
"Secepat itu Tiara menggantikan ku dihatinya" lirih David.
Ckleekk.
Bu Sandra masuk ke kamar David tanpa permisi.
"Dave tolong dengarkan penjelasan momy dulu" bu Sandra duduk disebelah David.
Namun David masih tak menghiraukannya dan masih memalingkan muka kelawan arah.
"Sayang momy melakukan ini untuk kebaikan kamu nak" ucap bu Sandra memasang wajah sedih.
"Yang terbaik untukku momy bilang??? Aku sudah kehilangan orang yang sangat aku cintai mom!!!, momy tau kan aku sesedih apa?? Aku seterpuruk apa?? Dan itu semua gara gara momy!!!" bentak David dengan penuh amarah. Emosi yang ia pendam selama ini akhirnya tumpah juga dihadapan sang ibu.
"aaaaaa!!!" teriak bu Sandra tak kalah kencang dari David
"Dave kau tega membentak ibu kandungmu sendiri, seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan mu dengan sepenuh cinta, apapun momy lakukan untuk kebaikan kamu Dave. Seumur umur momy belum pernah dibentak oleh anak kesayangan momy ini, cuma karna wanita miskin yang tak pantas itu, kau meninggikan suaramu pada momy. Momy kecewa sama kamu Dave" dengan terisak bu Sandra meninggalkan Kamar David.
David hanya diam, ia memang sangat sedih kehilangan kesempatan untuk bersama Tiara kembali, disisi lain ia juga menyesal telah meninggikan suara pada wanita yang paling dihormatinya.
"Momy pasti sangat sedih, maafkan Dave mom" gumam David.
Begitulah David, karna kelembutan hatinya maka ia gampang luluh dengan air mata, apalagi itu ibu kandungnya.
Setelah keluar dari kamar David, bu Sandra langsung mengusap matanya. Menghapus buliran buliran air mata palsu yang keluar dari matanya.
"Maaf sayang, kamu masih tetap harus berada dalam kendali momy" ucap bu Sandra kemudian berlalu.
**********************************
Pagi menjelang, Tiara merasa terusik tidurnya karna merasa ada yang menggelitik diwajahnya.
"Hmmmm" lenguh Tiara.
Saat ia membuka matanya, dilihatnya wajah tampan sang suami sedang berada diatas wajahnya. Dipandangnya netra coklat milik Devan yang seakan menghipnotis Tiara untuk tetap diam.
Devan pun kembali melanjutkan kegiatannya yaitu menciumi wajah cantik Tiara.
"Devan cukup, ini sudah pagi" ucap Tiara.
Kedua tangannya menggenggam wajah Devan yang biasanya datar tanpa ekspresi, namun kini nampak terlihat lucu karna bibirnya dimanyunkam dan mata yang memelas.
Tiara pun tergelak.
"Menertawakan suamimu huh"ucap Devan.
Tiara melepaskan kedua tangannya dari wajah Devan.
"Tidak sayang" ucap Tiara, membuat Devan tertegun.
"Tolong ucapkan sekali lagi" ujar Devan menarik tubuh Tiara agar merapat dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Emmm tidak sayaaaang" ucap Tiara dengan senyum manisnya.
"Mulai sekarang, panggil saya dengan sebutan itu" pinta Devan sambil menggenggam tangan Tiara.
"Siap bos" ucap Tiara yang dibalas dengan pelototan Devan.
"Ehhh sayang maksudnya" Tiara terkekeh. pagi pagi ia sudah melihat wajah suaminya dengan berbagai ekspresi, yang biasanya hanya datar saja.
"Makasih istriku" Devan mengecup kening. Tiara yang menciptakan kehangatan dalam hati istrinya itu.
"Semoga selamanya sebahagia ini" ucap batin Tiara.
"Yaudah aku mau mandi dulu" ucap Tiara lalu turun dari tempat tidur.
Sebelum ia sampai ke pintu kamar mandi, langkah kakinya terhenti karna panggilan sang suami.
"Kita mandi bareng" ucap Devan menyusul sang istri.
.
.
**********************************
Dikantor, Devan nampak sedang sibuk mengecek satu persatu laporan hasil panen musim ini. Ia nampak puas, pasalnya hasil panen di musim ini dua kali lipat dari musim sebelumnya.
"Tuan, ada tuan Baskara ingin berjumpa dengan anda" ucap Riki dari sebrang telfon.
Tak lama pintu ruangan pun terbuka.
"Se..selamat pagi tuan Devano" ucap tuan Baskara sedikit gugup.
"Langsung ke intinya saja" ucap Devan.
"Tuan saya minta maaf atas apa yang sudah putri saya lakukan waktu itu" ucap tuan Baskara masih belum berani menatap wajah dingin Devan.
Setelah kejadian hari itu, tuan Baskara sama sekali tidak merasakan tenang dalam hidupnya. Karna ia tau, siapa saja yang berani membuat masalah dengan Devano Mahendra maka bisa dipastikan perusahaan mereka akan gulung tikar. Bisa dibilang, Devan mempunyai kekuasaan terbesar di bidang pertanian dan produksi pangan di wilayah tersebut bahkan hampir ke tingkat nasional.
"Hmmm" Devan memandang wajah ketakutan tuan Baskara. Padahal hampir saja ia lupa akan kejadian hari itu, ya saking ia sangat menikmati kebahagiaan yang baru ia rasakan bersama Tiara.
"Seandainya waktu itu putri tuan Baskara tidak berniat menjebakku, mungkin saja sampai detik ini aku masih belum bisa menyentuh cintaku" batin Devan, ia tersenyum samar bahkan hampir tak terlihat mengingat kejadian panas nya bersama Tiara.
"Tuan Devano" panggil tuan Baskara, karna yang menjadi lawan bicaranya malah hanya terbengong dengan wajah yang memerah.
Devan pun terlonjak, bisa bisanya ia membayangkan sesuatu bersama istrinya pada waktu yang tak seharusnya. Rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri, tapi itu tidak mungkin karna dihadapannya sedang ada orang lain.
"Baik saya maafkan anda!!" ucap Devan membuat tuan Baskara kaget, semudah itu Devano Mahendra memaafkan dirinya, ia malah semakin cemas, karna takut Devan malah punya rencana lain.
"Apa kau serius tuan" ucap tuan Baskara pelan.
"Iya, justru saya ingin berterimakasih pada putrimu, hanya saja tolong kau didik putrimu itu agar tau sopan santun. Dan jangan biarkan ia nampak depan mata saya lagi" jelas Devan.
__ADS_1
Tuan Baskara pun merasa lega, tak lama ia pun berpamitan pulang.
Sepeninggalan tamu tak diundangnya itu, senyum Devan tiba tiba mengembang. Ia merasa rindu pada istrinya.
Untung saja ia sudah menyimpan no handphone istrinya itu, kala Tiara sedang tidur.
Tuuutttttt tuutttt
Tak lama panggilannya pun dijawab.
"Halo, ini siapa ya" ucap suara lembut di sebrang sana.
"Jangan melembutkan suaramu pada orang lain seperti ini, cukup pada saya saja" ucap Devan.
"Sayang" Tiara merasa senang, karna dari tadi ia juga memikirkan Devan. Entah mengapa ia sangat merindukan suaminya. Ingin menelfon, tapi ia tak punya nomornya. Dan tiba tiba ada yang menghubunginya tak lain adalah Devan, orang yang sedang ia rindukan. Tentu saja ia sangat bahagia.
"Kau sedang apa??" tanya Devan.
"Aku sedang merindukanmu" kekeh Tiara.
"Yasudah tunggu ya, saya akan segera pulang" ucap Devan.
Belum sempat Tiara membalas ucapan Devan, telfonnya sudah terputus.
"Hmmm, jangan bilang dia beneran pulang" Tiara segera naik ke kamarnya.
Ia membetulkan penampilannya,
"mana tau Devan beneran pulang, tapi walaupun gk beneran pulang juga gpp sih" Fikir nya.
Saat Tiara membuka lemari pakaiannya, matanya tertuju pada plastik berwarna putih yang dulu pernah ia lempar.
"Inikan baju tipis kurang bahan itu" diambilnya plastik yang berisikan baju baju dinas malam seorang istri.
"Gk ada salahnya aku cobain" Tiara mengambil lingeri yang berwarna merah menyala lalu dikenakannya.
"Wahhh s*ksi juga ternyata aku" kekeh Tiara sambil melihat pantulan dirinya dari dalam cermin.
Sedang asyik memuji dirinya sendiri, tiba tiba pintu kamarnya terbuka. Tiara kaget dan kelabakan, kala melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya.
"Devan" ucap Tiara.
Namun yang dipanggil hanya diam dan menatap dengan tatapan yang tak biasa.
Tatapan seakan ingin memakan istrinya tanpa ampun.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung