
"27 tahun lalu aku meninggalkan rumah itu dan anakku satu satunya. Nak, bunda kangen. Kata orang kamu yang meninggali rumah ini, tapi setiap bunda kesini untuk melihatmu dari kejauhan, kamu tidak pernah menampakkan wajahmu, kamu pasti sangat tampan nak" ucap seorang wanita pandangannya lurus pada sebuah rumah minimalis namun terkesan mewah, yang tak lain rumah kediaman Devan dan Tiara.
Ia akui, rumah itu memang sudah hampir berubah enam puluh persen, namun kenangan dirinya saat muda dulu, masih segar dalam ingatannya.
Baru beberapa bulan ini ia sering mencuri pandang kearah rumah itu, hanya sekedar ingin melihat putranya. Namun nihil, tak sekalipun ia melihat wajah yang sangat ia rindukan itu. Sampai ia sengaja menjadi donatur di panti asuhan Arrahman agar ia dapat secara intens mendatangi desa tempat ia KKN dulu.
Mengapa tidak langsung saja berbicara pada sang anak kalau ia adalah ibu kandungnya? Bagi Elifia itu tidak mudah, karena putranya dan semua orang di desa ini mengetahui bahwa dirinya telah meninggal 27tahun lalu.
Bahkan saat ini ia harus menyembunyikan identitasnya agar para warga tidak begitu mengenali dirinya.
Itu semua ia lakukan karena rasa sakit hati dan kecewa atas kebohongan yang telah dilakukan suaminya dulu.
Ia bekerja sama dengan temannya yang kebetulan adalah dokter yang menanganinya saat itu, untuk memalsukan kematian dirinya. Kemudian ia pulang kerumah orangtua yang dulu ia tinggalkan demi seorang laki laki penghianat yang ia pilih.
Meskipun pada awalnya orang tua Elif murka, namun mereka tetap menerima kembali anak perempuan mereka satu satunya itu, bagaimanapun Elif tetaplah anaknya. Namun Elif tidak jujur pada orangtuanya tentang kelahiran anak laki laki nya
Elif kemudian meneruskan studynya diluar Negeri. Ia juga menikah dengan seorang pengusaha kaya, namun hingga suaminya itu meninggal mereka tidak juga dikaruniai buah hati. Dan itu membuat Elif terus dirundung rasa bersalah pada putranya Devan.
Saat ini Elif sudah lama menjanda, ia hanya fokus pada anaknya meskipun hanya dapat memandang dari jauh, dan belum kesampaian untuk melihat bentuk wajahnya.
.
.
.
Setelah puas memandangi rumah putranya ia pun memutuskan untuk pergi dari situ.
"Jalan pak" ucapnya pada sang supir.
Mobil itu pun menjauh dari rumah kediaman Devan.
Tak lama setelah kepergian Elif, Devan dan Tiara pun tiba dikediamannya.
"Imut, kamu lihat tidak sepertinya mobil tadi berhenti didepan rumah kita" ucap Devan seraya memandang sebuah mobil yang kini telah menjauh dari jangakauan pandangnya.
__ADS_1
"Kebetulan aja kali sayang" jawab Tiara sekenanya.
Namun masih ada yang mengganjal dalam benak Devan tentang mobil itu, namun ia menepisnya dan membenarkan ucapan sang istri bisa saja itu kebetulan.
*******
Hari demi hari pun telah berganti, sudah menjadi kebiasaan rutin untuk Elif memandang kediaman sang putra, yang sampai saat ini belum jua ia lihat raut wajah tampannya.
Kali ini Elif memutuskan lebih pagi mendatangi rumah itu.
Saat itu juga seperti biasa Tiara akan mengantar suaminya berangkat kerja sampai depan pintu, ia sudah tak lagi ingin ikut ke kantor. Karena tak mau merepotkan sang suami, lagi pula Devan sudah berjanji akan makan siang dirumah hari ini.
Saat Devan akan masuk kedalam mobil, kedua mata Elif pun melebar sempurna memandang wajah tampan dan gagah Devan. Hatinya berdesir hangat, dengan mata yang berkaca kaca.
"Itu pasti anakku pak Karim itu pasti anakku!!" ucap Elif pada sang supir. Air mata nya tak dapat ia bendung lagi.
"Wajahnya sangat tampan, dia mirip sekali denganku dan mas Dani" ucap Elif.
Sang supir hanya memandang haru majikannya itu, akhirnya setelah berminggu minggu mengintip dari kejauhan akhirnya ia dapat memandang wajah tampan putra yang sangat ia rindukan itu.
Diperjalanan pun ia masih memikirkan apa tujuan dari pemilik mobil itu.
Fikiran nya langsung tertuju pada Tiara, ada perasaan khawatir menyeruak dalam diri Devan. Ingin rasanya ia putar balik namun client penting telah menatinnya dikantor dan meeting nya itu benar benar tidak bisa diundur lagi.
Akhirnya ia putuskan untuk menelfon sang istri
"Hallo imut" ucap Devan.
"Iya sayang, apa ada yang ketinggalan ?" tanya Tiara dari seberang telfon.
"Tidak, saya hanya memastikan kamu baik baik saja" ucap Devan
"Sayang aku baik baik aja ko" kekeh Tiara, suaminya itu benar benar berlebihan. fikirnya
"Imut, pokonya kalau kamu kenapa napa langsung hubungi saya" ucap Devan tegas.
__ADS_1
"Siapp bos!! Semangat kerjanya sayang muaahh" ucap Tiara, kemudian telfon pun terputus.
Setelah mastikan Tiara baik baik saja Devan merasa sedikit lega. Ia melanjutkan kembali kemudinya. Ia bertekad jika meeting pentingnya itu sudah selesai ia akan langsung segera pulang.
*******
Saat Devan menelfon dirinya, posisi Tiara masih di halaman rumah. Karena ia sedang menyiram tanaman bunga yang berada dihalaman rumah mereka.
Elif yang kebetulan belum beranjak dari tempat pengintaiannya dibuat terkejut dengan munculnya Tiara dari dalam rumah.
"Itu kan gadis yang waktu itu di panti asuhan!!! Kalau tidak salah namanya Mutiara, apa dia menantu ku??" tanya Elif pada dirinya sendiri.
"Nyonya kenal dengan gadis muda itu?" tanya sang supir.
"Benar pak, waktu itu kami bertemu di panti asuhan dan kebetulan sempat ngobrol juga sedikit" ujar Elif.
"Kenapa tidak nyonya samperin saja dia, apalagi sebelumnya pernah kenalan kan, mana tau melalui dia nyonya bisa mengungkap siapa nyonya sebenarnya secara perlahan" ucap sang supir.
"Benar" jawab Elif.
Kemudian ia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan menghampiri Tiara yang sedang sibuk menyiram bunga.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
__ADS_1