
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Devan segera mengenakan pakaian yang sebelumnya disiapkan Tiara, lalu menghampiri Tiara yang nampak membelakangi dirinya dengan bahu yang naik turun.
"Saya telah membuatnya menangis" lirih batin Devan.
Dipeluknya tubuh rapuh Tiara seraya merapikan rambut rambut yang menutupi wajah sembab sang istri.
"Maafkan saya" ucap Devan pelan.
Namun Tiara masih tak bersuara, hanya terdengar isakan halus saja dari bibirnya.
"Tiara, saya tidak tahu gimana caranya agar wanita berhenti menangis" ucap Devan
Tiara pun berbalik menghadap sang suami.
"Devan kamu bohongin aku" isak Tiara.
"Bohong apa??" Devan mengernyitkan sebelah alisnya, dia sangat gemas melihat hidung istrinya yang memerah akibat tangisannya.
Tiara yang tadinya hanya menangis sedih, kini emosinya mulai terpancing karna sang suami tidak peka dengan kesalahannya.
"Kau bilang akan makan siang dirumah, aku udah masak spesial buat kamu, tapi kamu gk datang, sekalinya datang bukannya minta maaf malah mendiamkan aku" ucap Tiara dengan air mata yang berderai, membuat hati Devan serasa dicubit.
"Maafkan saya" lirihnya semakin mempererat pelukannya, dan Tiara pun membalas pelukan Devan.
"Tiara saya mau bertanya" ucap Devan.
Tiara mendongak menatap wajah sang suami.
"Apa kau masih mencintai kak David" ucap Devan menatap serius wajah sang istri.
Tiara hanya diam saja menatap wajah datar suaminya.
"Apa Devan melihat kak David kesini tadi siang ya" ucap Tiara dalam hati.
"Tiara jawab saya!!!! apa jika kak David mengajakmu kembali padanya, apa kau akan meninggalkan saya" tanya Devan.
Ada sorot kekhawatiran dalam pandangannya, dan Tiara dapat merasakan itu.
"Menurutmu gimana??" ujar Tiara.
"Kenapa balik bertanya??" Devan mengernyitkan alisnya.
"Apa kamu rela jika istrimu yang cantik ini kembali pada masalalunya, sedangkan kau sudah candu padaku" Goda Tiara membaut semburat merah di wajah Devan.
__ADS_1
Devan membenarkan ucapan istrinya itu, ia takkan rela jika wanita yang selama ini ia cari harus lepas lagi dari genggamannya. "Apa katanya chandu?? Ya memang benar kau chandu bagiku" batin Devan.
Tanpa berkata apa apa Devan langsung menyambar benda kenyal berwarna pink yang membuatnya candu itu. Sejak tadi mengejeknya membuatnya gemas ingin melahapnya.
Tiara yang mulai terbiasa dengan perlakuan suaminya itu hanya diam dan pasrah, lalu mencoba membalas pagutan Devan. Tangan Devan mulai liar menjamah bukit kenikmatan kesukaannya, bagi Devan semua yang ada pada Tiara sudah menjadi chandu baginya.
Krrrrrwwkkkkk
Disela kegiatan mereka, tiba tiba kedua pasang mata itu sama sama melotot. Kala mendengar bunyi cacing cacing yang keroncongan diperut Tiara.
Karna malu, Tiara melepas pagutan mereka, lalu berbalik membelakangi suaminya.
"Kamu belum makan hmm??" tanya Devan pelan.
Hanya dibalas anggukan oleh Tiara.
"Sekali lagi maafkan saya ya, gara gara nungguin saya kamu jadi telat makan" Devan mencoba membalik posisi Tiara kembali.
Tiara masih menunduk karna malu.
"Saya juga belum makan dari tadi siang" ucap Devan yang membuat Tiara mendongak sekaligus.
"Kenapa??" tanya Tiara.
Membuat Tiara kembali menunduk.
"Yasudah, ayo kita makan dulu. Saya sudah tidak sabar makan masakan spesial kamu" ucap Devan lalu menggendong istrinya ala bridal style.
"Devan aku disa jalan sendiri" Tiara mencoba memberontak.
Namun tak ada jawaban dari si suami.
"Devan masakanku mungkin sudah dingin" ujar Tiara lagi.
"Tidak apa apa, biar saya menghangatkan" ucap Devan dengan senyuman tipis nya.
"Apa kau juga ingin saya hangatkan hmm?"
Tiara tak tau harus menjawab apa ia hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang si suami.
Sampai akhirnya sampai dimeja makan.
Tiara hanya duduk manis saja menyaksikan suaminya yang bersikeras tak ingin dibantu untuk memanaskan masakannya tadi siang.
__ADS_1
*******************************
"Tante, jadi kapan David mau melamar aku" rengek seorang gadis.
"Kamu sabar sebentar lagi ya, pokoknya tante jamin sebentar lagi David bakalan cinta sama kamu, udah gitu kalian menikah deh" ucap Sandra pada seorang gadis yang tak lain adalah Laura.
"Hanya dalam mimpi kalian!!!" ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam rumah utama keluarga Mahendra.
Sandra membeku mendengar suara seorang pria yang sangat tidak asing baginya.
"Dave, sayang kamu kapan pulang nak??" ucap Sandra seraya menghampiri sang putra yang baru saja tiba dan mengagetkannya.
Namun David hanya diam, dengan wajah yang merah padam menahan emosi.
"Sayang, momy kangen banget sama kamu. Selama ini kamu tidak mau momy kunjungi kesana" ucap Sandra, perasaannya mulai tak enak melihat gelagat anaknya lain dari biasanya.
"Cukup mom!! Jangan berpura pura baik dihadapan Dave, Dave sudah terlanjur kecewa pada momy" ucapnya lirih lalu meninggalkan kedua wanita yang menyayanginya itu.
Sesampainya dikamar, David melemparkan diri keatas kasur king size miliknya.
Matanya terpejam, namun hatinya berkecamuk. Tak hanya bayangan masa lalunya bersama Tiara terus mengganggunya, tapi bayangan Tiara yang kini sudah bahagia bersama adiknya Devan terus saja menghampirinya tanpa henti.
"Arrrrrggggghhhhhh" David mengusap wajahnya kasar.
.
.
.
.
Bersambung
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Terimaksih :)...
__ADS_1