
"Papa.. Mama mana?" ucap Alena antusias saat Yukas baru saja menampakkan wajahnya setelah beberapa saat menghilang untuk merefresh fikirannya
"Sayang, gimana apa masih ada yang sakit?" tanya Yukas seolah mengalihkan pertanyaan dari Alena.
"Sudah lebih baik pa, kenapa dari kemarin mama gak ada jenguk aku ya" tanya Alena dengan wajah murung.
"Jangan sedih gitu dong sayang, mulai sekarang kamu tidak perlu mencari mamamu lagi" ucap Yukas seraya memeluk tubuh putrinya.
"Maksud papa apa?" ucap Alena pelan
"Biarkan mamamu bahagia dengan pilihannya, kamu jangan khawatir. Kamu masih memiliki papa dan opa yang menyayangimu dengan tulus" ucap Yukas seraya membelai rambut panjang Alena.
"Tapi pa, Ale bukan anak kandung papa, Apa Ale pantas? Ale juga malu sama opa dan tante Elif dengan semua kelakuan Ale selama ini" ucap Alena mulai terisak dalam pelukan sang ayah.
"Kita hanya perlu merendahkan ego kita dan meminta maaf, papa yakin tantemu pasti akan memberi maaf untuk kita" ujar Yukas kemudian di angguki oleh Alena pertanda setuju dengan apa yang diucapkan Yukas.
"Oiya pa laki laki itu? Kenapa dia tidak pernah datang lagi kesini?" ucap Alena yang kini sudah melerai pelukannya pada sang ayah.
"Laki laki yang mana maksud kamu?" ucap Yukas mengerutkan alisnya.
"Emm, anak buahnya Devano" ucap Alena pelan seketika pipinya memerah.
"Papa kurang tau sayang.! Makanya kamu segera pulih, nanti kamu cari pemuda itu sampai dapat. Papa tau kamu terpikat sama dia kan?" ucap Yukas menggoda putrinya.
Alena tak menjawab, ia hanya tersenyum malu malu. Seumur hidupnya selama dua puluh lima tahun, baru pertama kali ia merasa penasaran pada satu lelaki. Maklum saja, sebelumnya Alena terlalu angkuh sehingga selalu memandang rendah setiap lelaki yang mendekatinya.
.
*****
Di dalam sebuah mobil yang melaju ringan menuju rumah sakit.
"Devan, opa kamu sakit apa?" tanya nek Mawar pada Devan yang tengah fokus pada kemudinya.
"Kena serangan jantung nek" jawab Devan.
"Oohh, memangnya beliau tinggal didaerah sini juga ya. Kenapa nenek baru tau" sambung sang nenek.
"Bukan nek, opa tinggal dikota B dan sebenarnya saya dan Imut baru dikenalkan oleh bunda pada opa masih belum lama juga, kalau tidak salah setelah pesta kakak" jelas Devan.
Nek Mawar hanya manggut manggut mendengar penjelasan dari Devan.
__ADS_1
"Dan kebetulan juga kemarin cucu perempuannya kecelakaan didaerah perkebunan kita. Dan dirawat di RS yang sama dengan opa" timpal Devan lagi.
Tak ada pertanyaan lagi dari sang nenek, suasana berubah menjadi hening. Karena nek Mawar lebih fokus pada perkebunan teh milik cucunya yang menghijau luas sepanjang perjalanan.
Mata Devan melirik ke kursi disebelah kirinya, ia hanya tersenyum kala mendapati istri tercintanya tengah terlelap tanpa terganggu oleh apa pun. Seklias Devan mengusap perut besar Tiara kemudian kembali fokus membelah jalanan Desa.
****
Rumah Sakit Harapan
"Assalamualaikum bunda" ucap Tiara dengan mata yang berbinar kala sang ibu mertua membuka pintu ruang rawat tuan Erdan.
"Walaikumsalam, anak anak bunda udah datang. Eh ada ibu juga" ucap Lifia menyambut ketiga tamu spesialnya dan mempersilahkan ketiganya masuk.
"Opa mana?" tanya Devan.
"Itu lagi dikamar mandi, Alhamdulillah hari ini opa kalian sudah bisa pulang" ucap Lifia dengan wajah yang ceria.
"Syukurlah bunda, emm gimana keadaan Alena?" tanya Tiara.
"Dia sudah membaik ko, nanti sebelum pulang kita besuk dia dulu" ujar Lifia.
"Nah, itu opa sudah selesai" ujar Lifia kemudian menghampiri tuan Erdan untuk membantu gerak sang baba.
"Opa senang sekali kalian datang mengjenguk opa" ujar tuan Erdan menatap Devan dan Tiara begantian.
Namun tubuhnya membeku kala pandangannya beradu dengan sosok wanita tua berkacama yang duduk disebelah Tiara. Begitupun wanita tua itu, ia seakan terkejut ketika tau siapa orang tua dari Elifia.
"Baba, ibu kalian saling mengenal?" ujar Lifia yang langsung menyadari ada keanehan diantara dua insan yang bisa di bilang sudah tak muda lagi itu.
Keduanya pun langsung tersadar dan sama sama menetralkan kembali segala keterkejutan yang mereka rasakan beberapa detik yang lalu.
Tuan Erdan tak menggubris pertanyaan Lifia, dengan santai ia berjalan menuju brangkar dan mendaratkan bokongnya disana.
"Emm Tiara Devan bagaimana kalau kita lihat kondisi Alena dulu yuk?" ucap Lifia seraya mengedipkan sebelah matanya pada Tiara.
Ia faham jika baba dan mantan mertuanya itu butuh waktu berdua untuk berbicara.
Mengerti dengan kode yang diberikan Lifia, Tiara langsung menyetujui usul mertuanya itu.
"Ah ayo bun, ayo sayang!!!" ucap Tiara menarik lengan Devan.
__ADS_1
"Imut, kamu aja yang pergi sama bunda ya" ujar Devan malas.
Tiara memebulatkan kedua bola matanya.
"Sayang aku juga malas menjenguk Alena, tapi aku lapar, baby kita kelaparan! Ayok temani aku cari makanan" rengek Tiara. Itulah senjata ampuh agar suaminya mau keluar dari ruangan itu.
"Baby, papa tidak akan biarkan kalian kelaparan" ucap Devan mengusap perut Tiara.
"Nek, kita mau cari makan dulu bentar ya. Nenek kan pasti cape karena baru aja datang dari kota, nenek tunggu kita disini sebentar ya." ucap Tiara selembut mungkin
"Ayo sayang, aku sudah gak kuat nih laper banget" dengan cepat Tiara menarik lengan sang suami.
"Bunda ikut, bunda juga laper belum makan dari pagi" ucapi Lifia menyusul langkah anak dan dan menantunya.
.
.
Setelah ketiga orang itu pergi.
"Mawar, kau kah itu?" ucap tuan Erdan tanpa memandang kearah lawan bicaranya.
.
.
Bersambung...
...Semangatin Terus Author ya zheyenk...
...JANGAN LUPA...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKASIH :)...
.
__ADS_1