My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.95 Penyesalan


__ADS_3

Usai menggunakan alat tes kehamilan yang diberikan sang suami, Hanum keluar dari kamar mandi dengan wajah murung.


Menangkap ekspresi sang istri yang nampak kecewa David langsung mengerti dan tidak lagi berharap terlalu banyak, ia harus berusaha kuat agar sang istri tidak merasa kecewa dengan hasil yang didapatkannya.


"Babby.." ucap David mendekat kearah Hanum.


"Daddy..." ucap Hanum perlahan.


"Ssttt.. " David menempelkan jari telunjuknya dibibir Hanum.


"Jangan katakan jika itu berat, saya mengerti ko" ucap David kemudian memeluk tubuh Hanum yang sudah tidak mungil lagi itu.


"Maksud daddy apa?" tanya Hanum mendongak menatap wajah serius sang suami.


David menhernyitkan dahinya seolah bertanya apa saya salah???


"Aku belum memberitahukan hasilnya tapi daddy sudah mengambil kesimpulan sendiri" ucap Hanum melepaskan diri dari rangkulan sang suami.


"Babby bukan begitu maksud saya.."


Hanum kemudian menunjukan hasil tes tersebut dengan mata yang berbinar.


Seketika kedua mata David terbuka lebar dan hampir saja kehilangan kata katanya.


"Dadd hasilnya garis dua merah, apa aku hamil dad??" tanya Hanum polos.


"Babby..! jadi tadi kamu keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu..?" ucap David tak habis fikir.


"Karena aku gak faham dad, lagian daddy ngasih alat ini tanpa ngasih keterangan dan petunjuk pakainya. Untung aku pernah liat sepupuku menggunakan alat ini" ucap Hanum dengan bibir yang mengerucut.


David menggaruk tengkuknya yang tak benar benar gatal.


"Jadi gimana hasilnya dad, apa daddy juga tidak faham?" ucap Hanum menggoyangkan lengan sang suami.


"Babby itu dibungkusnya kab ada petunjuk pemakaiannya! Alhamdulillah sebentar lagi kita jadi orang tua" ucap David antusias seraya memeluk Hanum dengan erat.


"Jadi maksud daddy aku hamil?? Gak tau dad aku gak sempat baca" tanya Hanum dengan mata yang berkaca kaca.


"Yes babby, you're pregnant" jawab David mengecup kening Hanum berkali kali.


"Huaaaa...." tiba tiba tangis Hanum pecah.


"Sayang kamu kenapa nangis? Apa kamu tidak bahagia mengandung anak saya?" tanya David heran kemudian mengendurkan pelukannya.


"Daddy, aku menangis karena bahagia. Akhirnya aku bisa memberikan cucu untuk nyonya mami, aku berharap dengan hadirnya anak diantara kita membuat mami bisa menerima aku sepenuhnya" ucap Hanum disela tangisnya membuat hati David berdenyut.


Ia tak menyangka, dibalik senyuman yang selalu Hanum tampilkan ketika menghadapi sang mertua ternyata ada harapan besar dihati kecilnya.

__ADS_1


"Iya sayang, cepatlah bersiap kita harus segera ke dokter untuk memeriksa kondisi anak kita babby" ucap David.


"Iya dad" jawab Hanum, lalu melakukan apa yang diperintahkan David.


***


Setelah selesai bersiap Hanum dan David pun bergegas menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Hanum untuk yang pertama kali.


"Kalian mau kemana???" tanya Sandra saat melihat anak dan menantunya bergandengan dengan wajah yang sama sama sumringah.


"Kita mau jalan jalan dulu mom, mommy mau nitip sesuatu?" tanya David.


"Permintaan mommy tidak pernah berubah, mommy cuma mau cucu!" ucap Sandra ketus kemudian memalingkan wajah.


"Oke mom, Dave akan bawakan cucu buat mommy" ucap David kemudian melanjutkan langkahnya bersama Hanum.


"Dave kamu jangan aneh aneh yaa" teriak Sandra karena dia khawatir jika putra semata wayangnya itu akan melakukan tindakan yang gegabah.


Langkah David kembali terhenti.


"Mommy tenang aja, sebaiknya mommy istirahat dan tidur yang nyenyak. Bayy mommy"


Hanum hanya tersenyum simpul melihat tingkah suaminya mengerjai ibunya sendiri.


"Ayo sayang" ucap David kemudian membukakan pintu mobil untuk tuan putrinya.


***


Setelah usai pemerikasaan terakhir, akhirnya tuan Erdan diizinkan untuk pulang. Namun sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, tuan Erdan beserta anak dan cucunya singgah dulu diruang rawat Alena.


Saat pintu dibuka, disana nampak Alena yang tengah berbaring san Yukas yang duduk disofa yang terdapat diruangan itu.


"Opa?? Opa sudah sembuh?" tanya Alena antusias.


Namun matanya kembali sendu kala beradu tatap dengan Tiara dan Devan.


"Iya sayang opa sudah sembuh, cucu opa bagaimana?" ucap tuan Erdan mendekat kearah Alena.


"Seperti yang opa lihat, Ale tinggal menunggu pemulihan aja opa" ucap Alena pada tuan Erdan yang tengah mengusap pucuk kepalanya.


"Emm Tiara bolehkah aku berbicara denganmu dan Devan?" tanya Alena dengan ragu.


Devan menatap wajah sang istri seraya ingin tau keputusan Tiara. Dengan lembut Tiara menganggukan kepalanya dan menggandeng tangan Devan agar mendekat ke pembaringan Alena.


"Hay Alena!!" ucap Tiara dengan senyum ramahnya.


"Tiara, Devano, aku minta maaf atas segala kesalahan ku pada kalian berdua. Yang bahkan aku kecelakaan itu sebelumnya berniat ingin melenyapkan Devan, namun ternyata malah diriku yang hampir saja tamat" ucap Alena dengan penuh sesal.

__ADS_1


"Aku memang sempat sakit hati dengan sikapmu pada kami, terutama suamiku. Tapi asal kamu tau, Allah aja memaafkan setiap hambanya yang bertaubat dan menyesali perbuatannya. Tentu saja kami akan memaafkan kamu, iya kan sayang?" ucap Tiara seraya menatap wajah suaminya.


"Iya" jawab Devan singkat.


Namun Alena masih ragu, karena melihat wajah Devan yang masih saja datar.


"Jangan difikirkan, wajah suamiku memang seperti itu Alena" ucap Tiara, seoalah faham dengan apa yang di fikirkan Alena.


Seketika ruangan itu pun riuh oleh tawa tuan Erdan.


"Benar itu Alena, Devan ini sama seperti opa saat muda dulu, sulit untuk berekspresi. Apa lagi pada orang yang belum terlalu kenal" jelas tuan Erdan.


Tak lama, Lifia dan nek Mawar masuk bersamaan kedalam ruangan itu. Mereka sedikit terlambat karena Lifia baru saja selesai mengurus administrasi dan nek Mawar yang habis dari toilet.


"Hay, Alena bagaimana keadaan kamu?" tanya Lifia dengan senyum hangatnya.


"Tante.." ucap Alena menatap nanar Lifia.


"Iya sayang" ucap Lifia mengahampiri sang keponakan.


Alena membuka kedua tangannya meminta pelukannya disambut oleh sang tante.


"Tante tolong maafkan Ale, selama ini sudah jahat sekali pada tante Elif, Ale sangat menyesal tante tolong maafkan Ale" ucap Alena dengan air mata yang membasahi pipinya.


Melihat kejadian itu, Yukas memalingkan wajahnya. Ia pun merasa tertampar atas segala kesalahan yang ia lakukan pada adik satu satunya itu.


"Sayang, tanpa kamu meminta maaf pun tante sudah memaafkan kamu ko" ucap Lifia seraya menghapus air mata Alena.


"Makasih tante" ucap Alena yang dibalas senyuman Hangat oleh Lifia, mereka pun kembali berpelukan.


.


.


Bersambung....


Maaf updatenya sedikit lama, buat yang masih setia nungguin updatean author, author ucapkan terimakasih zheyenk :*


...JANGAN LUPA...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKSIH :)...

__ADS_1


.


__ADS_2