
"Shakaa tungguin mama jangan lari lari begitu nak, nanti kamu terjatuh" teriak Tiara dengan gemasnya melihat putra pertamanya kini sudah tumbuh menjadi balita lucu dan sangat aktif.
Tiara dan Devan juga mengganti panggilan anaknya yang semula Ry (Ray) menjadi Shaka karena permintaan anak berusia dua tahun setengah namun sudah pandai berceloteh itu.
"Aku chakaa bukan leyyy mama papa!! Leyy itu nama guguknya opa Jaya" begitulah ucap bocah menggemaskan itu pada kedua orang tuanya saat tidak mau di panggil Ray lagi karena namanya sama dengan hewan peliharaan milik tetangga mereka yang baru enam bulan terakhir pindah didekat kediaman Devan di desa, tak ada bantahan dari Devan mau pun Tiara baik Ray maupun Shaka tetap sama saja.
"Ayo mama kejal chakaa" ucap bocah itu dengan tertawa riang melihat wajah mamanya yang sudah memerah karena kepanasan.
"Iya sayang sebentar" ucap Tiara, keduanya baru saja selesai memanen sayuran dibelakang rumah, karena hari sudah semakin siang dan terik Tiara pun mengajak putra tuk kembali kerumah. Namun dengan tak sabarnya Shaka terus berlari riang apalagi saat mendengar suara sang papa memanggil namanya dari dalam rumah.
"Sayang kamu sudah pulang?" tanya Tiara pada Devan.
"Iya ma, entah kenapa hari ini badan papa tidak enak kepala rasanya pusing banget, perut papa juga tidak enak rasanya" ucap Devan, kemudian menurunkan Shaka dari gendongannya karena merasa kepalanya semakin pusing.
"Papa kenapa? Papa cakit?" tanya bocah itu dengan polosnya saat melihat wajah Devan yang pucat dengan keringat dingin yanga mengucur.
Tiara langsung memapah sang suami menuju kamarnya, dan merebahkannya disana, tak lupa sang bocah kecil terus membuntuti mereka.
"Shaka jaga papa sebentar ya, mama mau ambil obat dulu"
"Papa cakit apa? Cini bial doktel caka peliksa papa" ujar Shaka dengan senyum cerianya seraya membawa peralatan dokter mainan miliknya.
Devan hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan putra semata wayangnya itu, lemas ditubuhnya perlahan menghilang setelah melihat senyum cerah dan tingkah polos dari putra tampannya itu.
"Sini pak dokter, tolong periksa saya perut saya sakit sekali dok" ucap Devan pura pura sakit agar putranya itu senang.
Dengan riang Shaka langsung naik kaetas tempat tidur dengan gaya seriusnya ia memeriksa sang papa seolah olah menjadi dokter sungguhan.
"Gimana pak dokter, saya sakit apa??" tanya Devan.
"Pelut papa cakit kalna belum makan" jelas Shaka.
"Loh kok anak papa tau?" tanya Devan
"Cacingnya dali tadi telus belteliak minta makan paaah hahaha" keduanya pun tertawa.
"Ada apa nih girang banget, bahagianya gak ajak ajak mama?" tanya Tiara dengan membawa nampan makanan ditangannya.
"Tau gak mah, papa cakit kalna belum makan tau" ucap Shaka.
__ADS_1
"Hmmm mama bilang juga apa pa, tadi pagi sarapan dulu malah langsung pergi aja" ujar Tiara dengan perlahan menyuapi sang suami.
"Kerjaan papa sedang banyak sekarang ma" elak Devan.
Setelah Riki menikah dengan Alena, hampir dua tahun ini Devan menghandle pekerjaannya sendiri. Ia belum menemukan asisten yang cocok sesuai kualifikasinya. Sedangkan Riki, dia diminta untuk mengembangkan cabang restoran milik tuan Erdan yang awalnya untuk Devan namun karena Devan sudah memiliki usaha sendiri ia mempercayakan itu pada Riki yang kini sudah resmi menjadi sepupu iparnya.
"Ini makan dulu pa, baru diminum obatnya, aku mau ajak Shaka tidur siang dulu" ucap Tiara, dan hanya dibalas anggukan oleh Devan, meski pun badanya lemas tapi ia masih kuat untuk makan sendiri. Lagi pula ia tak ingin merepotkan istrinya yang mungkin lebih lelah darinya karna mengurus ia serta sang buah hati.
"Ayo sayang bobo siang dulu" ajak Tiara pada Shaka.
"Papa cepat cembuh ya, caka bobo ciang dulu muaahh" ucap bocah kecil itu kemudian mencium pipi sang ayah. Membuat Devan tersenyum semakin lebar.
"Benar kata orang, keluarga adalah obat dari segala sakit dan pelerai kegamangan" batin Devan.
"Selamat bobo siang kesayangan papa" ucap Devan kemudian mengecup sayang putra sulungnya itu.
Setelah Tiara membawa Shaka ke kamarnya Devan melanjutkan makan meski ditempat tidur. Sejak usia satu tahun Shaka memang sudah tidur terpisah dari kedua orang tuanya.
***
"Sayang sudah diminum obatnya?" tanya Tiara kemudian kembali menutup pintu kamar mereka.
Tiara hanya mengangguk kemudian mendekat dan membaringkan dirinya disebelah sang suami kemudian memeluknya dengan sayang.
"Maaf ya akhir akhir ini aku selalu pukang larut, tidak sempat menemani Shaka main, kurang memeprhatikan kamu" ucap Devan pelan.
"Memangnya cari asisten yang seperti apa sih sayang? Kenapa sulit sekali" tanya Tiara.
"Sekarang sudah dapat ko imut, musim panen juga sudah akan berakhir. Setelah ini aku janji akan meluangkan banyak waktu untuk kalian, syukur syukur kalo kita bisa kasih adik buat shaka" ujar Devan diakhiri dengan kekehan ringan.
Tiara yang serius mendengarkan ucapan sang suami tiba tiba matanya membola.
"Apa gak terlalu cepat sayang? Shaka masih kecil"
"Engga ko, asal kamu tau kalau saja Shaka tau kalau Delia mau punya adik dia juga pasti merengek minta adik" kekeh Devan.
Delia Haura Mahendra adalah sepupu Shaka yang tak lain anak pertama David dan Hanum.
"Iya juga ya" jawab Tiara.
__ADS_1
"Yaudah ayo kita bikin adik buat Shaka sekarang" ucap Devan dengan alis yang naik turun.
"Awww, imut ko malah nyubit sih" desah Devan merasakan perih dipinggangnya.
"Sayang kamu ini lagi gak enak badan, bisa bisanya masih sempat berfikir mesum" bantah Tiara.
"Imut aku udah minum obat, udah mendingan ko, badan doang yang gak enak kalo yang lain nya masih bisa ko bikin kamu enak" goda Devan seraya mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Tiara bersemu merah, meski pun bukan lagi pasangan baru namun tetap saja setiap kali Devan menggodanya Tiara akan merasakan panas diwajahnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Devan langsung melahap bibir merah muda kesukaannya dengan penuh gairah.
Siang itu pun mereka lalui dengan lenguhan kenikmatan hingga keduanya sama sama puas dan terkapar dengan keringat yang bercucuran.
"Imut.." Desah Devan saat tiba tiba Tiara kembali melahap bibirnya.
Namun itu tak berselang lama, kegiatan mereka terhenti akibat ketukan pintu dan suara teriakan anak kecil, siapa lagi kalau bukan Ryshaka putra pertama mereka.
Dengan segera Tiara mengambil pakainnya, untung saja sebelumnya ia menggunakan dress rumahan sehingga mudah digunakan dengan cepat. Devan tak ada cara lain, ia hanya bisa berpura pura tidur untuk mengihdari kekepoan anak ceriwisnya itu.
Ckleekk, pintu terbuka.
"Mama habis ngapain, kenapa kelingetan gitu??"
Bersambung....
Setelah sekian lama hiatus, pas ngeliat karya author naik level masya Allah jadi semangat kembali buat up. terimakasih buat readers setia author yang sudah membaca sampai sini. Semangatin terus author ya biar rajin lagi up nya
...JANGAN LUPA...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
FOLLOW AUTHOR YA
...TERIMAKSIH :)...
__ADS_1