
"Sayang, kamu tidak kembali ke kantor??" tanya Tiara pada suaminya.
Setelah selesai makan siang, kini mereka tengah menikmati udara segar pegunungan dari balkon kamar.
"Tidak, saya sedang ingin menikmati waktu bersamamu" ucap Devan seraya mengecup kening wanita kesayangannya yang kini duduk di pangkuannya.
"Sayang apa aku boleh bertanya?" ucap Tiara menatap mata Devan lekat.
"Apapun itu, semua boleh untukmu" jawab Devan dengan senyum manisnya.
"Apa... Apa kau mencintaiku??" Tiara masih menatap lekat mata sang suami.
"Saya tidak mungkin bercinta dengan wanita yang tidak saya cintai" ucap Devan tegas.
Tiara merasa lega, perasaan yang mulai tumbuh dihatinya untuk Devan seakan bertambah subur. Karna yang dicintainya memiliki perasaan yang sama dengan yang ia rasa.
"Tapi sejak kapan?" tanya Tiara lagi.
"Sejak kita pertama bertemu" jawab Devan masih dengan menatap manik mata indah milik Tiara.
"Berarti saat hari pernikahan kita?" ucap Tiara yang masih belum puas dengan jawaban Devan.
Karna untuk pertama kalinya mereka ngobrol mengenai perasaan masing masing.
"Bukan!!!" jawab Devan singkat.
Tiara melebarkan bola matanya.
"Sayang, apa sebelumnya kita pernah bertemu" ujar Tiara, yang hanya dibalas anggukan Devan.
"Sudah jangan bahas itu lagi, suatu saat kamu pasti tau dari diri kamu sendiri" ucap Devan.
"Tapi..."
Sebelum Tiara melanjutkan ucapannya, bibirnya sudah dibungkam oleh benda kenyal milik Devan.
Karna hampir kehilangan oksigen, Devan melepaskan kegiatan olahraga bibir kesukaannya itu, Tiara yang merasa sebal mendapat serangan mendadak hanya bisa memanyunkan bibirnya. Hal itu semakin membuat Devan gemas.
"Ayo!! Saya akan membawamu ke suatu tempat" ajak Devan menarik pergelangan tangan Tiara.
"Mau kemana???" Tiara hanya menuruti ajakan suaminya itu.
Tak ada jawaban dari Devan.
"Tapi sebelumnya, ganti bajumu dulu. Gunakan celana panjang karna kita akan pergi naik motor. Saya tunggu dibawah" ucap Devan seraya mengecup kening Tiara.
"Ok" jawab Tiara singkat.
Setelah suaminya keluar dari kamar.
__ADS_1
Ia pun bergegas untuk mengganti pakai nya.
"Pakai apa ya??" ucap Tiara bingung kala membuka lemari nya.
Karna selama tinggal dirumah Devan ia tidak pernah pergi pergi keluar, dan dirumah hanya menggunakan dress rumahan biasa aja, biarpun dalam lemarinya sudah lengkap dengan berbagai model pakaian.
Akhirnya pilihannya jatuh pada celana jeans haigh waist berwarna biru langit, kaos berwarna putih, serta jaket crop jeans berwarna senada. Tak lupa ia mengikat kuda rambut panjang nya, dan memakai sepatu kets berwarna putih.
Setelah selesai Tiara langsung menghampiri suaminya yang sudah menunggunya dihalaman rumah.
Tampak Devan sedang setengah bersandar pada motor sport berwarna hitam miliknya. Devan terlihat sangat gagah dan tampan, membuat Tiara terpesona.
"Saya sudah lama menunggu, bukannya buru buru malah sibuk memandangi saya!!" ucap Devan membuyarkan pandangan Tiara.
"Ehh maaf sayang" ucap Tiara gugup, ia merasa malu karna terciduk sedang terpesona pada suaminya sendiri.
"Apapun yang kamu kagumi dari tubuh saya, itu semuanya milikmu! Selamanya" bisik Devan seraya memasangkan helm pada istri kesayangannya itu.
"Ternyata cowok kulkas ini kalo sudah bucin melebihi oppa oppa dalam drama korea" kekeh Tiara dalam hati.
.
.
Motor sport milik Devan melaju kearah perbukitan.
"Sayang ini indah sekali" ucap Tiara tepat ditelinga Devan.
Hanya dibalas dengan senyuman yang nampak samar dari balik helm sang suami.
Namun tiba tiba motor berhenti disalah satu warung kecil dipinggir jalan.
Tiara tak banyak bertanya, ia hanya mengikuti saja apa yang dilakukan suaminya.
Yang ternyata Devan membeli air mineral untuk mereka berdua.
"Ini minum dulu, kamu pasti haus. Perjalanan masih agak jauh" ucap Devan lalu memberikan sebotol air mineral yang tutupnya telah ia buka.
"Terimakasih, aku memang haus" ujar Tiara dan langsung meneguk sebotol air yanh diberikan Devan.
"aa Devan" tiba tiba suara cempreng seorang wanita datang menghampiri mereka, membuat Tiara memutar dua bola matanya malas kala tau siapa yang datang. Dan itu tidak luput dari pandangan Devan, ia faham istrinya tidak akan nyaman dengan situasi ini.
"aa Devan ngapain disini? Tau aja kalo Sinta kangen" ucap Sinta kecentilan seraya menggandeng sebelah tangan Devan.
Membuat Tiara semakin malas untuk melihatnya, karna Devan hanya diam saja.
"Heyy mbak tolong jangan sentuh sentuh suami saya!!!" Ucap Tiara geram seraya melerai tautan tangan Sinta pada lengan suaminya.
Devan yang dari tadi sengaja mengerjai Tiara hanya menyeringai tipis, sebenarnya ini yang ia tunggu dari tadi.
__ADS_1
"Ihhh apaan sih ngaku ngaku aja!!! aa Devan itu calon suaminya Sinta, setelah Sinta lulus kuliah aa Devan pasti akan melamar Sinta" ucap Sinta tegas pada Tiara.
Tiara melirik kearah Devan yang sedang menunduk tersenyum mendengar perdebatan dua wanita itu, saat Devan mengangkat kepalanya matanya bersibobrok dengan tatapan tajam Tiara.
Ia harus segera bertindak sebelum istrinya benar benar marah. Yang ada malah nanti ia tidak dapat jatah lagi. Wkwkwk
"Sinta, yang Tiara ucapkan itu memang benar. Saya suaminya" ucap Devan pada Sinta.
"aa pasti bohong, waktu itu saja aa bilang kalau dia cuma teman" sanggah Sinta masih tak percaya apa yanh Devan ucapkan.
"Maksud saya teman tidur" ucap Devan tegas meski tanpa ekspresi.
Tiara menatap malas kedua orang berbeda jenis itu.
"Manusia kulkas vs kaleng rombeng" kekeh Tiara dalam hati.
Namun jawaban Sinta selanjutnya sontak membuat suami istri ini terkejut.
"Hmmm syukurlah kalo aa Devan sudah menikah. Sebenarnya selama ini Sinta terus menggoda aa Devan hanya untuk menepis rumor yang beredar luas di masyarakat. Meskipun aa Devan tetap saja tidak merespon Sinta" ucap Sinta dari kedua matanya Tiara dapat menangkap jika perempuan itu berbicara jujur.
"Rumor apaan???" tanya Tiara penasaran.
"Rumor kalau aa Devan penyuka sesama jenis" ucap Sinta menatap ragu ragu Devan.
Devan tak bergeming, masih dengan wajah datarnya. Ia memang sudah tahu sejak lama mengenai rumor tentang dirinya itu, namun memilih bungkam dan membiarkan rumor itu terus bergulir liat seperti bola salju.
"Tapi kenapa bisa ada rumor seperti itu??" Tiara semakin penasaran, bagaimana mungkin suaminya itu dibilang suka sesama jenis, sedangkan jika sedang menggempurnya saja ia sangat bernafsu dan tidak memberinya ampun.
"Karna aa Devan selalu menolak setiap perempuan yang dijodohkan kepadanya oleh juragan juragan sayur di desa" jelas Sinta lagi.
"Yaudah Sinta pamit dulu, buat aa Devan Sinta minta maaf karna selama ini udah bikin aa Devan tidak nyaman" pamit Sinta dan ia pun pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
.
.
.
.
Bersambung....
To my Readers tercinta, dukung terus author yaa. Tinggalkan jejak jempol, komentar dan jangan lupa beri dukungan author dengan cara kasih author hadiah atau vote biar author tambah semangat lagi nerusin ceritanya...
kalau ada kritik dan saran jangan dipendam, tuangkan saja di komentar!!!!
Semoga suka dengan cerita cerita halu author!
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1