
(### Guys mohon maaf ya kalau novel author gak nyambung, soalnya author masih belajar hehe.
Kenapa ceritanya malah lebih cenderung ke David dan Hanum, semua ada porsinya ko. Biar kalian Gak bosan makanya author seling seling, soalnya kan Devan sudah bahagia sama Tiara. Buat yang udah baca dan suport author sampai sini makasih yaa. muaahhh)
"Daddy kenapa sih dari tadi diam terus??" ucap Hanum pada David.
Hanum heran, semenjak pulang dari mall tadi David berubah jadi pendiam.
"Gak apa apa" Jawab David singkat.
"Jangan bilang kalau Daddy sedang cemburu" ucap Hanum memebelalakan kedua matanya.
David masih acuh.
"Ayolah dad, kak Romi itu kakak kelas ku dulu waktu dikampung" jelas Hanum.
"Tapi sepertinya kamu sangat penting baginya" ucap David jutek.
flashback on
"Hanum??? Kamu Hanum kan?" ucap seorang pria berusia dua puluh dua tahuann.
"Kak Romi? kakak ngapain ada disini?" tanya Hanum dengan mata yang berbinar.
"Hanum kakak pindah kuliah disini sengaja karena sekalian ingin mencari kamu, akhirnya ketemu juga" ucap Romi dengan senyum nya yang mengembang.
"Ekhemm!!" dehem David
"Hanum ini siapa?" tanya Romi matanya melirik kearah David
"Saya David Mahendra suami sah deri Silvia Hanum" ucap David tegas kemudian melangkah keluar mall itu, tentunya dengan menarik tangan Hanum.
"Hah suami?? Sah??" ucap Romi kebingungan.
Namun sejak itu hingga sampai dirumah pun David masih memilih diam dan mengacuhkannya Hanum.
flashback off
"Kata siapa??" goda Hanum
"Kata saya tadi!" ucap David masih dengan nada juteknya.
"Yaudah kalau tetap mau jutekin aku, aku jutekin balik aja biar ntar malam bobo daddy enggak nyenyak" ucap Hanum dan berniat pergi dari hadapan suaminya yang sedang ngambek tak jelas itu. Namun tangannya langsung dicekal oleh David, tubuhnya ditarik agar duduk dipangkuan David.
"Maaf, jangan cuekin saya balik! iya saya cemburu sama pria muda itu" Ucap David memeluk tubuh mungil istrinya
"Nah kan ngaku, takut gabisa tidur kaan???" goda Hanum.
Tak ada balasan kata dari David, selain sumpalan manis pada bibir Hanum oleh bibirnya.
*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
"Apaa??? Devan kecelakaan" ucap Tiara terkejut saat salah satu anak buah Devan datang menjemputnya
"Dimana Devan sekarang?? ah baiklah ayok kita kesana sekarang" ucap Tiara melemah, karena kepanikan yang berlebihan membuat ia kehilangan separuh tenaganya
"Nak kamu kenapa???" tanya nenek yang tak kalah paniknya melihat wajah pias Tiara.
"Nenek Devan kecelakaan nek" Tak terasa air mata Tiara luruh dipipinya
Nenek diam mematung, karena sama terkejutnya namun beberapa detik kemudian langsung tersadar.
"Nona ayo, sebaik nya kita segera kesana" ucap pria bernama Teguh, anak buah Devan yang menjemput Tiara.
__ADS_1
Dengan sisa tenaganya Tiara melangkah memasuki mobil Teguh disusul sang nenek.
Dari kejauhan, bi Esih hanya bisa memerhatikan kedua juragan nya yang sedang panik itu. Ingin rasanya ia menenangkan Tiara atau sekedar bertanya, namun sepertinya tak sempat karena mobil itu dengan cepat membawa pergi Tiara dan nek Mawar.
.
.
Didalam perjalanan, tak henti hentinya Tiara merapalkan doa untuk keselamatan suaminya.
"Sayang, mari kita doakan papa semoga dia baik baik saja" ucap Tiara sambil mengelus perut buncitnya.
"Yang sabar Tiara, nenek yakin Devan pasti baik baik saja" ucap nek Mawar seraya menggenggam tangan istri cucunya itu.
Tiara berhambur kedalam pelukan sang nenek, seolah mencari kekuatan disana.
"Teguh kenapa jalannya pelan sekali" ucap Tiara karena sang pengendali kemudi membawa mobil dengan kecepatan rendah.
"Maaf nona, jalan disini kurang bagus sangat tidak baik untuk kandungan nona bila berkendara dengan kencang" jelas Teguh
"Teguh tolong jelaskan bagaimana bisa Devan kecelakaan" tanya Tiara.
"Saya sendiri kurang tau nona, sebaiknya nanti nona lihat sendiri keadaan bos Devan disana" ucap Teguh
Tiara mendengus kesal, karena belum puas dengan jawaban Teguh.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah bangunan villa yang tidak terlalu besar, bahkan nampak kurang terurus.
"Teguh kenapa kita ke sini??? Bukankah Devan dirumah sakit.?" tanya Tiara heran.
"Saya kurang tau non, tapi kata anak buah bos yang lain bos Devan dirawat disini" jawab Teguh yang lagi lagi membuat Tiara mendengus kesal.
"Silahkan masuk nona, nyonya besar! menurut informasi bos Devan ada dikamar paling depan" ucap Teguh pada kedua majikan perempuannya itu
Saat Tiara dan nek Mawar memasuki pintu utama, tampak sepi bahkan ruangannya pun terasa dingin.
Namun disaat mereka berdua melangkahkan kakinya dan masuk ka dalam kamar yang ditunjuk teguh tadi, tiba tiba pintu kamar tersebut tertutup kasar.
Bruggggh!!!!
Baik Tiara maupun nek Mawar sama terkejutnya.
"Tiara, sepertinya seseorang telah menjebak kita disini" ucap nenek gusar.
"Nenek benar, nenek tenang dulu sebentar yaa!! Tiara yakin Devan pasti akan menolong kita" ucap Tiara seakan menenangkan sang nenek, padahal dirinya juga sama gusarnya.
Belum habis rasa paniknya karena mendengar kabar suami tercintanya kecelakaan, kini lututnya kembali dibuat lemas karena seseorang telah berhasil menjebaknya diruangan pengap ini.
"Ya Allah bagaimana ini" ucapnya dalam hati, tangannya terus mencoba menggerakkan gagang pintu kamar tersebut namun nihil, pintu itu terkunci diluar.
"Toloooong" teriak Tiara.
"Tiara sepertinya kamar ini kedap suara" ucap Nenek.
Tiara terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk mencari pertolongan. Karena terlalu panik, Tiara sampai lupa membawa hendphone nya.
Tak mendapat apapun untuk dijadikan alat pertolongan, Tiara berhambur kedalam pelukan nek Mawar.
"Nenek kita pasti bisa keluar dari sini" ujar Tiara dan diangguki oleh sang nenek.
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
Ditempat lain
__ADS_1
Setelah mendapatkan pesan ancaman dari nomor yang tidak dikenal, Devan langsung memutuskan pulang. Memastikan keadaan istri dan neneknya baik baik saja.
Dengan kecepatan penuh Devan mengendarai sepeda motor sport nya hingga tidak memakan waktu lama untuk sampai dikediamannya.
"Imuuttt.!! Nenek!!" teriak Devan karena kondisi rumah sepi seakan tak berpenghuni.
Kemudian bi Esih muncul dari arah dapur.
"Alhamdulillah, aden tidak kenapa napa" ucap bi Esih hampir menangis mendapati tuannya kembali dalam keadaan baik baik saja.
Devan tak mengerti, ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kemana Tiara sama nenek bi?" tanya Devan, membuat bi Esih terkejut.
"Jadi, den Devan tidak bertemu dengan non Tiara dan nyonya besar?" ucap bi Esih mulai panik.
"Tidak bi, ceritakan apa yang terjadi" tanya Devan, perasaan nya mulai tak enak.
"Jadi tadi ada salah satu anak buah aden datang kesini menjemput non Tiara dan nenek, dia datang mengabarkan jika aden mengalami kecelakaan" jelas bi Esih.
Devan langsung berdecak dan meremas rambutnya.
"Bibi kenal orangnya??" ucap Devan
"Kalo tidak salah si Teguh den" ucap bi Esih yakin.
"Teguh? Keparaatttt!!!" teriak Devan kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan bi Esih dengan sejuta kecemasannya.
"Ya Allah lindungilah non Tiara dan nyonya besar. Mereka orang orang baik" doa bi Esih
Tiga hari lalu Teguh dipecat karena ketahuan menjadi mata mata lawan bisnis Devan.
"Masih berani dia berurusan dengan saya!!!" ucap Devan geram.
Saat Devan berhenti untuk menelfon anak buahnya yang lain, tiba tiba ada nomor baru masuk.
"Halo" ucap Devan gahar.
"Sayang, tolong kami. Kami disekap disebuah viila yang tidak terlalu besar dan kumuh, jalan menuju kesini sangat buruk. Kalau tidak salah tadi kami sempat melewati kebun jati. Sudah dulu sayang handphone nenek batrainya tinggal dua persen. Kami tunggu kamu disini sayang, hati hati" ucap Tiara terburu buru.
Devan langsung meremas gawai yang ditangannya.
"Kebun jati? Jalanan yang buruk? Aku tau tempat itu" ucap Devan, namun sebelum ia pergi, ia sempat kan mengerahkan anak buahnya yang lain.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Terimakasih
.
__ADS_1