My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.98 Alena dan sang Asisten


__ADS_3

Setelah melewati masa pemulihan, akhirnya Alena sudah dibolehkan keluar dari rumah sakit dengan syarat tetap kontrol setiap dua minggu sekali. Karena benturan dikepalanya lumayan keras, jadi masih harus dipantau dokter hingga benar benar sembuh.


Untuk sementara Alena akan tinggal dirumah Elifia karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat ia dirawat. Begitu pun tuan Erdan, ia nampaknya lebih betah tinggal di desa bersama putrinya. Selain udara pedesaan yang sejuk, ia juga lebih mudah bertemu dengan cucunya karena dari rumah Lifia cukup menempuh waktu dua puluh menit untuk sampai kerumah Devan.


Alena sudah rapi mengenakan dress warna peach bermotif beruang kecil, wajahnya juga sudah tidak terlalu pucat lagi karena dipoles bedak tipis dan lipcream nude miliknya. Sepertinya mulai saat ini ia akan merubah penampilannya, tidak lagi bermake-up tebal dan warna bibir yang mencolok, serta pakaiannya kurang bahan yang sering ia gunakan dulu akan dia buang jauh jauh.


Tekadnya ingin merubah diri karena ia mulai merasa malu, apalagi saat ia membayangkan sosok wajah seseorang. Rasanya ia ingin berubah saja menjadi wanita paling baik didunia ini agar laki laki muda itu bisa tertarik padanya.


"Ishhh mikir apa gue..!" tepis Alena dengan senyum malu malu.


Sesekali ia menoleh pada jam dinding rumah sakit. Ia sedang menunggu tantenya Lifia datang untuk menjemputnya, karena Yukas sudah kembali ke kota asalnya karena sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi, juga mengurus sidang perceraiannya dengan Alisa agar cepat usai karena Yukas sudah benar benar muak dengan semua tingkah laku mantan istrinya itu.


"Assalamualaikum, Alena kamu sudah bersiap?" ucap Lifia saat masuk kedalam ruang rawat Alena.


"Walaikumsalam tante Elif, sudah tan. Ale kira tante lupa buat jemput Ale" ucap Alena manja.


"Gak mungkin dong tante lupa, tadi tante habis dari rumah Devan dulu. Katanya Tiara kangen makan puding coklat bikinan tante" ucapan Lifia dengan senyum merekahnya.


"Wahh.. Ale mau juga dong" ujar Alena.


"Tenang saja, tante sudah siapin juga buat kamu dirumah, kamu udah siap ayok!! Riki sudah nunggu dimobil" ucap Lifia menggandeng tang Alena.


"Emmm siapa tadi tan yang nunggu kita?" tanya Alena, jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat dari normalnya.


"Riki, anak buahnya Devan, tadi Devan menugaskan Riki untuk mengantar tante jemput kamu" ucap Lifia.


"Duhh ko aku salting gini ya mau ketemu sama dia" batin Alena.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Lifia.


"Ohh, tidak apa apa tante, ayo kita pulang.! Ale sudah gak sabar mau makan puding bikinan tante, Ale juga kangen sama opa" ucap Alena.


Mereka pun melangkah meninggalkan kamar rawat yang kurang lebih dua minggu Alena tempati.


***


Disepanjang perjalanan, Lifia nampak sibuk dengan tablet pintar ditangannya. Sedangkan Alena ia merasa salah tingkah kala tatapannya bersibobrok dengan si pengemudi melalui kaca spion depan.


"Tan.. Tante sedang apa?" tanya Alena sedikit gugup.


"Ini tante lagi ngecek bisnis resort tante. Karena udah lama gak ke kantor jadi tante ngecek via daring saja" jelas Lifia tanpa menoleh ke lawan bicaranya.


"Owhhh" ucap Alena.


Tatapannya kembali pada spion lagi, disana ia dapat melihat jelas pemilik mata bulat dengan bulu mata lebat itu tengah tersenyum jahil padanya dan tiba tiba mengedipkan sebelah matanya nakal. Hal itu membuat Alena membeku, ia tak tau harus bagaimana. Lagi lagi untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan aneh pada dirinya karena satu orang itu.

__ADS_1


"Astaga..! Jantungku serasa mau lompat" batin Alena.


"Nona Alena, bagaimana kondisi nona apa sudah lebih baik?" ucap Riki membuat Alena membuang pandangannya dari spion tadi.


"Yes, better" balas Alena cepat.


"Syukurlah kalau begitu" ucap Riki, ia kembali tersenyum dan Alena dapat melihat itu dengan jelas.


"Bunda mau langsung pulang atau kerumah bos dulu?" tanya Riki pada Lifia yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Langsung pulang saja nak, biar Alena bisa langsung istirahat" ucap Lifia sekilas mendongak pada sang pengendali kemudi.


"Hahh bunda?" ucap Alena penuh tanya.


"Iya sayang, nak Riki memanggil tante bunda. Sama kaya Devan, tante juga sudah menganggap nak Riki ini seperti putra tante sendiri" jelas Lifia.


Alena hanya menganggukkan kepalanya. Karena pengaruh obat yang ia minum sebelum pulang tadi, kantuk mulai menderanya.


Semilir angin sejuk dari kaca mobil yang sedikit terbuka, turut mengantarkan Alena ke alam bawah sadarnya alias tertidur. Padahal sedikit lagi mereka akan sampai dirumah Lifia.


"Udah hampir sampai tapi malah tidur" ucap Lifia memandang wajah keponakannya yang tengah tertidur lelap.


"Tidak perlu dibangunkan bunda, biar saya saja yang membawa nona Alena kedalam" ujar Riki dan disetujui Alena.


.


.


"Nak, kamu tidak sedang sibuk kan?" tanya Lifia pada Riki.


"Tidak bunda, sementara belum ada tugas dari bos Devan" jawab Riki.


"Bunda harus ke kantor pusat karena ada pertemuan penting nak, mendadak bengat dan tidak bisa diwakilkan. Bunda boleh titip Alena tidak, biar dia tidak sendirian karena bunda tidak tahu akan lama atau sebentar disana" jelas Lifia.


"Bunda tenang saja, saya pasti akan menjaga nona Alena dan menemaninya saat ia sudah bangun nanti" jawab Riki.


"Kalau kalian mau makan, makanan sudah tersedia dimeja makan. Dan puding buatan bunda ada di lemari es. Yasudah bunda pamit berangkat dulu ya!" ucap Lifia kemudian bergegas keluar dari kamar Alena.


"Iya bunda hati hati" ucap Riki.


Sepeninggal Lifia, kini hanya tinggal ia berdua dengan Alena dirumah ini.


"Nona Alena, sebenarnya kamu ini cantik. Hanya saja tertutupi oleh kabut kesombongan dan keangkuhan" gumam Riki memandang wajah polos Alena yang tengah terlelap.


Tak lama, Alena mengerjapkan matanya. Ia melihat sekeliling ruang asing dimana dirinya berada saat ini.

__ADS_1


Namun ia tersentak kala netranya bertemu dengan pemilik mata bulat yang tengah mengernyitkan alisnya menatap Alena dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Kamu ngapain ada disini???" tanya Alena ketus.


"Masih saja angkuh, saya kira sudah berubah" ucap Riki dalam hati,


"Saya disuruh bunda buat temani kamu, bunda sedang ada pertemuan penting dikantor pusat" jawab Riki malas.


"Owhh, opa mana? Aku mau ketemu opa!" ujar Alena kemudian turun dari tempat tidur ia harus segera keluar dari kamar ini, demi jantungnya agar bekerja normal kembali.


Lama lama berduaan dengan Riki bisa bisa jantungnya copot akibat terlalu kencang berdetak.


Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, tanyanya dicekal oleh Riki sehingga ia tak dapat beranjak pergi.


"Tuan Erdan tidak ada disini, dia sedang berada dirumah bos Devan" ucap Riki tanpa melepas cekalan tangannya.


"Lepasin dulu tanganku..!" ucap Alena tak nyaman.


Dengan cepat Riki melepas tangannya yang menaut lengan halus Alena.


"Jadi disini hanya ada kamu?"


Riki hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah tengilnya.


Alena menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Kenapa? Nona sepertinya tidak suka saya disini??" ucap Riki.


Namun tak ada jawaban dari Alena, ia malah keluar dari kamar dan meninggalkan Riki.


"Heii nona Alena kau mau kemana?" ucap Riki menyusul langkah Alena.


"Mau makan, aku lapar!" ucap Alena tanpa menoleh pada pria muda dibelakangnya.


Bersambung....


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Biar author tambah semangat lagi up nya...

__ADS_1


...TERIMAKASIH :)...


.


__ADS_2