
"Aku cinta kamu" ucap seorang pria kemudian kembali meraup bibir chery milik wanita cantik dihadapannya.
Namun cium*n tersebut tak selama dan sepanas saat pertama tadi, dengan lembut si pria melepas tautan mereka kemudian mendaratkan kecupannya dikening wanitanya.
"Sudah yah, kita pulang sekarang nanti bunda dan papa kamu khawatir kalau kita pulang terlalu malam" ucap Riki dengan lembut pada wanita yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
Alena yang shock dengan kejadian tadi, dimana untuk pertama kali dalam hidupnya berci*man menganggukan kepalanya tanpa berkata apa apa hanya senyuman canggung yang terukir dibibirnnya yang bengkak akibat perbuatan kekasihnya.
****
Beberapa waktu sebelumnya.
Tinn..tin..
Mendengar bunyi klakson mobil Alena buru buru membuka pintu, ia mengira yang datang adalah papanya bersama kakek dan tantenya.
"Ngapain kamu kesini lagi?" tanya Alena ketus.
Sedangkan orang yang diajak bicara olehnya hanya tersenyum manis namun terlihat sedikit menjengkelkan bagi Alena.
Bagaimana tidak, Alena masih merasa kesal pada Riki. Tadi siang setelah mengantarkannya pulang kerumah Lifia, Riki langsung buru buru pergi untuk menjemput Raisa dari rumah Devan. Tanpa menghiraukan Alena yang sebenarnya masih menunggu Riki menjelaskan jika Raisa bukan siapa siapanya.
"Aku kesini mau ajak kamu makan malam dirumahku" ujar Riki.
"Tidak mau, lagi pula tante Elif sama papaku bentar lagi pulang" ucap Alena masih dengan wajah juteknya.
"Mereka tidak akan pulang cepat, karena akan makan malam disana" jawab Riki, kini mulai mendekat kearah Alena.
"Gak udah deket deket deh, tau dari mana kamu??" Alena mulai mencoba menghandiri Riki dengan memundurkan langkahnya. Namun pergelangan tanganya berhasil Riki raih.
"Karena aku sudah menghubungi bunda tadi, untuk meminta izin supaya bisa membawa kamu makan malam dirumahku" jelas Riki.
"Tante Elif pasti gak bolehin kan?" sanggah Alena.
"Boleh ko, yaudah ayok!!! Aku sudah siapkan makanan spesial untuk kamu, sekalian juga mau ada yang aku omongin" ujar Riki kemudian menarik tangan Alena agar mau mengikutinya masuk kedalam mobil.
"Apa yang mau dia omongin?, apa maslah perempuan bernama Raisa itu ya. Baiklah aku akan ikut saja, lagi pula aku juga penasaran" ujar Alena dalam hati, ia pun mulai pasrah dan mengikuti kemana Riki akan membawanya.
.
.
Selang dua puluh menit mobil itu pun berhenti disebuah rumah yang tak terlalu besar, namun sangat indah dengan konsep modern minimalis namun nampak manis, bagi siapa saja yang baru melihatnya pasti langsung jatuh hati dengan model rumah milik Riki tersebut.
__ADS_1
"Ini rumah kamu??" tanya Alena namun masih enggan menatap lawan bicaranya.
"Yups, ini rumahku. Hampir tujuh tahun kerja dengan bos Devan alhamdulillah aku sudah punya rumah dan beberapa aset, yang lumayan cukup lah untuk masa depan kita dan anak anak kita nanti" ucap Riki yang sontak membuat Alena mendongak langsung kearahnya.
"Apa kamu bilang??" ujar Alena ingin memastikan ucapan Riki tadi.
"Gak ada, yaudah ayo masuk. Aku udah laper banget" ujar Riki kemudian turun dari mobilnya disusul Alena yang mendengus kesal.
Alena tampak takjub melihat setiap sudut didialam rumah Riki, dari depan nampak minimalis namun didalamnya terasa lapang dengan perabotan yang lengkap dan modern.
Namun saat kakinya memasuki ruang makan, ia terlonjak kaget saat mendengar suara cempreng seorang wanita.
"Haiii selamat datang dirumah kami" ujar Raisa antusias dengan senyum ceria sekan habis tertiban durian runtuh. Raisa merasa senang bukan main saat abangnya bilang kalau ia akan membawa sang kekasih kerumah dan akan makan malam bersama dengan Raisa yang memasak.
Berbeda dengan Raisa yang tersenyum lebar, wajah Alena malah bertambah muram.
"Ternyata wanita itu juga berada disini, jangan jangan Riki mengajakku kesini agar melihat mereka berdua bermesraan, dan apa katanya? rumah kami? hhhh sakit sekali hatiku" batin Alena.
Riki menyadari perubahan wajah Alena, namun untuk saat ini ia belum ingin menjelaskan segalanya dan malah tersenyum jahil.
"Ayo makan kak, ini semua aku yang masak loh" ujar Raisa dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
"Baiklah!! karena sudah sampai disini aku harus tetap kuat! Ayo Alena kamu adalah wanita keras kepala yang selalu berambisi mendapatkan apapun yang kamu mau" ucap Alena dalam hati mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Tapi senyuman itu pun tak berselang lama manakala ia melihat Riki yang tersenyum sayang pada Raisa dengan segala pujiannya karena masakan yang dibuat Raisa memang benar benar lezat.
"Masakan kamu emang selalu enak dek" ujar Riki sambil tangan kirinya mengacak pucuk kepala Raisa.
"Alena ayo makan yang banyak, masakan Raisa enak kan?" ucap Riki pada wanita yang kini wajahnya nampak kembali muram namun berhasil membuat Riki tertawa bahagia dalam hatinya.
"Iya enak ko" ucap Alena dengan senyum terpaksanya.
"Sial..!! Jadi tujuan dia mengajakku kesini cuma mau pamer kalau abege pilihannya ini pandai memasak sedangkan aku tidak. Astaga" lagi lagi Alena membatin.
"Hufft, akhirnya acara makan malam membosankan ini selesai juga, aku sudah tak tahan ingin pulang" jerit Alena dalam hati.
Setelah makan malam mereka usai, kini ketiganya sedang duduk diruang keluarga, Raisa merasa sangat senang melihat rona bahagia diwajah abangnya yang berbanding terbalik dengan wanita disebelahnya.
"Aku mau pulang" ucap Alena ketus, melihat Raisa yang tersenyum bahagia entah kenapa malah hatinya yang semakin kepanasan.
"Iya ayo aku antar, tapi sebelumnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" ujar Riki.
"Apaan?? Cepet udah malam nih" ucap Alena, sungguh dia merasa muak dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
"Alena, perkenalkan ini Raisa" ucapan Riki terjeda karena Alena keburu memotong.
"Aku udah tau, bukannya tadi siang kamu sudah memberi tau ku" ucap Alena, dadanya semakin berdebar kencang entah kabar baik atau kabar buruk yang akan ia dengar dari ucapan Riki selanjutnya.
"Raisa adalah adik kandungku, keluargaku satu satunya didunia ini karena kedua orangtua kami sudah meninggal dunia akibat kecelakaan tujuh tahun lalu" ujar Riki.
Seketika kedua bola mata Alena membulat sempurna dan kehilangan kata katanya.
"Aku sengaja membawamu kesini untuk memperkenalkanmu pada keluargaku sebagai wanita yang spesial bagiku, namun aku tak memiliki keluarga dan hanya memiliki Raisa, selain keluarga bos Devan tentunya" ucap Riki serius.
Raut wajah Alena pun kini melemah, sungguh ia menyesal telah berburuk sangka pada pria yang telah menyelamatkan nyawanya tersebut.
"Lalu kenapa baru bilang sekarang? Dan malah membuatku salah faham pada adikmu?" ucap Alena dengan penuh sesal, ia merasa bersalah karena telah berfikir yang tidak tidak.
"Pantas aja saat itu Riki bilang Raisa adalah hal paling berharga dihidunya, mungkin begitu juga Riki bagi Raisa" gumam batin Alena.
"Karena aku senang melihat wajah cemburu mu, itu sangat menggemaskan" ucap Riki disusul tawa renyahnya, membuat wajah bersalah Alena kembali menegang karena kesal.
"Kakak apa boleh aku memelukmu" ujar Raisa.
"Tentu saja boleh" Alena pun berhambur memeluk Raisa.
**
Setelah itu Alena pun pamit pulang pada Raisa bersama Riki. Namun saat melewati perbukitan, mereka tak langsung pulang dan berhenti disalah satu pondok tempat para pemetik teh beristirahat. (dih mojok mereka bestie!! haha)
"Lihatlah pemandangan malam hari disini, tak kalah indah dari perkotaan bukan?" ujar Riki.
"Iya, ini indah sekali" ucap Alena, dengan wajah yang merona.
Suasana malam yang indah dan cuaca yang mendukung akhirnya menggiring mereka untuk menikmati manisnya ci*man pertama yang panas dan membara.
Asooyy..!!
Bersambung.....
...Bestie sungguh komentar kalian itu penyemangat author banget, ayo dong komentar samangatin Author biar tambar rajin buat up....
...Untuk pembaca setia kesayangan author, author ucapkan terimakasih banyak, i love you sekebon! :D...
...jangan lupa tinggalkan jejak jempol juga yahh :*...
...TERIMAKASIH ...
__ADS_1
.