
Dari kejauhan seorang pria muda dengan stelan kasualnya ikut meramaikan pesta pernikahan sang Presdir MRc group.
Pandangannya lurus menatap kedua mempelai yang tengah tersenyum bahagia menyalami tamu satu persatu.
"Bodohnya aku yang tak berani mengungkapkan perasaan ini sedari awal. Akhirnya aku kehilangan kesempatan untuk memilikimu Hani" ucap pria muda itu perlahan.
Ia pun mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan, tak disangka matanya tertuju pada satu orang yang kebetulan sangat ia kenal.
"Itukan pak Hamdan ayahnya Hanum? Ngapain duduk sendiri dipojokan sana" ucapnya, kemudian melangkah mendekat ketempat dimana ayah Hanum duduk sendirian.
"Pak Hamdan" ucapnya.
"Nak Romi?" ucap ayah Hanum tak percaya jika orang yang dihadapannya kini adalah Romi anak kepala desa di kampung nya.
"Iya pak ini saya Romi" ucap Romi seraya mencium tangan pak Hamdan tanda hormat.
"Kamu diundang juga kesini nak?" tanya ayah Hanum
"Iya pak, kebetulan saya magang dikantornya pak David suaminya Hanum. Loh bapa ngapain disini sendirian? Tidak kesana saja pak? Hanum pasti nyariin bapak" ucap Romi memilih duduk dibangku sebelah pak Hamdan.
"Bapak tidak sendiri ko, istri bapak sedang ke toilet. Setelah bapak perhatikan, yang datang kesini kalangan atas semua. Bapak takut Hanum akan merasa malu jika orang orang mengetahui jika ayahnya hanya orang kampung dan bukan orang terpandang" ucap ayah Hanum dengan pandangan yang sendu.
"Bapak jangan berfikir seperti itu, Hanum pasti sangat sedih jika ia tau ayahnya tidak ikut bahagia dihari bahagianya ini" ucap Romi.
"Kalau bapak bersedia, mari biar saya yang dampingi bapa" tawar Romi, kebetulan ia juga merasa canggung jika mengucapkan selamat kesana hanya sendirian.
Setelah di fikir fikir, ayah Hanum pun menyetujui usulan dari Romi.
"Yasudah nak ayok bawa bapak ketemu dengan Hanum" ucap pak Hamdan dan melupakan istrinya yang sedang ke toilet.
Romi pun menuntun tubuh ringkih pak Hamdan hingga mendekat kearah pelaminan.
"MasyaAllah, anakku cantik sekali. Selamat ya nak kamu sekarang sudah jadi seorang istri" ucap ayah Hanum dengan mata berkaca kaca.
Hanum langsung memeluk tubuh ayahnya, tak terasa air mata pun menetes di pipinya.
"Ayah maafkan Hanum yang belum bisa bahagiain ayah" ucap Hanum
"Tak apa nak, justru ayah yang seharusnya minta maaf karena tak bisa mnghidupimu dengan layak" ucap sang ayah.
"Tuan David, ayah titip anak ayah satu satunya ini padamu" ucap ayah Hanum dengan tatapan penuh harap.
"Ayah tak perlu memanggil saya tuan, panggil saya Dave karena saya juga anak ayah" ucap David dengan senyum ramahnya.
"Hani, selamat berbahagia" ucap Romi mencoba kuat meskipun hatinya bergemuruh.
David yang tak suka melihat pandangan Romi yang tulus menatap Hanum, langsung menarik Hanum kedalam rengkuhannya, senyum ramah diwajahnya perlahan memudar dan digantikan dengan rona tegasnya.
"Hey anak magang!! Kalau ingin nilai mu bagus bersikaplah sewajarnya dan sadar posisimu" ucap David ketus.
Hanum hanya terkekeh melihat tampang cemburu sugar daddy nya itu.
"Maaf Mr. David, saya hanya mengucapkan selamat berbahagia untuk Mr. Dan Mrs" ucap Romi kemudian membuang pandangan nya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Nak, ayah kesana dulu ya ibumu pasti nyariin ayah" ucap ayah Hanum.
Sebenarnya Hanum masih ingin ayahnya tetap disampingnya, tapi keadaan memang tak memungkinkan.
"Iya ayah" ucap Hanum dengan air mata yang tertahan.
Romi pun kembali menuntun tubuh renta pak Hamdan. Sebenarnya usia pak Hamdan belum terlalu tua, karena saat muda terlalu bekerja keras sampai ia menikah saja diumur 33tahun sehingga anak semata wayangnya baru sembilan belas tahun tapi dirinya sudah ringkih, mungkin juga faktor membatin karena perlakuan istrinya.
.
.
.
"Ayah darimana? Ibu tadi nyari nyari ayah?" ucap Maya ngegas.
"Pak Hamdan tadi menemui Hanum bersama saya" ujar Romi.
"Kenapa ayah tak menunggu ibu? Ibu juga kan ingin kesana bertemu dengan Hanum" ujar Maya kesal.
"Sudahlah bu, ayah cape sebaiknya kita kembali kekamar saja" ucap ayah Hanum kemudian melangkah meninggalkan Maya yang wajahnya merah padam karena menahan amarah.
"Nak Romi bapak pamit dulu ya, terimakasih sudah menemani tadi" ucap ayah Hanum.
Romi hanya tersenyum hangat membalas ucapan pak Hamdan.
"Sialan!! Sudah basah tersiram minuman gak sempat bergaya pula didepan orang orang! sekarang sudah harus kembali aja ke kamar!! Hrrggghh gara gara situs bangka gak guna itu" gerutu Maya pelan.
Mau tak mau Maya pun langsung menyusul suaminya untuk kembali ke kamar.
.
.
"Imut, baby kita rakus banget ya dari tadi mamanya ngunyah terus" ucap Devan.
"Ihh sayang, jangan gitu dong aku kan jadi malu, ini kuenya enak banget tau" ucap Tiara dengan mulut yang penuh.
Padahal Devan sudah mencicipi kue yang Tiara makan, dan rasanya sama saja seperti kue kue pada umumnya.
"Tak apa imut, makanlah apa yang ingin kamu makan" ucap Devan ternyum hangat seraya mengusap pucuk kepala istri tercintanya.
"Imut, apa kamu ingin mengadakan pesta resepsi juga? Mengingat pernikahan kita dulu hanya acara sederhana saja" tawar Devan, Tiara pun langsung menghentikan kegiatan makannya.
Jujur Tiara tak pernah kefikiran untuk mengadakan resepsi atau pesta pernikahan mereka. Karena terlalu sibuk menikmati kebahagiaannya setiap hari.
"Sayang itu tak perlu, apa kamu gak lihat anak kita aja sudah berkembang disini, hingga perutku menjadi bulat begini" ucap Tiara seraya mengelus perut buncit dibalik gaun merahnya.
"Jika kamu ingin katakan saja, saya akan membuat pesta yang lebih besar dari ini bahkan bila perlu sampai tujuh hari tujuh malam" ujar Devan menatap wajah serius istrinya yang kembali melanjutkan kegiatan makannya.
"Tak perlu sayang, itu sangat berlebihan! Yang penting kita sekarang sudah bahagia" ucap Tiara mengusap punggung tangan Devan.
"Cepat habiskan makananmu mari kita pulang, kamu jangan terlalu lelah imut" ucap Devan sikap posesifnya keluar.
__ADS_1
"Iya sayang ini sedikit lagi, nenek gimana?" ucap Tiara.
"Nenek nanti pulang sama mommy, atau mungkin tidur dihotel"
"Emmm, yasudah mari kita pulang" ucap Tiara seusai meminum minumannya hingga tandas tak tersisa.
Karena dari ballroom ke parkir area jaraknya cukup lumayan, Tiara meminta Devan untuk berhenti dulu karena kakinya lelah.
"Sayang berhenti dulu, aku lelah" ucap Tiara sedikit terengah.
Namun bukannya berhenti Devan malah langsung menggendong tubuh sintal Tiara.
Tiara pun tersenyum bangga, karena suaminya sangat pengertian.
"Ini tidak gratis imut, setelah ini kamu harus membayarnya" bisik Devan
Kedua bola mata Tiara membulat, wajahnya merona semerah tomat karena setiap Devan melontarkan kata godaan tubuhnya pasti langsung meremang. Iapun menenggelamkan wajahnya di dada bidang nan harum milik sang suami.
.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Agar author tambah semangat lagi buat up...
...Terimakasih ;)...
Bonus pict
Babang Devan yang dilarang cukur kumis sama bumil.
Penampilan di pesta tadi.
.
.
.
__ADS_1