
"Imut tadi bunda nelfon saya, katanya papanya ingin bertemu dengan kita" ucap Devan disela sela sarapan mereka.
"Papanya bunda?? Sayang itukan kakek kamu?" ucap Tiara
"Iya, yang sebenarnya saya sudah mengenal dirinya" ujar Devan.
Bola mata Tiara membulat.
"Sayang kamu serius? Kalian bertemu dimana?" tanyanya, saking seriusnya ia sampai menghentikan kegiatan makannya.
"Tuan Erdan Mehmed adalah client saya imut" ucap Devan masih fokus pada makanannya.
"Waahh! Sayang apa tuan Erdan tau kalau kamu cucunya?" tanya Tiara penasaran.
"Entah! Meskipun sebelumnya bunda tak mengatakan jika memiliki putra, tapi saya yakin dengan kekuasaan yang dimiliki tuan Erdan ia pasti sudah mengetahuinya" ujar Devan, kini telah menyelesaikan kegiatan makannya, begitupun Tiara.
"Jadi setelah ini kita langsung kesana atau pulang dulu sayang?" tanya Tiara seraya merapikan bekas makan mereka.
"Rumah tuan Erdan ada dikota sebelah, sepertinya kita langsung kesana saja" ujar Devan memperhatikan kegiatan istrinya.
"Imut, sebaiknya kamu duduk saja biar saya yang merapikan" ucap Devan mengambil alih pekerjaan sang istri, Tiara pun hanya bisa menurut karena percuma saja ia menolak, karena suaminya tak suka menerima bantahan.
**#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#**
Saat Devan dan Tiara telah bersiap untuk pulang dari kediaman Mahendra, mobil yang membawa nenek dan Sandra baru saja memasuki pekarangan rumah.
"Loh kalian mau kemana?" tanya Sandra yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Kita mau pulang mom, nek" jawab Devan dengan wajah datar nya.
"Kenapa buru buru sekali??" tanya nek Mawar.
"Ada pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan" ucap Devan.
"Yasudah hati hati dijalan ya, nanti kalau ada waktu boleh kan mommy main ke kediaman kalian?" ujar Sandra.
"Boleh dong mommy" ucap Tiara dengan senyum hangatnya.
"Yasudah mom, nek, kami berangkat dulu ya. Assalamualaikum" ucap Devan kemudian melangkah menuju mobil, tak lupa tangannya selalu menggandeng tang sang istri.
.
.
"Hallo nak, kalian sudah dimana?" tanya suara diseberang telfon sana.
"Kita sebentar lagi sampai bunda" ucap Tiara.
__ADS_1
"Yasudah bunda tunggu ya, bunda sudah tak sabar" ucap Lifia
"Iya bunda"
Telfon pun terputus.
Setelah menempuh jarak sekitar dua jam, kini mereka telah sampai dikota B, bahkan sudah memasuki sebuah perumahan elit bergaya klasik namun terlihat sangat megah.
Didepan rumah tersebut sudah ada Lifia yang berdiri tak sabar menantikan anak dan menantunya datang dimansion orangtuanya.
"Alhamdulillah kalian sudah sampai, ayo masuk nak" ucap Lifia merangkul tangan Tiara, dan Devan hanya mengekor dari belakang.
"Kalian duduk dan tunggu disini ya, bunda panggilkan opa kalian dulu" ucap Lifia sorot matanya menampakkan kebahagiaan yang tak dapat dielakkan lagi.
Bagaimana tidak, ia yang selalu mendapat lirikan sinis dari saudara atau iparnya karena tak memiliki keturunan, kini akan membungkam mereka dengan kedatangan putera semata wayangnya.
Sebelumnya, Lifia sudah menceritakan apa yang terjadi dua puluh tujuh tahun lalu dengan sejujurnya pada sang ayah. Dan tuan Erdan tak merespon apapun, ia hanya meminta dipertemukan dengan cucunya. Hingga tibalah hari ini.
"Hey kalian siapa??" ucap seorang wanita muda, dengan tubuh tinggi semampai dan pakaian ketat yang menempel ditubuhnya.
Devan tetap terlihat tenang, tanpa melirik sedikit pun kearah wanita itu. Beda dengan Tiara, ia merasa tak nyaman dengan kedatangan wanita yang ia yakin mungkin seumuran dengan suaminya itu.
"Kami tamu nyonya Elifia" jawab Devan datar.
"Ohh, tamu si tante mand*l itu" jawab wanita itu seketika rahang Devan pun mengeras.
"Kenapa kamu marah? kenyataannya behitu kok, tante Elif itu mand*l tak bisa memeliki anak, dan akulah satu satunya cucu opa Erdan" ujar wanita itu dengan angkuhnya.
"Oh iya kalau dilihat lihat kamu lumayan tampan juga" ucapnya melangkah mendekat kearah Devan, membuat tangan Devan semakin terkepal.
"Hentikan langkahmu atau kau akan menyesal!!" ujar Devan dengan emosi yang tertahan.
"Heh siapa kamu ngatur ngatur dirumah saya?" teriak wanita itu.
Tiara hanya bisa memeluk lengan Devan, ia sendiri sebenarnya sangat tak nyaman dalam situasi seperti ini, apalagi harus berhadapan dengan wanita angkuh dihadapannya sekarang.
"Kenapa orang kaya pada sombong sombong sih" batin Tiara.
"Dia cucu opa!!" ucap tuan Erdan yang baru saja muncul dari kamarnya diikuti oleh Lifia.
Devan dan Tiara mendongak melihat kearah sumber suara.
"Maksud opa apa? Opa memungut anak miskin di jalanan lalu opa angkat sebagai cucu gitu?" ucap wanita itu angkuh.
"Tutup mulutmu Alena!! Laki laki gagah nan tampan itu adalah anak saya! Anak kandung saya!" ucap Lifia lantang.
Alena hanya diam dengan senyum kecut dan wajah tak percaya.
__ADS_1
Lifia dan tuan Erdan pun duduk bergabung dengan Tiara dan Devan tanpa memperdulikan perempuan bernama Alena itu.
Alena adalah cucu satu satunya tuan Erdan dari kakaknya Lifia, yaitu Yukas Mehmed. Pribadi sombong nan angkuh yang dimiliki Alena merupakan turunan dari sang ayah. Meskipun bersaudara kandung, Yukas dan Lifia tidak saling akur. Karena Yukas memiliki hati yang buruk dan selalu iri pada adik perempuan satu satunya itu.
Apalagi setelah kejadian Lifia gagal dalam pernikahan bersama Dani, orang yang paling lantang menertawakan dirinya dalah Yukas dan istrinya.
"Rasakan!! Itulah akibatnya kalau melawan kehendak orangtua" ucap Yukas saat itu.
Hingga Lifia menikah lagi dengan tuan Khalid, dan tak memiliki keturunan Yukas dan istrinya jugalah yang paling gentar mengejek dan menyindir.
Apalagi saat tuan Khalid meninggal dan meninggalkan harta yang begitu banyak untuk Lifia. Sifat iri dengkinya semakin bergejolak.
Menjadi cucu satu satunya tuan Erdan, membuat kesombongan dan keangkuhan Alena tambah menjadi. Karena ia merasa dia akan menjadi pewaris tunggal perusahaan yang dikelola sang kakek.
Karena sampai sekarang tuan Erdan enggan menyerahkan perusahaannya pada sang anak sulung, Yukas. Dengan percaya dirinya Alena menganggap jika kakeknya itu akan langsung memberikan kekuasaan itu pada dirinya.
"Alena kamu duduk sini" ujar tuan Erdan.
Dengan wajah yang masam Alena pun menuruti perintah sang opa.
Seketika pandangan Devan dan tuan Erdan pun beradu.
Sorot mata yang sama, wajah yang sedikit mirip meskipun beda generasi, namun tak dapat dipungkiri ada semburat kebahagiaan di wajah tuan Erdan, beda dengan Devan yang tetap dengan ekspresi datar nya.
.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Biar author tambah semangat lagi buat up...
...Terimakasih :)...
.
.
__ADS_1
.