
Setelah kepergian Sinta, Tiara dan Devan pun melanjutkan perjalanan.
Tapi sebelumnya...
"Sayang, tadi kata Sinta kamu selalu menolak perempuan yang dikenalkan ke kamu. Kalo aku boleh tau alsannya kenapa ya? Bisa bisanya sampai kamu dibilang suka sesama jenis" tanya Tiara yang kini sudah duduk dibelakang kemudi Devan.
"Karna ada seseorang dihati saya yang takkan tergantikan" jawab Devan mengambil kedua tanganku satu persatu lalu ditautkan pada perut datar nya.
ia pun menstarter motor sportnya itu dan berjalan membelah jalanan perbukitan.
Mendengar jawaban dari Devan, entah mengapa perasaan Tiara menjadi tak tenang.
"Siapa wanita yang dihati Devan? Ternyata ucapan dia mencintaiku belum sepenuhnya bisa dipercaya" batin Tiara.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak ada yang membuka suara, Devan yang fokus dengan kemudinya karna jalan yang lumayan terjal, berkelok dan mendaki. Sedangkan Tiara sibuk dengan fikiran nya sendiri.
POV Tiara
Banyak yang tidak aku ketahui tentang suamiku, latar belakangnya, hubungannya dengan bu Sandra dan ka David, dan yang paling ingin aku ketahui tentang pertemuan pertama kami. Yang aku kira pertemuan pertama kami adalah dihari pernikahan, tapi menurut pengakuannya ternyata bukan. Dan juga wanita yang dimaksud Devan tadi, aku sungguh sangat penasaran .
Sekarang aku sedang diatas motor bersama Devan, aku tidak tau suami kulkas ku ini akan membawa diriku kemana. Yang jelas pemandangannya ini sungguh indah. Tapi mengapa aku serasa tidak asing dengan jalan yang kami tempuh ini.
"Tiara, apa kau tertidur???" tanya Devan sambil mengelus tanganku yang betaut diperutnya.
"Tidak sayang" ucapku.
"Lantas mengapa hanya diam saja, apa kamu kurang senang dengan perjalanan ini" Ucap Devan yang sedikit melambatkan laju sepeda motornya.
"Aku sungguh menikmatinya, hanya saja aku merasa tidak asing dengan jalanan ini sayang" ucapku jujur.
__ADS_1
Namun tak ada jawaban dari Devan, ia kembali menambah laju kecepatan sepeda motornya. Aku pun semakin mengeratkan tautan tanganku.
Tibalah disebuah perkampungan, aku benar benar merasa tidak asing dengan tempat ini. Semakin dalam menyusuri kampung ini, bayangan ketika masa kecilku semakin berkelebat dalam benakku. Ya!!! ini adalah kampung Cibungur, tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan dulu.
Jadi dulu kami sekeluarga tinggal dikampung ini, kampung kelahiran ayah dan ibu juga. Namun saat kakek dan nenek meninggal, ayah menjual rumah yang selama ini kami tempatin, karna tidak kuat selalu teringat semua kenangan bersama almarhum kakek dan nenek. Dan uang hasil penjualan rumah, ayah gunakan untuk modal usaha dikota, usaha yang sampai saat ini ayah kelola yaitu toko beras. Saat pindah ke kota, aku berusia 7tahun dan adikku 3tahun.
Melihat setiap sudut perkampungan ini membuatku teringat indahnya masa kecilku dulu, meskipun sudah banyak perubahan tapi kampung ini masih sama asrinya.
"Lalu mengapa Devan mengajaku kesini?" tanyaku dalam hati.
Namun lamunanku terbuyar saat sepeda motor Devan berhenti, disebuah rumah yang tak jauh dari rumah yang ayah jual dulu.
Devan lebih dulu masuk ke pekarangan rumah itu lalu membuka kunci pintunya.
"Tunggu!! Bukankah ini dulu rumah ibu Halimah??" tanyaku pada Devan.
Devan lebih dulu masuk setelah pintu terbuka, aku pun mingkuti langkahnya.
Rumahnya tidak ada yang berubah, tapi tetap bersih dan rapi. Hanya barang barang dan furniture nya saja yang berganti menjadi lebih bagus dan modern.
Tiara POV end
Tiara mendudukan dirinya pada sofa, ia tak sabar untuk menanyakan berbagai hal pada suaminya.
Sementara Devan pergi ke dapur untuk mengambil minuman untuk mereka berdua.
Setiap dua hari sekali, rumah peninggalan nenek halimah selalu dibersihkan oleh orang suruhan Devan. Itu sebabnya meskipun tidak di isi, kondisi rumah selalu tapi dan bersih. Makanan pun selalu tersedia, karna Devan kapan saja selalu datang kerumah ini.
Tiara menyandarkan punggungnya, rasanya lumayan melelahkan. Dua jam perjalanan menggunakan motor sport, yang tentu saja posisinya tidak membuat nyaman sang penumpang.
__ADS_1
"Punggungku serasa bengkok" ucap Tiara sambil meregangkan anggota tubuhnya.
"Kenapa manusia kulkas itu lama sekali" rutuknya.
Saat mengedarkan pandangan, mata Tiara terfokus pada satu pigura yang bertengger diatas meja hias.
"Seperti foto anak kecil" gumamnya.
Karna penasaran, ia pun berjalan menghampiri meja rias tersebut.
"Inikan foto aku dan kak vano waktu kecil" ucap Tiara tampak sumringah.
"Ternyata bu Halimah masih menyimpannya" senyum merekah pun tak luput dari bibir merah jambu nya.
Tiara memeluk erat pigura foto masa kecilnya itu, ada rindu menyeruak pada sang teman yang berada dalam figura tersebut.
"kak Vano dimana? imut kangen kakak" lirihnya dalam hati sambil menatap kembali foto dua anak kecil yang sedang berangkulan.
"Tiara!...."
Bersambung
Jangan lupa dukung terus author.
tinggalkan jejak jempol dan komentarnya.
Kasih juga author hadiah dan vote agar lebih semangat lagi berkarya.
Terimakasih 😘😘😘😘
__ADS_1