
Yukas nampak berjalan kesana kemari bak setrikaan, menunggu dengan gusar hasil pemeriksaan tes darah yang baru saja ia lakukan.
Dirinya sudah tidak sabar ingin segera mendonorkan darahnya pada putri satu satunya Alena, agar segera sadar dan pulih kembali.
"Nak apa pun akan papa beri untukmu, jangankan hanya darah. Nyawa papa pun bila perlu papa kasih untukmu, asalkan kamu sembuh" ucap Yukas dengan mata yang berkaca kaca.
Ckleekk!
Pintu ruangan itu pun terbuka.
"Tuan Yukas silahkan masuk, dokter ingin berbicara" ucap suster mempersilahkan Yukas agar masuk kedalam ruangan dokter yang bertugas.
"Jadi gimana dok apa transfusinya bisa dilakukan sekarang juga?" ujar Yukas tak sabar.
"Sebaiknya bapak duduk dulu" ucap dokter perempuan itu dengan tenang.
"Ada apa dok?" tiba tiba perasaan Yukas menjadi tak enak.
"Mohon maaf pak, golongan darah bapak Yukas dengan nona Alena tidak cocok. Jadi kita tidak bisa melanjutkan proses transfusi darah ini pak" ujar dokter.
"Bagaimana bisa dok? Saya ini ayah kandung dari Alena, seharusnya cocok!!" ucap Yukas dengan suara yang mulai meninggi.
"Ini hasil labnya, dan dapat dipastikan jika hasil lab ini sembilan puluh sembilan persen akurat" ujar sang dokter seraya menyodorkan sebuah kertas pada Yukas.
Dengan tangan yang bergetar Yukas membaca tulisan demi tulisan yang tertulis dikertas itu. Nafasnya bergemuruh, rahangnya mengeras lalu ia meremas kuat selembar kertas yang berada ditangannya itu.
"Selama dua puluh enam tahun saya ditipu" ucapnya dengan geram.
"Jadi bagaimana pak? Transfusi darah ini harus segera dilakukan demi keselamatan pasien?" ujar sang dokter membuyarkan angan Yukas.
"Dok pokoknya lakukan yang terbaik untuk anak saya, tolong carikan pendonor darah secepatnya, berapun biayanya akan saya sanggupi" ujar Yukas.
"Baik pak"
Tanpa kata lagi Yukas meninggalkan ruangan dokter tersebut.
"Bajingan.!! Dasar jala*g tidak tau diri" ucapnya dengan tangan terkepal, ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju tempat dirawatnya Alena.
.
.
Dari kejauhan Alisa dapat melihat wajah merah padam Yukas yang tengah meredam amarah. Ia tak yakin jika setelah ini dunianya akan baik baik saja.
"Darling" ujar Alisa menghampiri suaminya yang kini telah duduk disebelah baba nya.
Dengan kasar Yukas langsung menepis belaian tangan sang istri, yang jelas ia tidak mau menumpahkan semua amarahnya disini.
"Yukas, bagaimana sudah selesai pengambilan darahnya?" tanya tuan Erdan.
__ADS_1
Riki yang baru saja selesai dari kamar mandi ia menangkap ada keanehan pada keluarga bosnya itu, dari tempat yang tidak terlalu jauh ia mencoba menyimak interakasi yang terjadi diantara mereka.
"Tidak jadi ba!" ujar Yukas datar, namun tatapannya tajam mengarah ke istrinya.
"Kenapa tidak jadi?? Ada apa ini Yukas?" tanya tuan Erdan.
"Golongan darah saya dengan Alena berbeda" ujarnya tatapan tajam nya masih tak lepas dari sang istri.
Alisa hanya diam mematung dengan wajah yang memucat.
"Jangan bilang.." ucapan tuan Erdan tergantung.
"Alena bukan anak kandung saya!" ujar Yukas, emosinya kini sudah tak terbendung lagi, dengan kasar ia menarik lengan Alisa agar menjauh dari sana demi menumpahkan segala amarah yang membakar dirinya saat ini.
Tinggallah disitu tuan Erdan seorang
"Jadi kecurigaanku selama ini benar, Alena bukan anak kandung Yukas, akhh" tuan Erdan merasakan sesak di dadanya.
Melihat tuan Erdan yang nampak kesakitan sambil memegang dadanya, dengan cepat Riki menghampiri dan memanggil dokter agar segera memeriksa kakek dari bosnya itu.
*#*#*#*#*#*#*#*#*
"Anak papa semakin aktif saja disini" ujar Devan sara ya mengelus dan mencium perut Tiara yang semakin membesar.
Tiara hanya tersenyum bahagia melihat tingkah suami dinginnya itu, ya! Laki laki yang dulu ia sebut manusia kulkas. Kini malah melebihi sang mentari kehangatan yang diberikan Devan padanya.
"Seharusnya saya yang berterima kasih padamu imut, karena kamu sudah ikhlas mengandung anak saya tanpa mengeluh" ujar Devan.
"Sayang itu anak aku juga" ucap Tiara.
"Iya imut sayang, ini anak kita, hasil jerih payah saya dan kamu" kekeh Devan.
Namun, momen bahagia itu harus terganggu karena gawai Devan sejak tadi terus saja berbunyi.
"Sayang angkat, mana tau penting" ujar Tiara.
Devan pun bangkit dari posisinya, kemudian mengambil handphone yang ternyata ada panggilan masuk dari Riki.
"Hallo Riki, apa ada yang terjadi??" tanya Devan.
"Bos, tuan Erdan terkena serangan jantung! Dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan nona Alena" ucap Riki dari seberang telfon.
"Apa yang menyebabkan tuan Erdan jantungnya kolaps?" Tanya Devan.
Karena setau Devan, tuan Erdan sangat menjaga pola hidupnya agar penyakitnya itu tidak gampang kambuh lagi.
"Tuan Erdan terkejut setelah mengetahui jika nona Alena bukan anak kandung tuan Yukas bos" jelas Riki.
"Yasudah, kamu tetap disana dan pastikan semuanya baik baik saja" ujar Devan, ada gurat kekhawatiran diwajahnya namun secepat mungkin ia tepis.
__ADS_1
"Sayang, opa kena serangan jantung?" tanya Tiara.
"Iya imut"
"Sayang ayok kita kesana, kita harus lihat kondisi opa" ujar Tiara.
"Tidak perlu imut sayang"
"Sayang, tapi aku mau lihat kondisi opa! Aku khawatir sekali sayaang" ucap Tiara manja, Tiara tahu sebenarnya Devan juga khawatir pada kakeknya itu. Hanya saja gengsinya masih terlalu tebal untuk ia tepis.
"Yasudah, tapi jangan lama lama ya! Ibu hamil tidak boleh lama lama dirumah sakit" ucap Devan, ia selalu dibuat tunduk dan kalah jika itu mengenai keinginan Tiara.
.
.
Saat akan memasuki mobil, dengan kebetulan Lifia datang mengunjungi mereka.
"Sayang kalian mau kemana?" tanya Lifia.
"Bunda, opa sekarang sedang dirumah sakit, jantungnya kolaps lagi" ucap Tiara.
"Tiara, Devan bunda ikut" ujar Lifia kemudian turut memasuki mobil yang dikemudikan Devan.
"Devan sebenarnya apa yang terjadi pada baba?" tanya Lifia khawatir.
Devan pun menjelaskan apa yang terjadi dari mulai Alena yang kecelakaan hingga kenyataan jika Alena bukan anak kandung Yukas.
Tak hanya Lifia yang terkejut, Tiara pun yang turut mendengar sama terkejutnya.
"Ternyata wanita sombong itu bahkan bukan keturunan tuan Erdan, tapi mulutnya lantam sekali mengatai bunda" ucap Tiara didalam hati.
Setelah itu, keheningan pun terjadi. Mereka sibuk dengan isi kepala mereka masing masing.
.
Bersambung...
Devano Mahendra the real sultan, warisannya banyak dong! yang sekarang ia tekuni perkebunan dan pertanian dari papanya, bisnis resort dari bundanya, dan belum lagi nanti dari tuan Erdan.wowww!!!
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKSIH :)...
__ADS_1