
Seorang pria melangkahkan kakinya dengan gagah keluar dari bandara.
Matanya langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang tak asing lagi baginya, lalu berjalan menghampirinya.
Disana sudah sudah berdiri seorang pria lain yang nampaknya sudah dari tadi menunggu kedatangan tuannya tersebut.
Tanpa disuruh pria itu membukakan pintu mobil untuk sang tuan. Lalu dirinya duduk di bangku kemudi.
"Tuan kita akan kemana dulu" tanya Yoga.
"Dimana Tiara dan Devan tinggal?" ucap David, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya untuk menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Setau saya mereka tinggal dikediaman tuan Devan, tuan" jawab Yoga.
"Kita kesana" perintah David yang langsung diangguki oleh sang asisten.
Mereka pun pergi menuju kediaman Devan di daerah perbukitan.
*************************
Tiara yang sedang memasak tidak henti hentinya menyunggingkan senyuman, ia sangat bahagia hari ini, karna untuk pertama kalinya Devan akan makan siang dirumah. Saking semangatnya, bahkan ia tidak membiarkan bi Esih membantunya walau hanya sedikit. Ia malah memberikan tugas lain, yaitu membersihkan daun daun kering di kebun sayur yang berada dibelakang rumah.
"Sayur asam, ikan gurame goreng, sambel, dan lalapan sudah siapp!!, ini semua makanan kesukaan manusia kulkas itu, semoga dia suka sama masakan aku" ucap Tiara dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Ia sudah selesai menyusun makannya di meja makan, diliriknya jam sudah menunjukan jam dua belas siang, tandanya sebentar lagi suaminya itu akan datang.
Tiara segera merapikan penampilannya.
"Masih wangi ko, tinggal lap keringat aja sama rapiin rambut dikit" ucap Tiara sambil menatap cermin yang tak jauh dari dapur.
Toktoktok..
Ia mendengan suara ketukan pintu.
"Itu pasti Devan" ia langsung bergegas untuk membukakan pintu.
Namun betapa kaget nya ia,saat membuka pintu bukan suaminya yang ia dapati melainkan....
"Kak David" ucap Tiara pelan.
Pandang mata mereka beradu.
Sorot kerinduan nampak jelas dari mata David.
Tiara yang masih shock tidak menyadari kalau dirinya kini sedang berada dalam pelukan David.
Dari kejauhan, seorang dengan tatapan dingin tengah tertuju pada dua insan yang sudah lama tak berjumpa itu. Tak lama ia pun kembali menjauh dari tempat itu.
"Tiara kakak sangat merindukanmu" ucap David yang kemudian menyadarkan Tiara.
Refleks Tiara langsung melepaskan diri dari pelukan sang mantan.
__ADS_1
"Cukup kak, untuk apa kakak kesini??" entah kenapa Tiara tidak lagi merasakan sesak dihatinya ketika melihat David.
"Sayang, kakak kesini mau minta maaf dan menjelaskan semuanya yang telah terjadi" David mencoba menjelaskan pada Tiara.
"Penjelasan apapun takkan merubah keadaan kak, aku sekarang sudah menjadi istri Devan, adik kak David sendiri" ucap Tiara pelan.
"Tiara jika kau tak bahagia dengan pernikahanmu, kembalilah padaku Tiara kita wujudkan lagi impian impian indah kita dulu sayang"
David memohon pada Tiara dengan mata yang berkaca kaca.
"Tidak kak, kakak salah. Aku bahagia ko dengan pernikahan ini, dan semua impian aku untuk hidup bahagia dengan kakak, sudah ku kubur dalam dalam ketika kakak tidak datang dihari bahagia kita" ucap Tiara lirih.
David hanya membeku, semua penjelasan yang ia bawa seketika buyar manakala mendengar ucapan Tiara tadi, bahwa ia bahagia dengan pernikahannya, apalagi ketika Tiara membuka pintu tadi. Tampak sekali ia sangat bahagia, namun senyumannya memudar ketika yang ditemui malah dirinya. Ditambah, David melihat tanda cinta dileher Tiara yang jumlahnya tak sedikit,membuat dadanya semakin sesak.
"Sebentar lagi Devan pulang, kalau kakak ingin bertemu dengannya silahkan tunggu didalam, kalau tidak maaf sebaiknya kakak pulang saja" ucap Tiara yang membuat David semakin sesak, orang yang ia sayang secara halus tak menginginkan kehadirannya.
Tanpa berucap, David kembali memasuki mobilnya. Ia pun meninggalkan kediaman sang adik, pulang dengan membawa kecewa. Harapannya untuk kembali dengan sang pujaan hati kini pupus sudah.
"Ini semua gara gara momy" David mengepalkan tangannya menahan emosi.
.
.
.
Setelah mobil David menjauh dari kediamannya, Tiara pun masuk kembali kedalam rumah.
"Semua ini sudah garis tuhan, aku sudah ikhlas menerima semua ini, dan tidak mungkin untukku kembali ke masalalu, karena aku sudah mulai mencintai suamiku"
Batin Tiara.
Dilihatnya jam sudah menunjukan hampir jam satu.
"Kok manusia kulkas belum juga pulang sih, katanya mau makan siang dirumah" Tiara memandang masakannya yang mulai dingin.
"Non, ko makanannya cuma diliatin doang. Kenapa belum makan?" tanya bi Esih yang baru saja muncul dari pintu belakang.
"Aku nungguin Devan bi" ucap Tiara lesu.
"Kan non tau den Devan pulang kerjanya sore" ujar bi Esih
"Tadi pagi ia bilang mau makan siang dirumah" ucap Tiara.
"Mungkin sebentar lagi pulang non, barangkali sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditunda" bi Esih mencoba menghibur juragan nya yang nampak bersedih.
Yang hanya dibalas anggukan oleh Tiara.
"Bibi makan aja duluan" ujar Tiara lalu beranjak pergi ke kamarnya.
.
__ADS_1
.
.
Hingga hampir larut malam, Devan belum juga menampakkan batang hidungnya. Begitupun Tiara, ia belum makan karena menunggu kedatangan suaminya. Mau menghubunginya pun Tiara bingung, karena tidak memiliki nomor ponsel Devan.
"Nyebelin banget sih, dasar manusia kulkas. Teganya dia ngasih harapan palsu ke aku" tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi.
Tak lama pintu kamar terbuka, munculah laki laki yang sejak tadi siang Tiara tunggu.
Segera Tiara menghapus air matanya dengan kasar.
"Kamu dari mana aja hah??? Jam segini baru pulang, bukannya kamu janji mau makan siang dirumah. Tapi jam segini kamu baru pulang Devan!!" cecar Tiara dengan mata yang berkaca kaca.
Namun sang suami tidak memberikan penjelasan apa apa, ia masih dengan wajah tanpa ekspresinya berlalu begitu saja dari hadapan Tiara, dan segera memasuki kamar mandi.
Tiara hanya memandang punggung Devan yang menghilang ditelan pintu kamar mandi dengan deraian air mata.
.
.
.
Didalam kamar mandi, Devan berdiam dibawah guyuran shower masih dengan tatapan kosongnya. Bayangan ketika Tiara berpelukan dengan David tadi siang terus menghantui fikiriannya. Rasa takut kehilangan istrinya semakin bergemuruh dalam dada.
Bahkan semenjak kepulangannya tadi siang, dikantor pun ia tak fokus bekerja kembali, perasaan dalam dirinya benar benar benar membuatnya gagal fokus.
"Saya sudah susah payah untuk menemukan mu kembali, setelah di genggamanku, aku tak akan melepaskan mu lagi imut. Kita akan selalu bersama sesuai janji kita dulu" ucap Devan.
Lalu ia menyudahi acara mandinya.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih sudah mampir di cerita author!! :*
Semangatin author terus yaa, jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya, dan masukan ke list pavorite kalian.
kalo berkenan boleh dong minta hadiah dan vote nya biar author tambah semangat lagi :D
.
.
.
__ADS_1