My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.76 Pawang


__ADS_3

Pesta resepsi pernikahan David dan Hanum pun berlangsung meriah dan ditaburi dengan kemewahan.


Tamu yang berdatangan pun kebanyakan bukan dari kalangan biasa, mulai dari pengusaha hingga para artis banyak berdatangan memenuhi undangan.


Di pelaminan yang nampak megah, nampak sepasang raja dan ratu sang pemilik acara tersenyum bahagia pada setiap tamu yang berdatangan.


"Baby kamu cantik sekali" bisik David ditelinga Hanum


"Daddy juga sangat tampan dan gagah" balas Hanum.


Keduanya pun saling berpelukan tanpa menghiraukan orang orang disekitar mereka.


"Eheem, bisa tidak bermesraannya setelah acara selesai saja" ucap seseorang


David dan Hanum pun menoleh kearah suara, ternyata yang berbicara tadi adalah Devan dengan wajah datarnya dan Tiara yang tersenyum hangat pada sepasang pengantin yang sedang berbahagia itu.


"Devan" ujar David.


"Yes, i'm" jawab Devan dengan wajah dinginnya.


Ekor mata Hanum mengarah pada Tiara yang sejak tadi senyuman tak luntur dari bibir merahnya.


"Apakah laki laki itu adiknya om David alis suaminya kak Tiara, kenapa wajahnya beda sekali dengan om David. Auranya juga beda" batin Hanum.


"Baby, perkenalkan ini Devano Mahendra adik saya" ucap David seraya menarik pinggang Hanum agar mendekat padanya.


Hanum melemparkan senyum pada Devan namun Devan hanya acuh dengan wajah datar nya tak melirik sedikit pun kearah Hanum, mata lelaki itu sedari tadi terus tertuju pada Tiara istrinya. Sekalipun beralih itu pada David.


"Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga bahagia selalu dan segera dikasih momongan" ucap Tiara dengan mata yang berbinar seolah dapat merasakan kebahagiaan mereka.


"Terimakasih kak Tiara, kaka cantik sekali malam ini" ucap Hanum.


"Pasti lebih cantik kamu dong, kan kamu ratu nya disini" ucap Tiara.


"Devan, Tiara terimakasih telah hadir diacara bahagia kami" ucap David nampak enggan melihat kearah Tiara yang terlihat sangat anggun dengan dress panjang lengan sabrina warna merah yang dikenakannya.


Bagaimanapun juga Tiara sempat menjadi pujaan bagi dirinya, ia masih takut tak dapat mengendalikan kewarasannya.


Devan yang peka terhadap apa yang dirasakan oleh kakaknya langsung memeluk tubuh David dan seloah berbisik.


"Selamat ya kak, semoga bahagia selalu. Maaf kemarin saya membuatmu kecewa dengan mengambil sesuatu yang memang seharusnya milik saya" ucap Devan ditelinga David.


David nanya tersenyum mendengar penuturan sang adik. Setelah sekian lama baru kali ini Devan kembali berbicara akrab lagi padanya.


"Yasudah, kami kesana dulu. Ini bumil sejak tadi merengek terus ingin makan" ujar Devan masih dengan wajah datarnya.


Devan kembali memakai kaca mata hitam miliknya, kemudian tangan kanannya menggandeng tangan sang istri dan tangan kirinya masuk ke saku celana. Melangkah dengan gagahnya meninggalkan sepasang pengantin yang tengah berbahagia itu.


"Daddy itu suami kak Tiara beneran adiknya daddy?" tanya Hanum masih tak percaya.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya David tak suka karena Hanum malah penasaran dengan Devan adiknya.


"Ko beda ya, serem di liatnya! Kalo daddy kan murah senyum, sangat tampan" ujar Hanum, tak ingin suaminya salah faham dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Dia memang begitu orangnya, hanya pada pawangnya saja dia akan bersikap hangat dan manis" ucap David.


"Hah! Pawang??" ucap Hanum mengernyitkan alisnya.


"Iya pawangnya Devan ya Tiara" ujar David.


"Kalau pawang daddy?" tanya Hanum.


"Saya tak perlu pawang, karena saya bukan buaya" ucap David kemudian keduanya tertawa.


.


.


Disisi yang lain, Sandra tengah sibuk menyambut teman sosialitanya satu persatu.


"Aduh jeng makasih loh sudah mau datang di acara sederhana kami" ucap Sandra jumawa.


"Tentu saja kami akan datang, karena merupakan sebuah kehormatan bagi kami bisa hadir dia acara meriah keluarga Mahendra ini" ucap salah satu temannya.


"Yasudah saya pamit kesana dulu ya" ucap Sandra pada kumpulan teman temannya itu.


"Aduh haus juga ya kebanyakan bicara" ucap Sandra kemudian berjalan menuju stand minuman.


.


.


"Ayah ngapain kita terus duduk disini, ayok kita berbaur kesana untuk menikmati acara. Lagipula kita harus bertemu Hanum dan mengucapkan selamat padanya" ujar Maya pada suaminya. Karena sedari mereka datang ayah Hanum hanya memilih duduk di kursi tamu itupun paling pojok.


"Ayok ayahh" ucap Maya seraya menarik lengan suaminya.


Namun karena terlalu kencang, dan ayah Hanum pun seakan berat untuk melangkah, tak sengaja Maya menyenggol seseorang yang tengah memegang gelas minuman, hingga minuman itu tumpah membasahi bajunya.


Maya ternganga merasakan bajunya basah kuyub tersiram air.


"Upss!! Makanya kalau jalan hati hati dong. Matanya dipake! Jadi kebasahan kan baju kawe nya" ucap Sandra dengan wajah angkuhnya.


"Heh yang ada anda yaa yang hati hati, anda lihat baju mahal saya jadi basah dan kotor begini" ucap Maya tak kalah nyolot.


"Whatt??? Mahal? Memang berapa harganya? Saya yakin semua orang disini pasti tau kalau pakaian yang anda pakai itu tidak ori alias kawe haha" ucap Sandra.


"Kurang ajar!! Anda tidak tau siapa saya huh??" ucap Maya dengan emosinya yang mulai meninggi.


"Memangnya siapa anda?" tanya Sandra, ia sendiri merasa heran perasaan semua tamu yang Sandra undang kebanyakan pasti ia kenal, karena Sandra juga kerap datang diacara acara pesta seperti ini. hanya wanita ini dan suaminya lah yang belum Sandra kenal.


"Saya adalah orang tua dari mempelai wanita! Dan saya pastikan saya akan mengadukan anda pada menantu saya karena telah berani mengotori baju saya dan menghina saya" ucap Maya dengan angkuh.


"Bu udah bu" ucap ayah Hanum mencoba menenangkan sang istri.


"Ayah diam!" bantahnya.


"Ohh bhahahaha" Sandra hanya tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut maya barusan.

__ADS_1


"Ohh jadi dua orang udik ini orang tuanya si bocah. Cihh udah miskin sombong lagi! Pakai barang kawe aja bangga!" ucap Sandra dalam hati kemudian mengentikan tawanya dengan gelagat angkuh yang mendominasi dalam dirinya.


"Kenapa anda tertawa??" tanya Maya sewot.


"Tidak ada, saya hanya takut jika anda mengadukan saya pada menantu anda. Sebaiknya saya pergi saja" ucap Sandra dengan seringai licik nya.


"Daripada aku meladeni mulut sampah orang miskin itu, lebih baik aku menikmati pesta saja. Masih banyak orang orang penting yang harus aku sambut" ucap Sandra dalam hati kemudian meninggalkan besannya yang tengah merengut menahan emosi.


Baru tiga langkah Sandra berjalan, ia menoleh kembali kearah Maya.


"Bay bay besan" ujar Sandra menherakan jari tangannya dengan senyum yang mengejek.


Dua bola mata Maya membulat sempurna.


"Sialan..!! Wanita sombong itu ternyata mertuanya Hanum" umpat Maya.


"Kan sudah ayah bilang, tidak usah di ladenin" ucap ayah Hanum.


"Ini semua gara gara ayah tau gak? Coba aja ayah tidak susah diajak jalan bajuku tidak akan basah begini" oceh Maya.


Ayah Hanum hanya bisa terdiam, menatap punggung sang istri yang perlahan menjauhinya.


"Ibu mau kemana?" teriak Ayah


"Toilet" jawab Maya ketus.


.


.


.


Bersambung....


...Terimakasih udah mampir!...


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Agara author tambah semangat lagi buat up!...


...Terimakasih ;)...


.......


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2