My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.103 Perkara Stroller bayi


__ADS_3

"Pak berhenti.." ucap seseorang dari dalam mobil berwarna hitam seraya melambaikan tangannya pada sepeda motor yang membawa perempuan cantik namun mukanya sedang masam itu.


Kang ojek pun memberhentikan sepeda motornya, kemudian disusul Riki yang keluar dari dalam mobilnya menghampiri kang ojek dan Alena yang masih memalingkan wajah darinya.


"Ada apa ya den?" tanya kang ojek heran


"Itu yang bapak bawa teman saya, dia kurang hafal daerah sini pak, biar teman saya ini saya aja yang antar. Dan ini ongkosnya " ucap Riki kemudian memberikan selembar uang berwarna merah kepada si tukang ojek.


"Oh yaudah kalo gitu den, tapi maaf saya gak ada kembalian soalnya enon ini penumpang pertama saya den" jelas bapak bapak yang belum terlalu tua itu.


"Tidak apa apa, ambil aja buat bapak semua" ujar Riki.


"Terimakasih, kalo gitu saya pergi dulu. Mari non" ucap kang ojek kemudian pergi meninggalkan Riki dan Alena yang sedari tadi hanya diam dengan wajah yang ditekuk.


"Eheemm, perasaan rumah bunda bukan kesini deh arahnya" ucap Riki memecah keheningan.


"Ngapain kamu disini??" tanya Alena ketus.


"Mencari angin, tapi malah ketemunya bidadari turun dari ojek" ucap Riki sambil menahan tawanya.


"Nyebelin banget sih kamu, sono balik lagi kerumah Devan" usir Alena.


"Terus kamu gimana?" tanya Riki, kalo mereka sedang berdua tak ada kata formal bagi keduanya, termasuk panggilan nona yang kini berubah jadi aku kamu.


"Gak usah sok peduli deh kamu!!" ujar Alena masih tak mau menampakkan wajahnya pada sang lawan bicara.


"Astaga, ini seperti bukan diriku saja! Kekanakan sekali aku" batin Alena.


"Aku sih gak peduli ya, tapi aku disuruh bunda buat nyusulin kamu. Bunda khawatir kamu dibawa kabur sama kang ojek mesum" kilah Riki, pada kenyataannya memang dirinya lah yang khawatir.


"Aku kira dia menyusulku karena dia khawatir, ternyata karena disuruh tante Elif hufft" batin Alena, lagi lagi hatinya berdenyut sakit.


"Mau sampai kapan disini, ayok mau pulang kerumah bunda atau kembali ke rumah bos Devan, biar aku antar" ajak Riki seraya menarik lengan Alena, namun langsung ditepis oleh si pemilik lengan.


"Gak usah pegang pegang!! Aku mau pulang kerumah tante aja" ujar Alena kemudian melangkah mendahului Riki.


Pria itu hanya mengedikkan bahunya, masih belum mengerti kenapa wanita yang biasanya selalu caper dihadapannya kini malah terlihat sangat jutek dan galak.


Saat keduanya berada dalam mobil keduanya tak ada satu pun berbicara.


"Ale kenapa?? Ada sesuatu yang mau dikatakan atau ditanyakan??" ucap Riki memecah keheningan.


"Dimana cewek tadi? Kenapa gak kamu bawa?" tanya Alena masih enggan melihat kearah Riki.


"Oh dia namanya Raisa, Raisa masih dirumah bos Devan sengaja saya tinggalkan disana biar dia lebih akrab dengan bunda dan nenek juga non Tiara" jelas Riki menoleh kearah Alena yang tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar, wajahnya semakin muram.


"Apa dia cemburu??" ujar Riki dalam hati, namun tiba tiba senyum jahilnya muncul.


"Kamu tidak mau bertanya Raisa itu siapanya aku?" tanya Riki dengan sedikit senyum, entah kenapa melihat Alena yang sendang cemburu begitu malah membuat dirinya senang, namun Alena tetap hening.

__ADS_1


"Dia itu orang yang paling berharga dalam hidupku dan paling aku sayangi" jelas Riki ia memperlambat laju mobilnya kemudian menatap kearah Alena, ingin memastikan reaksi Alena seperti apa.


"Bodo amat aku gak nanya!! Bisa cepat gak sih bawa mobilnya, kenapa lambat sekali..!!!" ujar Alena dengan suara yang tinggi, mendengar ucapan Riki tadi membuat emosinya tidak terkendali lagi hingga membuat dirinya marah marah tak jelas.


"Baik nona.." ucap Riki, senyumnya mengembang melihat Alena yang tampak makin kesal.


Sepanjang jalan Alena terus melihat kearah jendela bahkan hampir membelakangi Riki saking enggannya melihat wajah laki laki menyebalkan itu.


Sedangakan pria disebelahnya fokus mengemudi dengan senyum yang tak luntur diwajahnya dan sesekali ia melirik kearah Alena


****


Ting...


Satu pesan masuk pada handphone Sandra, saat ini ia sedang mengendarai mobilnya menuju kediaman Devan. Ya, setelah mengetahui mertuanya pergi ke desa untuk melihat anak Devan yang sudah lahir, ia pun tak mau kalah dan siangnya langsung pergi ke desa menyusul nek Mawar sendirian, karena David masih belum ada waktu kosong dikantornya.


Ia membuka pesan itu yang ternyata dari Devan. Devan mengirimkan foto buah hatinya yang kebetulan sedang tidak tertidur sehingga menampakkan sorot mata berwarna coklat terang, hidung mancung bibir yang tipis seperti milik Devan.


"Momy kapan kesini, lihat anakku mommy lucu kan? Namanya Ryshaka Devandra, saya harap momy bisa segera datang kesini" tulis Devan dalam pesannya.


"Astaga, lucu sekali aku udah gak sabar mau gendong bayi. Akhirnya aku punya cucu juga" gumam Sandra.


Ia langsung membuat status di aplikasi hijau miliknya memamerkan foto putra pertama Devan dengan tulisan 'Tunggu nena ya sayang, sebentar lagi nena akan gendong kamu Ryshaka Devandra cucu pertamaku'


Bibirnya menyungging, ia sengaja membuat status seperti itu agar teman teman sosialitanya tau kalau dia juga sudah memiliki cucu, dengan kata lain pamer. Kemudian ia pun kembali melajukan mobilnya.


Tak lama setelah Sandra keluar dari mobilnya, mobil lain pun parkir disebelah mobil CRV putih milik Sandra.


"Baba tunggu dimobil sebentar ya, saya mau beli hadiah dulu untuk cicit baba" ujar Yukas dan disetujui oleh tuan Erdan.


.


.


Sandra tampak serius memilih dan memilah barang apa saja yang akan ia beli untuk baby Ry, hingga pandangannya jatuh pada sebuah stroller bayi berwarna navy dengan desain sangat elegan dan kekinian banget.


Dengan segera Sandra menghapiri stroller tersebut. Namun saat akan mengambilnya tangan lain turut ingin mengambil stroller bayi tersebut.


"Maaf ini saya duluan yang mau ambil" ujar suara pria maskulin yang tangannya masih bertengger di stroller itu.


"Enak aja ini saya duluan loh yang mau ambil" ujar Sandra nyolot.


Pria itu nampak menghembuskan nafas kasar, badan dan fikirannya tengah lelah karena masalah hidup dan pekerjaannya. Ditambah ini lagi, perkara stroller bayi aja harus berebut dengan orang. Tapi mau gimana lagi, ia sudah cocok dengan dorongan bayi itu sejak pertama kali ia melihat.


"Maaf pak, bu ada apa ya?" tanya sang pegawai karena mendengar keributan akibat suara Sandra yang kencang.


"Mbak saya lebih dulu mau mengambil stroller ini, tapi bapak ini malah menahannya" ujar Sandra dengan tatapan sinis pada pria berjambang lebat yang diperkirakan seumuran dengannya itu.


"Tidak mbak saya lebih dulu" sanggah sang pria.

__ADS_1


"Aduh gimana ya, stroller itu barang limited edition dan kebetulan ditoko kami hanya tinggal satu" ujar si pegawai.


"Eh tuan bisa nggak anda ini mengalah saja pada perempuan. Saya mau beli ini untuk cucu saya" ujar Sandra dengan wajah angkuhnya.


"Saya juga ingin membeli ini untuk cucu saya!!!" ujar pria itu tak kalah angkuh.


"Aduh ini nenek nenek sama kakek kakek kenapa malah debat disini sih" ujar si pegawai dalam hati.


"Maaf pak bu, mohon jangan membuat keributan disini. Biar adil bagaimana kalau kalian suit aja, siapa yang menang maka dialah yang berhasil mendapatkan srtoller itu" ujar si pegawai konyol, namun ide tersebut disetujui oleh kedua orang dewasa yang sama sama angkuh itu.


***


"Akhirnya aku bisa memberikan hadiah stroller limited edition ini untuk baby Ry" ujar Sandra seraya memasukan barang barang yang sudah dibelinya tadi, tidak hanya kereta dorong bayi itu saja, tapi berbagai kelengkapan bayi dari pakaian, bodycare, hingga peralatan makan dan mainan ia belikan.


"Hufftt lucu lucu sekali, aku udah gak sabar juga menantikan kelahiran anaknya Dave, semoga perempuan. Biar lengkap sepasang cucuku" gumam Sandra dengan senyum yang mengembang.


Dari partandingan suit yang ia lakukan dengan pria angkuh itu, Sandra lah yang jadi pemenang jadi mau tak mau pria itu harus merelakan stroller pilihannya untuk Sandra, meskipun sebenarnya memang pria itu duluan yang akan mengambil barang tersebut.


Saat akan menjalankan mobilnya, mata Sandra tertuju pada pintu masuk babyshop yang menampilkan seorang pria dewasa menenteng dua paperbag besar ditangan kan kirinya, pria itu yang baru saja berdebat dengannya didalam sana.


"Dasar pria tua cihh!!!" cibir Sandra dan kembali melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.


Yukas masuk kedalam mobilnya dengan wajah muram, kalah suit dengan ibu ibu rempong itu benar benar menjatuhkan harga dirinya, karena harus mengalah. Andai saja disitu tidak ada pegawai toko sudah dia ambil paksa barang yang dikehendakinya itu.


"Yukas kamu kenapa? Perasaan pas masuk kesana tadi itu wajah biasa biasa aja?" tanya tuan Erdan.


"Tidak apa apa ba, mungkin saya hanya kelelahan saja hari ini" balas Yukas lesu.


"Apa kamu kuat nyetir, kalo tidak kita istirahat dulu" pinta tuan Erdan.


"Tidak perlu ba, lagi pula sebentar lagi kita sampai" jawabnya kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka.


.


.


Bersambung.....


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMA KASIH...


.

__ADS_1


__ADS_2