
"Saya fikir kalian tidak akan datang" ucap David pada Yoga dengan senyuman sinis, karena Yoga dan Laura datang pas dipenghujung acara.
"Maaf Dave, tadi Yoga nemenin aku grand opening cabang butikku yang baru" ucap Laura.
"Tak apa apa kak, yang penting kalian sudah datang" ucap Hanum dengan senyum ramahnya.
"Selamat ya Hanum, kamu sudah berhasil merobohkan hati keras Dave. Aku saja yang sudah bertahun tahun memperjuangkan dia tak mampu mendapatkannya" ucap Laura tersenyum kecut.
Hanum mengernyitkan dahinya karena tak mengerti arah ucapan perempuan dihadapannya ini.
"Tapi sekarang kan sudah ada Yoga" ucap David mengarahkan bola matanya pada sang asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Ya tapi itu dulu, sekarang aku punya Yoga yang mencintaiku dengan tulus" ucap Laura sumringah lalu merangkul lengan Yoga yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi mereka.
"Sorry ya bro!! Kalian yang lebih dulu tunangan malah saya yang duluan nikah" kekeh David pada Yoga.
"Tenang saja, takkan lama lagi kami akan menyusul kalian! Selamat semoga bahagia" ucap Yoga dengan senyum hangatnya.
Setelah sedikit bercengkrama, Laura dan Yoga pun pamit untuk pulang.
.
.
.
"Baby kamu capek??" tanya David.
Kini mereka sudah berada dikamar hotel dengan fasilitas paling mewah, khusus untuk pasangan pengantin baru.
"Iya dad, berendam di air hangat sepertinya enak" ucap Hanum.
Tanpa kata David langsung menggendong tubuh Hanum dibawanya ke kamar mandi.
"Dad, ngapain sih aku juga bisa sendiri" ucap Hanum
"Ssstt, mari nikmati malam pertama kita" bisik David ditelinga Hanum.
Dua bola mata Hanum membulat
"Dadd kita kan udah pernah jadi ini bukan malam pertama kita" sanggah Hanum, ia tak menyadari jika sedari tadi David sudah membuka resleting gaun yang terletak di punggungnya.
"Anggap saja ini malam pertama kita" ucap David dengan bibir yang menyungging ke samping.
Plukk
__ADS_1
Dengan sedikit tarikan dari tangan jahil David, gaun tak berlengan itupun jatuh dilantai.
"Daddyy!!!" teriak Hanum seraya menyilangkan kedua tangan menutupi dada miliknya.
David hanya terkekeh, detik berikutnya ia langsung menggendong tubuh Hanum dan memebawanya kedalam bath tub.
.
.
Pagi pun menjelang.
Devan mengerjapkan kedua matanya akibat silau oleh pantulan sinar matahari yang menembus tirai kaca di kamar nya.
Diliriknya tempat tidur disebelahnya sudah kosong, ia baru menyadari jika ia tertidur dalam keadaan tak berpakaian. Jangan tanya mengapa? Kalian semua pasti tahu jawabannya.
Setelah memakai celana boxer yang sudah disiapkan Tiara diatas kasur, ia pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
"Non ngapain pagi pagi di dapur?" ucap mbak Siti menghampiri Tiara yang sedang sibuk dengan alat masaknya.
"Sudah non duduk saja, biar saya yang lanjutkan" ucap mbak Siti seraya mengambil alih alat masak dari tangan Tiara.
"Yaudah deh mbak yang lanjutin, aku mau bikin susu aja buat baby sama papanya" ucap Tiara mengelus perut buncitnya.
"Iya non, non kan sedang hamil jadi jangan terlalu lelah" ucap mbak Siti.
"Oh iya mbak, mommy sama nenek semalam pulang gak?" tanya Tiara.
"Kayanya enggak deh non, mungkin nyonya dan nyonya besar nginap dihotel" ujar sang asisten.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
Saat ia akan membuat susu, ia dibuat terkejut dengan banyaknya susu persiapan kehamilan disana.
"Mbak, ini susu persiapan kehamilan milik siapa?" tanya Tiara dengan dahi yang berkerut.
"Oh itu milik non Hanum, nyonya yang membelikan mungkin saja nyonya sudah tak sabar ingin segera menimang cucu dari den David" ucap mbak Siti.
Mendengar jawaban dari sang asisten, membuat Tiara termenung.
"Mudah sekali mommy menerima Hanum, sedangkan padaku dulu? Karena ketidaksukaannya terhadapku mommy sampai nekat menjebak kak David agar tak jadi menikah denganku" ucap batin Tiara.
__ADS_1
"Loh non, kok malah bengong? Sudah selesai membuat susunya? Kalau belum biar saya yang buatkan" ujar mbak Siti membuyarkan lamunan Tiara.
"Ah tidak usah mbak, biar aku saja! Mbak selesaikan aja masaknya terus bawa ke meja makan" ucap Tiara kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
"Astaga!! Mikir apa aku? Seharusnya aku bersyukur, karena sifat licik mommy aku bisa menikah dengan Devan cinta pertamaku yang selalu aku tunggu" ucap Tiara dalam hati.
Setelah selesai membuat susu, Tiara memutuskan untuk kembali ke kamar untuk memastikan jika suaminya sudah bangun atau belum.
"Sayang kamu sudah bangun?" ucap Tiara saat memasuki kamar mereka, mendapati Devan tengah duduk disofa dengan gawai ditangannya.
"Iya imut, kamu darimana??" ujar Devan menarik tangan Tiara kemudian membawanya kedalam pangkuannya.
"Aku habis bikin sarapan sayang" ucap Tiar mengalungkan tangannya pada leher sang suami.
"Sudah saya bilang, jangan terlalu lelah" ucap Devan menggesekkan hidungnya ke hidung Tiara hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Aku hanya bergerak sedikit sayang, sisanya diteruskan mbak Siti" ucap Tiara manja.
"Aku juga membuatkan susu hangat untukmu" bisik Tiara karena wajah mereka kini seakan tak berjarak.
"Saya ingin yang lebih manis daripada susu hangat" ujar Devan kemudian melahap habis benda kenyal berwarna merah jambu milik Tiara.
"Morning kiss" ucap Devan setelah menyudahi ciuman panasnya yang bagi Devan lebih manis daripada susu hangat.
.
.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Agar author tambah semangat lagi buat up...
...Terimakasih :)...
.
__ADS_1