My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.50 Bertemu dan Terungkap


__ADS_3

"Non Tiara pasti senang nih aku bawakan getuk gula merah buatan ku sesuai pesanannya semalam" ucap bi Esih saat memasuki halaman rumah majikannya sambil menenteng sebuah plastik.


Karena semalam Tiara menelfon bi Esih meminta besok pagi ia di bikin kan getuk gula merah.


Saat mendekati pintu, ia mendengar suara obrolan dua wanita.


"Tumben non Tiara ada temannya" batin bi Esih.


"Non ini bibi bawakan getuk singkong pesanan non" Namun suaranya melemah kala pandangannya tertuju pada satu wajah yang sangat ia kenal.


"Nyonya" ucap bi Esih lemah


"Bi Esih?? Bibi kenapa?" ucap Tiara panik kemudian menahan tubuh asistennya itu agar tidak tumbang.


Lifia hanya diam mematung, hati nya berjolak dilanda kebingungan.


"Apakah ini saatnya" ucapnya dalam hati.


Tiara kemudian membopong tubuh lemah sang asisten untuk duduk disofa.


"Bi? Bibi kenapa? Ayo bilang sama aku jangan bikin khawatir begini?" tanya Tiara panik.


Pandangan bi Esih tertuju pada Lifia yang sedari tadi hanya diam tak berkata. Ia yakin seratus persen jika wanita yang ada dihadapannya dan Tiara itu adalah nyonya nya yang dikabarkan meninggal 27tahun lalu.


"Bi Esih.." ucap Lifia terbata.


"Tante, tante kenal sama bibi?" tanya Tiara.


Lifia hanya mengangguki kepalanya.


"Nyonya... Nyonya Elif masih hidup?" ucap bi Esih perlahan.


Elifia hanya terdiam.


"Makasud bibi gimana? Bukankah Elif itu ibunya Devan?" tanya Tiara.


"Itu non, itu nyonya Elif!! Bibi yakin non" ucap bi Esih sambil menunjuk kearah Elifia.


Mata Elifia mulai mengembun, ia tidak bisa lagi menutupi kenyataan.


"Tante Lifia tolong jelaskan???" ucap Tiara dengan penuh tanda tanya.


"Iya nak, tante memang Elfia Ayshe ibundanya suami kamu" ucap Elifia air matanya sudah tak tertahan lagi.


********************


Sesampainya dikantor, Devan malah tidak fokus bekerja. Fikiran nya terus saja dirumah, apalagi tadi pagi ia melihat mobil itu kembali mengintai rumahnya. Karena kahawstir pada Tiara akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang.


Namun ia terkejut, manakala ada yang suara wanita mengaku sebagai bundanya yang ia ketahui sudah meninggal dua puluh tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


"Anda jangan mengarang cerita!!!! bunda saya sudah meninggal saat saya bayi!!!" ucap Devan yang tiba tiba masuk kedalam rumah dengan wajah yang memerah.


Elif hanya bisa menangis, wajar saja jika putranya tidak percaya. Bahkan dulu ia tidak meninggalkan selembar foto pun untuk putranya kenang jika saat merindukannya. Jika sekarang putranya tidak percaya, itu wajar baginya.


"Sayang!" ucap Tiara kemudian menghampiri suaminya yang sedang terbakar emosi itu.


"Sayang, sabar dulu kita coba dengarkan penjelasan tante Lifia dan bi Esih dulu ya" ucap Tiara seraya mengusap dada sang suami agar ia tenang, kemudian mengajaknya untuk duduk disofa yang masih kosong.


"Kalian jangan langsung percaya saja dengan ucapan wanita ini, bisa saja ia hanya menipu" ucap Devan tegas.


"Sayang kamu sabar dulu" ucap Tiara.


"Imut, asal kamu tau mobil yang telah mengintai kita akhir akhir ini, itu miliknya" ucap Devan pada sang istri.


"Maafkan bunda nak, bunda tidak berniat jahat sama kamu. Bunda hanya ingin melihat keadaanmu meskipun hanya dari jauh" ucap Lifia terisak.


Devan hanya membisu, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini dia sendiri pun tidak mengerti.


"Nyonya kemana saja selama ini?? Jika nyonya masih hidup lalu yang dikebumikan waktu itu siapa??" tanya bi Esih, kesadaran dan tenaganya kini sudah mulai pulih


Ia tidak bisa membiarkan ke salah fahaman antara ibu dan anak itu berlanjut.


"Saya pulang kerumah orang tua saya bi" ucap Lifia pelan masih dengan isakkannya.


"Lalu untuk apa anda kembali lagi kesini?? Asal anda tau karena keegoisan anda itu, anda membiarkan putra anda tidak merasakan kasih sayang kedua orangtunya sedari kecil" ucap Devan dengan mata yang memerah, seandainya ia perempuan mungkin saja ia sudah menangis sesenggukan sedari tadi.


"Sayang tenang" Tiara mencoba menenangkan sang suami.


"Maafkan bunda nak, bunda mengaku salah. Saat itu buda merasa sangat kecewa karena papa kamu sudah membohongi bunda. Bunda terpaksa meninggalkan kamu karena keluarga bunda tidak akan menerima kamu nak. Maafkan bunda, bunda tidak tau kalo papa kamu tidak menyayangimu dengan baik, seandainya bunda tau bunda sudah menjemput mu sedari dulu" jelas Lifia dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


Devan memalingkan wajahnya.


Waktu kecil ia selalu berdoa pada tuhan, agar ibunya bisa hidup kembali. Kini tuhan telah mengabulkan doanya, namun ada sedikit kecewa dalam hatinya. Kenapa bundanya itu baru datang sekarang, bukannya dulu saat ia benar benar membutuhkan sosok ibu, yang tidak Devan dapatkan dari Sandra.


"Nak maafkan bunda" lirih Lifia.


Devan tak bergeming.


"Nak, jika kamu tidak menginginkan bunda disini atau di hidupmu, bunda terima. Bunda akan menjauh, tapi izinkan bunda sekalii saja memeluk tubuhmu nak" ucap Lifia.


Hati Devan berdenyut sakit, tubuhnya bergetar cukup hebat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lifia.


Tanpa aba aba Devan langsung berjalan kearah Elifia, memeluk erat tubuh sang ibunda yang selama ini ia rindukan.


Tiara dan bi Esih hanya memandang haru melihat pertemuan antara ibu dan anak yang selama 27 tahun terpisahkan itu.


"Nak, maafkan bunda" ucap Lifia lirih disela pelukan mereka.


Devan langsung melepaskan pelukannya, lalu bersimpuh di kaki sang bunda dengan air mata yang mengalir tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Nak jangan begini" ucap Lifia seraya mengangkat bahu sang putra.


"Saya mohon janga pernah pergi lagi" ucap Devan menatap lekat pada sorot mata yang sama persis dengan dirinya


Elif hanya tersenyum, ia menyeka air mata yang jatuh di pipi pria gagah yang tengah bersimpuh dikakinya itu.


"Nak, bunda akan pergi jika kamu yang meminta. Bunda bahagia sekali kamu mau memaafkan bunda" ucap Lifia.


"Bunda apa Tiara boleh memeluk bunda juga" ucap Tiara.


"Boleh nak, kemari" ujar Lifia.


Mereka bertiga pun berpelukan, seakan melapskan kerinduan yang selama ini dipendam.


"Bunda kenapa tidak jujur aja sejak awal pada Tiara" ucap Tiara.


Mereka kini sudah lebih tenang, setelah melepaskan segala kegundahan dihati masing masing.


"Bunda takut Devano akan marah dan malah mengusir bunda"


Devan hanya menatap datar bundanya itu.


"Lagipula berminggu minggu bunda mengintip rumah kalian dari jauh, tapi baru kemarin bunda dapat melihat wajah Devano secara langsung" jelas sang bunda.


Lifia pun menceritakan perjalanan hidup yang ia jalani setelah pergi dari desa ini dengan memalsukan kematiannya.


Saat ini ia merupakan pengusaha resort dan perhotelan dikota sebelah, peninggalan Almarhum suaminya.


"Emm, nak tapi bunda mohon yaa jangan ceritakan keberadaan bunda pada papa mu" ucap Lifia yang sama sekali belum mengetahui kematian Dani, sang mantan suami.


Tiara dan Devan hanya saling melempar pandang.


"Tuan sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu" ucap bi Esih.


Membuat Lifia terkejut.


.


.


Bersambung....


Jangan Lupa di Like, komen, tambahkan ke favorite, dan kasih vote yaa biar author tambah semangat lagi..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2