
Flashback on
Saat itu Devan masih berusia 7 tahun, karna kekurangan perhatian dari ayah dan ibu tirinya maka Devan lebih dekat dengan pengasuhnya dari ia sejak bayi, namanya Hilda.
Hilda merupakan janda muda tanpa anak usianya saat itu 25tahun. Hilda menjadi janda sejak usia 18tahun karena ia menikah muda. Setelah gagal dalam rumah tangganya, Hilda mendapat pekerjaan dirumah Mahendra sebagai pengasuh bayi mungil yang tampan bernama Devano Mahendra.
Awalnya ia heran dengan perilaku berbeda bu Sandra pada kedua putranya. Lambat laun ia pun tahu kenyataan sebenarnya bahwa Devan bukanlah anak kandung bu Sandra.
Semenjak saat itu Hilda berjanji pada bayi mungil itu akan merawat dan menyayangi nya dengan sepenuh hati.
Bahkan tanpa Hilda minta, semenjak Devan pandai berbicara ia memanggilanya dengan sebutan ibu.
"Ibu Devan mau ikut ke kampung ibu!!!" rengek Devan kecil saat melihat Hilda sedang berkemas untuk pulang kampung.
"Jangan den, nanti ibu dimarahin tuan sama nyonya" ucap Hilda lembut mencoba memberi pengertian pada anak tampan yang sedang merengek ini.
"Mereka gak akan perduli sama Devan, kalau ibu pulang pasti Devan kesepian" ucap Devan.
"Hmmm baiklah, ibu coba ngomong dan mjnta izin ke nenek aden dulu. Udah jangan sedih lagi yaa nanti gantengnya luntur" bujuk Hilda.
Devan kecil hanya mengangguk patuh.
******
Setelah meminta izin pada nek Mawar, Hilda pun di izinkan membawa Devan ke kampungnya. Dengan syarat mereka akan pulang diantar dan dijemput kembali oleh supir pribadi Devan.
Karna kampung Hilda berada dia area perbukitan, jalanan yang ditempuh berkelok dan mendaki. Namun di kelilingi hamparan perkebunan teh yang sangat memanjakan mata.
"Den kalau cape lebih baik aden bobok saja ya" ucap Hilda melihat anak majikannya itu masih asyik melihat pemandangan yang mereka lalui.
"Tidak bu, Devan gak cape!! Malah Devan senang" ucap anak itu riang.
Hilda pun hanya tersenyum hangat pada anak yang ia rawat sejak bayi itu.
Tak terasa mereka kini telah sampai ditujuan.
Devan yang tertidur digendong oleh Dayat supir pribadinya, sedangkan Hilda sibuk membawa tas bawaan yang ia bawa dari kota.
"Assalamualaikum" ucap Hilda.
"Walaikumsalam" jawab seorang wanita tua seraya membuka pintu.
"Hilda ini siapa??" tanya bu Halimah yang tak lain ibunya Hilda.
__ADS_1
"Ini anak majikan Hilda yang sering Hilda ceritakan itu, dia ngerengek pengen ikut sama Hilda, dan ini mas Dayat dia supir pribadi den Devan" terang Hilda.
"Kasian banget pasti dia kelelahan di jalan, ayo bawa dia ke kamar biar tidurnya enakan" ucap bu Halimah.
Setelah merapihkan bawaannya, dan Dayat pun sudah kembali ke kota kini saatnya Hilda istirahat.
Namun saat ia masuk ke kamarnya, rupanya anak asuhnya itu sudah terjaga.
"Ibu apa kita sudah sampai dirumah ibu" tanya Devan antusias.
"Sudah den, ayo ibu ajak kamu ketemu sama nenek" ajak Hilda yang disetujui Devan.
"Ehh anak ganteng sudah bangun, gimana bobonya nyenyak??" tanya bu Halimah dan hanya dibalas anggukan oleh Devan.
Devan merasakan ketulusan dari sorot mata bu Halimah hatinya langsung mengahangat.
"Nenek mau kemana???" tanya Devan.
"Nenek mau ke kebun sebentar" ucap bu Halimah.
"Devan mau ikut, bu Devan boleh kan ikut sama nenek ke kebun??" izin Devan pada Hilda.
"Iya boleh, tapi jangan jauh jauh dari nenek yaa, dan kalau ada yang nanyain soal nama bilang saja nama aden Vano ya" ucap Hilda.
Perubahan nama Devan selama dikampung adalah permintaan nek Mawar. Ia takut kalau seandainya ada yang tau Devan adalah keturunan keluarga Mahendra maka akan mencelakai Devan.
Karna Hilda ingin melepas penatnya sebentar maka ia mengizinkan Devan ikut bersama ibunya, lagi pula kebunnya juga tidak terlalu jauh dari rumah.
Sementara bu Halimah menyiangi rumput di tanaman sayurnya, Devan sedang asyik sendiri mengejar capung capung yang berterbangan. Namun masih dalam jangkauan sang nenek, karna ia selalu ingat apa saja yang dibilang ibu asuhnya.
Sayup sayup ia mendengar suara tangisan seorang anak perempuan.
Karna suaranya terdengar tidak begitu jauh, dengan rasa penasaran Devan mengahampiri suara wanita kecil itu.
"Huaaaa"
"Adik kenapa menangis???" tanya Devan pada anak perempuan berusia 4tahunan itu.
"Belalang Mutia hilang" ucap gadis lucu itu sambil menunjuk ke atas. Yang tandanya belalang mainan nya lepas terbang.
"Yasudah ayo kita cari belalang baru" ajak Devan.
Tiara kecil pun langsung menghapus air matanya, dan berlari mengikuti Devan. Merka pun bermain dengan riang khas nya anak anak.
__ADS_1
Dari kejauhan bu Halimah tersenyum tenang melihat anak asuh anaknya terlihat senang bermain dengan teman barunya, Mutia.
"Sepertinya Mutia senang punya kawan baru" ucap pak Munawar yang kebetulan kebunnya bersebelahan dengan kebun bu Halimah.
Tiara memang sering ikut ke kebun dengan ayahnya, soalnya kalau dirumah ia suka jahil mengganggu adiknya Susan yang saat itu masih bayi.
"Iya war, saya juga senang melihatnya" ucap bu Halimah.
Jadi inilah pertama kalinya pertemuan pertama anatara Tiara dan Devan.
"Adik dari tadi kita main tapi belum sempat kenalan" ucap Devan. Jujur dari saat pertama melihat Tiara dia sangat menyukainya. Wajahnya yang imut, bulu mata lentik serta matanya yang bulat. Membuat Devan selalu gemas ingin mencubit pipinya.
"Emang nama kakak siapa??" tanya Tiara.
"Nama kakak Vano" jawabnya.
Tiara hanya memonyangkan bibirnya.
"Namaku Mutiara" ucap Tiara dengan lucunya.
"Kalau kakak panggil imut saja boleh gk?" tanya Devan.
Dan dibalas anggukan oleh Tiara.
"Mutia ayok pulang nak!!!" ajak sang ayah.
"Kakak, imut pulang dulu ya. Nanti imut main kerumah ibu Halimah, biar kita bisa main main lagi ya kak Vano" ucap Tiara.
Dan Devan pun meng iyakan.
.
.
.
Bersambung.....
Dukung author terus yaa my readers!!! 😊😊
jangan lupa di vote, dan kasih hadiah buat author yaaa biar tambah semangat lagi.!!!
.
__ADS_1
.
.