
"Sayang jangan dicukur ya kumisnya, biar aja seperti ini" ucap Tiara manja seraya membelai rambut rambut halus pada wajah Devan. Gen timur tengah yang diwariskan sang bunda sangat mendominasi dalam dirinya, sehingga kumis dan brewoknya sangat cepat tumbuh meski sering dibersihkan.
"Tapi imut saya nampak kelihatan tua gak sih?" ucap Devan.
"Engga sayang, kamu terlihat dewasa! Apalagi sebentar lagi jadi papa. Cocok banget tau" ucap Tiara tanpa melepas belaian di wajah suaminya.
Padahal ada alasan lain yang membuat Tiara sangat suka jika wajah suaminya ditumbuhi rambut.
Devan memicingkan matanya, menatap wajah Tiara lekat lekat.
"Saya tau maksud kamu kenapa saya tidak boleh mencukur ini" seringai Devan.
"Apa??" tantang Tiara.
"Biar ada sensasinya kan kalau sedang.." sebelum Devan melanjutkan ucapannya, tangan Tiara sudah lebih dulu memebekap mulut suaminya itu.
Membuat Devan tertawa renyah melihat tingkah lucu Tiara dengan wajah yang semerah tomat karena fikiran mesumnya terbaca oleh Devan.
"Aaaa sayang jangan dijelaskan! Aku kan malu" ucap Tiara menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan.
"Kamu gak perlu malu imut, apapun yang kamu suka dari saya katakan saja. Dengan senang hati saya akan menuruti semuanya" ujar Devan mengangkat wajah Tiara yang tertunduk malu.
"Tapi sayang, kamu emang lebih tampan jika begini" ucap Tiara dengan wajah yang masih bersemu.
"Bukannya saya tampan setiap saat?" tanya Devan seraya menaikan sebelah alisnya.
"Emmm kata siapa?"
"Kata saya tadi" ucap Devan sekenanya.
"Iya emang suami aku paling tampan sejagat duniaku" kekeh Tiara.
Cup!!
Devan mengecup kening Tiara lembut.
"Imut, i love you" bisik Devan
"I love you more sayang" jawab Tiara mengeratkan pelukannya pada tubuh sang pria yang paling ia cintai.
*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
"Sandra mau sampai kapan kamu mau bersikap tidak adil pada Devan?" tanya nek Mawar, saat ini mereka tengah duduk berdua diruang tengah.
Sandra hanya diam, dia sendiri bingung mau jawab apa pertanyaan yanh sering dilontarkan oleh ibu mertuanya itu.
"Ini untuk yang kesekian kali saya bicara dan mengingatkan kamu, Devan dan ibunya itu sama sama korban dari kebohongan yang dibikin Dani. Jika kamu merasa disini kamu dan Dave yang paling tersakiti itu salah besar Sandra!" tegas nek Mawar.
__ADS_1
"Tapi ma, setiap aku melihat wajah Devan aku seakan teringat dengan penghianatan mas Dani, setelah kejadian itu mama tau sendiri kan rumah tangga kami menjadi hampa" sergah Sandra.
"Tapi buktinya Dani tetap mempertahankan kamu kan?. Elifia ibu kandung Devan rela memalsukan kematiannya dan meminggalkan putranya yang masih bayi karena rasa kecewanya terhadap Dani dan juga supaya rumah tangga kalian kembali normal kembali setelah kepergiannya" ucap nek Mawar.
"Maksud mama?? Memalsukan kematian gimana!?" muka Sandra kini berubah serius, yang awalnya hanya acuh mendengar ocehan ibu mertuanya yang sudah ribuan kali di ulang ulang itu.
"Ibunya Devan masih hidup, kemarin waktu di desa mama bertemu dengannya. Bahkan ia sering berkunjung ke kediaman Devan" jelas nenek.
Kemudian nek Mawar pun menceritakan kejadian dua puluh tujuh tahun yang lalu itu, sesuai dengan yang diceritakan Elifia maupun bi Esih.
Penjelasan nek Mawar itu jelas membuat Sandra tercengang. Selama ini ia selalu merasa dirinya lah yang paling tersakiti akibat pengkhianatan suaminya, ternyata yang paling tersakiti disini adalah Devan.
Sandra mengira jika Elifia sengaja menggoda suaminya sehingga Dani berpaling darinya, rupanya Elif pun sama dibohongi oleh Dani lelaki pecundang itu.
Kilasan masalalu tentang dirinya yang selalu menyakiti Devan dengan ucapannya bak kaset yang berputar silih berganti. Menimbulkan setitik rasa bersalah dalam hatinya, yang mampu mencairkan keangkuhan dan kekerasan didalam hati nya.
"Ma jadi selama ini aku salah mengira??" tanya Sandra dengan wajah yang berkaca kaca.
"San mama juga baru tau kemarin saat bertemu Elifia, pada awalnya mama pun mengira seperti itu karena Dani tak pernah menceritakan apapun tentang Elif" ucap nenek dengan raut wajah menyesal.
"Asatagaa mas Dani!!! Untung saja kau sudah meninggal, seandainya kamu masih hidup ingin rasanya aku bejek bejek wajahmu mas" geram Sandra.
"Sudahlah San, yang lalu biarlah berlalu. Mama hanya minta kamu bersikap adil pada Devan, baik baiklah sama dia" ujar nenek.
"Tapi ma, apa Devan mau memaafkan aku?" tanya Sandra dengan wajah sedihnya. Namun dihatinya ia merasa lega, kebencian dan keangkuhan yang ia miliki perlahan memudar dan itu membuat hidupnya sedikit lebih ringan.
Tak lama sepasang insan yanh tengah berbahagia pun datang menghampiri mereka.
"Mommy apa kabar?" ucap Tiara lembut dengan senyum ramahnya.
"Baik, kalian apa kabar?" ucap Sandra, tak ada lagi nada kesombongan yang keluar dari mulutnya.
"Baik juga mom" jawab Devan meskipun wajahnya datar minim ekspresi.
"Tiara kamu sedang hamil??" tanya Sandra melihat perut Tiara yang memebesar.
"Iya mom" jawab Tiara dengan senyum semanis mungkin.
"Alhamdulillah, ma aku akan memiliki cucu" ucap Sandra girang.
Membuat Devan dan Tiara saling pandang melihat reaksi aneh dari mommy nya yang mereka tau sangat angkuh dan jutek pada Devan maupun Tiara.
Seketika tawa bahagia Sandra terhenti kala melihat wajah kebingungan anak dan menantunya.
"Kalian kenapa?" ujarnya
"Tidak mom kami tidak apa apa, hanya terkejut saja melihat reaksi mommy saat tau Tiara hamil" jawab Devan.
__ADS_1
Sandra kini tersadar, dia memang jarang sekali menunjukan ekspresi bahagianya didepan anak tirinya itu. Bahkan setiap Devan mendapat prestasi di sekolah nya saat kecil dulu, Sandra tak pernah menunjukkan sikap bangganya padahal Devan selalu memberi tahunya dengan antusias.
"Devan, maafkan mommy ya yang selama ini bersikap tidak adil kepadamu" ucap Sandra dengan mata yang mengembun.
Devan hanya mengernyitkan dahinya, ia jadi teringat ucapan yang sama keluar dari mulut mommy tirinya itu sesaat sebelum Sandra meminta dirinya menggantikan David dihari pernikahannya.
"Maaf mom, jika mommy menginginkan sesuatu lebih baik katakan langsung saja pada saya. Tidak perlu basa basi" ucap Devan langsung ke intinya.
"Tidak Devan kali ini mommy benar benar minta maaf sama kamu atas semua kesalahan mommy" ucap Sandra.
David menatap mata ibu tirinya itu, dan ia tak menemukan kebohongan disana.
"Sebelum mommy minta maaf, saya sudah memaafkan mommy" ucap Devan kemudian memeluk Sandra yang sedari kecil selalu ia impikan mendapat dekapan hangat dari wanita yang ia anggap sosok ibunya itu.
Tiara menatap haru adegan didepan matanya itu, akhirnya hati ibu mertuanya itu luluh juga untuk Devan
Setelah usai drama maaf memaafkan itu mereka pun memutuskan untuk makan malam.
"Nek kakak mana?" tanya Devan karena sejak tadi ia tidak melihat kehadiran David diantara mereka.
"David sudah pergi ke hotel tempat acara mereka besok, katanya akan langsung menginap saja disana" ucap Sandra menjawab pertanyaan Devan.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan hangat, tak ada lagi tatapan dingin ataupun tatapan kebencian yang niasanay menguar.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...VOTE...
...KOMEN...
...Biar Author Tambah Semangat Lagi...
...Terimaksih :)...
.
.
.
__ADS_1