
"Neneekkk!! Hanum kangen" ujar Hanum langsung memeluk tubuh nek Mawar.
"Heuhh dasar bocah!" ucap Sandra yang kebetulan baru saja pulang setelah mengecek persiapan pesta besok.
"Hehe nyonya mami mau Hanum peluk juga??" tanya Hanum, membuat Sandra bergidig ngeri.
"Ihhh enggak enggak!" bantah Sandra.
"Mama kapan datang? Ini bocah ngerengek terus katanya kangen sama mama" ujar Sandra matanya melirik tajam ke Hanum.
Hanum hanya menyengir kuda.
"Lagian Hanum kesepian dirumah kalo om David lagi kerja, kalau ada nenek kan Hanum ada kawan nya" ucap Hanum dengan ciri khas nya, mata yang berbinar.
"Kan ada mertua kamu, sekalian ajarkan mami mu itu membuat kue yang enak" kekeh nenek.
Sandra mendengus sebal.
"Yasudah ma, aku mau mandi dulu, cape banget rasanya! Dan kamu bocah, banyakin istirahat karena besok kamu akan menghadapi hari yang paling melelahkan" ucap Sandra dengan senyum masam dan wajah angkuhnya kemudian berjalan melangkah menuju kamarnya.
"Mertuamu itu belum juga berubah" ucap nek Mawar.
"Tak apa nek, Hanum udah mulai nyaman ko dengan sifat nyonya mami yang seperti itu" ucap Hanum lembut.
"Oh iya, kamu sudah bertemu dengan iparmu?" tanya nek Mawar
"Sudah nek, tadi ketemu kak Tiara saat akan turun kesini. Cantik sekali nek dan juga baik, pantesan om David sangat mencintainya" ucap Hanum pelan namun hatinya tercekit seakan tertusuk duri.
"Hushh!! Kamu ini bicara apa nak, Tiara itu istri adiknya Dave, saat ini istrinya Dave adalah kamu. Tidak mungkin Dave ngebet menikahi kamu saat itu kalau dia tidak mencintaimu nak" ucap nek Mawar seraya mengelus kepala Hanum yang bersandar dipundaknya.
"Nenek faham, mungkin kamu merasa cemburu karena iparmu itu mantan kekasih suamimu dulu dan bahkan hampir menikah. Iyakan?" ujar nenek.
"Entahlah nek.." ucap Hanum kemudian mengeratkan pelukannya pada nek Mawar.
Nek Mawar tak pernah keberatan dengan sifat manja Hanum pada dirinya, ia malah senang karena Hanum tidak canggung atau menggap dirinya orang lain. Apalagi nenek tau latar belakang Hanum yang tumbuh kurang kasih sayang dari orang tuanya.
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan! Besok acara bahagia kalian,lagi pula Tiara itu sudah bahagia dengan Devan suaminya. Tidak akan ada lagi celah untuk David.! Fokus kamu sekarang, bikin David semakin cinta sama kamu" ucap sang nenek dan diangguki oleh menantu kecilnya itu.
"Ekheem! Kalian membicarakan saya ya?" ucap suara yang sangat tidak asih baik bagi Hanum maupun nenek.
"Tidak kok" kilah Hanum, kemudian melepaskan pelukannya dari sang nenek.
Flashback
Setelah David selesai dari urusannya di kamar mandi, ia memutuskan untuk menyusul Hanum yang menemui sang nenek.
Saat berjalan menuruni tangga, ia berpapasan dengan Tiara yang sedang membawa kopi untuk suaminya.
__ADS_1
Seketika langkah David pun terhenti, begitupun Tiara. David mematung menatap wajah Tiara yang menunduk.
Karena tak nyaman dengan posisi seperti itu Tiara memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka.
"Hay kak! Apa kabar??" tanya Tiara lembut
"Ba baik ra" ucap David terbata, entahlah perasaan gerogi seakan menyentuh dirinya
"Yasudah, Tiara keatas dulu ya kak. Devan sudah menunggu dari tadi" ucap Tiara kemudian melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
David masih diam mematung, dadanya masih berdebar meskipun tak sehebat dulu.
"Astaga!! Aku tak boleh begini" ucap David menggelengkan kepalanya, seolah ingin menepis segala perasaan yang tak seharusnya masih ia rasakan.
"Dave kamu kenapa?" tanya Sandra yang saat itu akan ke kamar juga.
"Ahh mom, tidak! Dave tidak apa apa" ucap David kemudian pergi menghindar dari tatapan penasaran sang mommy.
"Aneh..!" ucap Sandra kemudian memilih tak memikirkannya lagi.
Sesampainya dibawah, David menemukan Hanum yang sedang bergelayut manja pada neneknya. Ia berjalan mengendap perlahan, niatnya ingin mengejutkan sang istri malah ia dia yang dibikin terkejut mendnegar keluh kesah istrinya mengenai kecemburuannya pada Tiara. Ia tak menyangka jika kegundahan dalam hatinya, Hanum juga dapat merasakannya.
Senyum David mengembang.
"Maafkan saya Hanum, memang seharusnya fokus saya saat ini hanyalah kamu. Saya janji tidak akan menyakiti kamu Han" batin David.
"Daddy sejak kapan disitu?" tanya Hanum, ia merasa cemas bagaimana kalau David mendengar ucapannya dengan nenek barusan.
"Tidak ko, saya baru saja turun" ucap David berkilah, agar Hanum tak merasa malu atau salah tingkah.
Nenek yang sebanrnya sedari tadi sudah menyadari kehadiran David hanya tersenyum lebar melihat tingkah kedua cucunya itu.
"Jangan cuma nenek dong, kan saya juga ingin dipeluk" ucap David kemudian duduk disebelah Hanum seraya merentangkan kedua tangannya.
"Gak ah! Aku lagi sebel sama daddy" ucap Hanum dengan bibir yang mengerucut.
"Ko sebal sama saya? Memangnya saya salah apa?" ucap David dengan wajah memelas.
"Gak tau" ucap Hanum ketus.
David hanya terkekeh melihat tingkah istri kecilnya itu.
.
.
*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
__ADS_1
Dikamar Devan
"Imut kamu dari mana??" tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini sayang aku buatkan kopi untuk suamiku tercinta" ucap Tiara dengan senyum yang merekah.
"Imut sayang, kamu tak perlu repot repot seperti ini. Saya gak mau kamu terlalu kelelahan" ucap Devan dengan sorot mata khawatir.
"Sayang tak apa, justru banyak berjalan itu bagus untuk ibu hamil loh" ucap Tiara menenangkan sang suami.
"Lain kali biarkan saya membuat sendiri ya" ucap Devan meraih gelas kopi yang ditangan Tiara kemudian meletakkannya keatas nakas.
Dengan gemas Devan langsung meraup pipi bulat Tiara kemudian mendekatkan wajahnya.
Tak lama bibir mereka pun beradu, bermain dengan syahdu seakan tak pernah bosan karena telah menjadi candu.
"Ughh sayang" desah Tiara
"Imut ayok kita menengok babay" bisik Devan dengan sensual.
Dengan bibir mereka yang masih menyatu Tiara melepaskan satu persatu kencing kemeja Devan dan melempar nya ke sembarang arah.
Karena hormon kehamilan, membuat Tiara semakin sensitif setiap kali Devan menggodanya. Membuat gairahnya lebih tinggi bahkan melebihi sang suami, tentu saja Devan yang paling diuntungkan disini. Ia akan merasa senang jika terus menggoda Tiara, karena pada akhirnya ia akan mendapatkan kenikamatan yang baginya tiada tara. Apalagi tubuh Tiara semakin berisi membuat hasratnya semakin menggebu dan tak tertahan lagi.
Namun Devan tetap berhati hati, demi menjaga baby nya agar tetap nyaman diperut Tiara dan tak terganggu oleh kegiatan panas mereka.
.
.
.
Bersmabung.....
...Jangan Lupa...
... ...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Agar author tambah semangat lagi buat up....
...Terimakasih!!...
__ADS_1
.