My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.91 Percikan Api Cinta


__ADS_3

Setelah semalaman pingsan saat gagal melakukan percobaan bunuh diri, Kini Alena mulai terjaga. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya.Dan yang pertama kali ia lihat adalah seorang lelaki muda tengah tertidur disofa sebelah brangkar tempatnya berbaring.


"Siapa laki laki itu? Apa dia laki laki sialan yang menggagalkan rencanaku semalam?" ucap Alena dalam hati, matanya tak putus memandang wajah polos Riki yang tengah terlelap.


"Kalo dipandang pandang, ternyata dia tampan juga" kekeh Alena dalam hatinya.


"Tapi dari garis wajahnya sepertinya dia sangat kelelahan" karena sibuk dengan fikirannya, sampai sampai Alena tidak sadar bahwa Riki sudah terjaga sejak beberapa detik yang lalu.


"Sudah puas memandangi saya nona" ucap Riki kemudian merubah posisi tubuhnya yang semula terbaring, kini ia memilih duduk bersandar disofa.


Merasa tertangkap basah, Alena langsung memalingkan wajahnya yang semerah tomat.


"Sial.! Pake ketauan segala lagi" umpatnya.


"Bagaimana masih berfikir untuk mengakhiri hidup?" tanya Riki kini mendekat pada pembaringan Alena.


"Heh kamu siapa sih? Kenapa ada disini?" ucap Alena dengan wajah yang berpaling, entah kenapa ia merasa malu pada Riki.


"Perasaan apa ini? Padahal sebelumnya aku tak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini pada laki laki mana pun" gerutu Alena dalam hatinya.


"Kenapa buang wajah seperti itu, takut ya kalo lama lama memandang saya nanti jatuh cinta" goda Riki.


"Heh mana mungkin saya jatuh cinta sama cowok gak jelas seperti kamu" ujar Alena kini mulai berani memandang lawan bicaranya.


Dilihatnya Riki tengah tersenyum devil, dengan kedua tangannya disaku hoodie yang ia pakai.


"Hati hati loh nona, nanti menelan ludah sendiri" bisik Riki seolah mendekat pada telinga Alena.


Alena membulatkan kedua matanya.


"Karena nona sudah sadar, berati tugas saya sudah selesai. Saya permisi dulu" ucap Riki bergegas keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" cegat Alena.


"Ada apa lagi nona? Masih kangen ya sama saya?" kekeh Riki.


"Dih narsis sekali anda! Saya cuma ingin tau, sebenarnya kamu siapa? Dan tugas? Tugas apa maksudnya?" tanya Alena,


Kini ia mencoba untuk bangun. Riki pun tak tinggal diam, dengan sigap ia membantu saudara bosnya itu dan mengatur posisi brankar agar Alena dapat duduk dengan nyaman.


"Terimakasih" bisik Alena pelan namun masih dapat Riki dengar.


"Tadinya saya mau pulang, tapi karena nona masih membutuhkan saya, baiklah saya akan sedikit lebih lama lagi disini. Apa nona haus?" ucap Riki kemudian menarik kursi yang tak jauh dari tempat ia berdiri kemudian duduk menghadap Alena.


"Cih.! Ya saya haus" ucap Alena ketus.

__ADS_1


Riki menyodorkan segelas air putih kemudian ditenggak habis oleh wanita pucat dihadapannya itu.


"Sekarang jelaskan pada saya, siapa dirimu?" ucap Alena.


"Hmm rupanya nona sudah tidak sabar mengetahui nama saya" kekeh Riki.


Alena hanya mendelikkan kedua matanya merasa muak dengan sikap narsis Riki. Namun ia juga penasaran siapa sebenarnya laki laki muda nan tampan dihadapannya ini.


"Perkanalkan nama saya Riki Pratama, satatus saya masih single dan sedang mencari jodoh kalau nona berminat boleh langsung hubungi saya no telfon saya..."


"Stop..!!!" teriak Alena.


"Kenapa nona? Bukankah tadi nona bertanya siapa saya, lalu apa salah jika saya menjelaskan tentang diri saya?" ucap Riki dengan wajah tanpa dosa, membuat Alena semakin kesal.


"Dengar ya Riki Pratama! Saya serius, kamu ini sebenarnya siapa?" ucap Alena, sifat aslinya yang arogan mulai keluar.


"Oke, karena nona memilih serius, saya akan menjelaskan dengan serius" ucap Riki, wajah pongahnya kini berubah menjadi datar bak triplek, eh bukan! Maksudnya datar tanpa ekspresi.


"Saya adalah anak buahnya bos Devano! asal nona tau saya menolong nona dari awal nona kecelakaan hingga menjaga dan mengawasi kondisi nona sampai saat ini, itu atas perintah bos Devan" ucap Riki tegas, ruangan yang tadi sempat gaduh, kini berubah menjadi sedingin kutub utara.


Alena hanya menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut Riki dengan perasaan yang tidak karuan.


"Meski pun bos Devan tau, tujuan nona datang ke perkebunan miliknya adalah untuk mencelakai dirinya. Tapi bos Devan tak secuil pun niat untuk membalas kejahatan nona dan ayah nona" ucap Riki tanpa melihat kearah Alena.


Ia mati matian menahan emosinya, karena mengingat kejahatan kejahatan yang dilakukan Alena dan tuan Yukas pada bosnya Devan. Untung saja Devan selalu mengajarkan dirinya bekerja mengedepankan otak bukan otot, kalau tidak mungkin saja ia takkan berhasil menghalau setiap rencana jahat yang tuan Yukas tunjukkan pada Devan dan keluarga kecilnya.


"Dasar orang aneh, aku rasa ia memiliki kepribadian ganda" gumam Alena.


Benar ucapan Riki, tak lama dokter pun datang untuk memeriksa kondisi kesehatannya.


****


Di sebuah restoran yang nampak sedikit sepi, Yukas tampak sedang duduk termenung seraya kedua tangan meremas kepalanya.


Kejadian akhir akhir ini sungguh membuat dirinya stres. Rencana menghancurkan Devan gagal, kenyataan bahwa Alena bukan putri kandungnya dan juga rumah tangganya yang kini sudah diambang kehancuran.


"Akhhhh sial..!!!" teriak Yukas sambil menggebrag meja. Untung saja tempat itu tidak terlalu ramai, jadi ia tak perlu pusing dengan tanggapan orang disekitarnya.


Diraihnya sebuah botol kaca berisikan minuman yang memabukkan, dan menenggaknya sekaligus setelah dituang didalam gelas berukuran kecil.


Lamat lamat ia mendengar suara tawa perempuan yang sangat ia kenal. Yukas yakin bahwa itu bukan halusinansi, karena dirinya tidak benar benar mabuk.


"Akhhh sayang, sudah lama sekali kita tidak bertemu aku sudah sangat rindu belaianmu" ucap suara perempuan itu semakin mendekat kearah Yukas.


"Saya juga sudah tidak sabar" ucap seorang dengan nada sensual.

__ADS_1


Mendengar obrolan dua orang dibelakangnya, kedua tangan Yukas semakin terkepal hingga buku bukunya memutih.


Braakkk!!!!


Yukas menggebrag meja dengan kasar, kemudian memutar tubuhnya menghadap sepasang pria dan wanita dewasa yang sedari tadi membuat kepalanya mendidih, dan perempuan itu tak lain ialah Alisa.


"Sekali jal*ng memang tetap jal*ng, belum sah cerai sudah menggandeng pria lain" ucap Yukas dengan emosi yang tertahan.


Alisa nampak menciut melihat wajah garang milik lelaki yang selama dua puluh delapan tahun menjadi suaminya.


"Jaga bicara anda.!" ucap lelaki berkepala pelontos disebelah Alisa.


"Untuk apa saya menjada bicara saya pada perempuan murahan ini!" ujar Yukas dengan telunjuk yang mengacung tepat di wajah sang mantan istri.


"Saya memberikan waktu untuk kamu beberapa hari, agar kamu merenungi kesalahanmu dan meminta maaf pada saya! Ternyata saya salah, kau benar benar ingin berpisah dengan ku Alisa" teriak Yukas dengan sorot mata yang tajam.


"Kita bertemu langsung di pengadilan" ucap Yukas kemudian pergi meninggalkan dua orang yang telah membuat emosinya memuncak itu.


"Lisa apa pria tadi suami kamu?" tanya si pria botak.


"Mantan, sudahlah tidak usah di fikirkan! lebih baik kita nikmati malam ini sweet heart" ucap Alisa seraya mengelus leher sang pria.


Dengan wajah yang seceria mungkin seolah di hidupnya tak pernah terjadi apapun dan hanya ada kesenangan saja yang ia rasa.


"Baiklah sayangku, sebaiknya kita makan dikamar aja yuk" ucap pria itu kemudian diangguki oleh Alisa.


.


.


Bersmabung....


.


...Yuks Semangatin dong Author :)...


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKASIH :)...

__ADS_1


.


__ADS_2