi nona harus segera mendapatkan transfusi darah, tapi mohon maaf pak stok golongan darah yang sama dengan nona Alena dirumah sakit ini sedang kosong" jelas dokter.
"Yasudah dok ambil saja darah dia! Dia ayah kandungnya" ujar tuan Erdan ekor matanya mengarah pada Yukas.
"Benar dok, ambil saja darah saya! Saya mau anak saya selamat dok" ucap Yukas dengan wajah khawatirnya.
"Baik pak, mari ke ruangan yang sebelah sana untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu" ucap sang dokter dan diangguki oleh Yukas, kemudian ia pun bergegas menuju ruang pemeriksaan yang ditunjuk oleh dokter tadi.
Setelah kepergian Yukas, tuan Erdan mengintip keadaan cucunya dari balik pintu kaca. Setelah itu ia mendudukan dirinya di kursi tunggu yang berada didepan kamar rawat Alena.
"Permisi tuan, apa tuan ini keluarga nona Alena" ucap seorang pria muda yang menghampiri tuan Erdan.
"Betul, saya adalah kakeknya. Apakah kamu yang sudah menolong cucu saya?" Tanya tuan Erdan dan mempersilahkan pemuda itu duduk disebelahnya.
"Sepertinya saya tak asing dengan kamu" ucap tuan Erdan, Riki hanya tersenyum tanpa berniat menjawab.
Jelas tuan Erdan pasti mengenali nya, karena Riki pernah sekali mengantar Devan meeting dengan tuan Erdan meskipun tidak turut mendampingi Devan tapi Riki sempat berpapasan dengan kakek dari bosnya itu.
"Baba bagaimana kondisi Alena" ujar suara perempuan yang tak lain adalah Alisa mamanya Alena.
"Cukup kritis, dia kehilangan banyak darah" ucap tuan Erdan.
"Lalu dimana Yukas?" tanya Alisa.
"Dia sedang diruang pemeriksaan untuk transfusi darah pada Alena" ucap tuan Erdan.
Dua bola mata Alisa membulat sempurna, tiba tiba perasaan gusar menerpa dirinya, wajahnya yang bermake up tebal tak dapat menutupi kekhawatiran yang ia rasakan.
"Mati aku!!" ucap Alisa dalam hati
__ADS_1
"Kau kenapa Alisa?" tanya tuan Erdan merasa heran dengan perilaku menantunya.
"Tidak ba, tidak apa apa" ucap Alisa mencoba mengontrol dirinya.
.
.
Ditempat lain, tepatnya masih dirumah sakit itu hanya saja berbeda ruangan.
Seseorang tengah mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dan matanya memerah.
Rasa lemas karena khawatir kini berubah menjadi emosi yang mulai memebakar jiwa dan raganya.
"Bajingan! Dasar perempuan jala*g" ucapnya dengan geram.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Agar Author tambah semangat lagi buat up!...
...Terimakasih :)...
.
__ADS_1
.