
"Mutiara..." ucap Arga dengan mata yang berbinar, sementara Tiara hanya diam seraya mengingat laki laki yang tak asing baginya itu.
"Maaf, anda kenal dengan istri saya???" Tanya Devan yang tiba tiba wajahnya berubah dingin.
"Yaa saya kenal.! Mutiara apa kamu lupa saya Arga Satria kakak tingkat kamu saat kuliah dulu" ujar Arga, Devan memandang sang istri yang setelahnya malah membuat hatinya tak senang.
"Ohh kak Arga, astaga sekarang kakak berbeda sekali aku sampai gak bisa langsung mengenali kakak" ujar Tiara dengan senyum hangatnya semakin membuat Devan tak suka.
"Silahkan duduk Pak Devano, emm Tiara.." ujar Arga.
Keduanya pun duduk dimeja yang sudah disiapkan Arga.
"Gak nyangka Tiara ternyata kamu adalah istri dari pak Devano Mahendra, pengusaha muda paling sukses dibidang pertanian nasional bahkan sepertinya sebentar lagi akan go internasional" ucap Arga pada Tiara.
"Ekheeemm, pak Arga tujuan saya datang kesini untuk membicarakan masalah kerja sama bisnis kita bukan membahas sesuatu yang tidak penting" ujar Devan datar.
"Oh baiklah pak Devan, saya sangat senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, apa lagi setelah saya tau anda merupakan suaminya Tiara" ujar Arga sesekali melirik istri pria dingin dihadapnnya itu.
Alis Devan terangkat sebelah, matanya memandang tajam pada pria yang menurutnya tidak sopan, karena sejak tadi Devan perhatikan Arga terus memandang Tiara dan hanya sesekali melirik padanya.
Tiara mengusap halus punggung tangan Devan setelah melihat wajah dingin suaminya yang menurutnya malah semakin tampan dan menawan, ia pun tersenyum faham kalau sang suami tidak suka jika Arga terlalu sok kenal sok dekat dengan dirinya ia pun pamit undur diri dari meja itu.
"Pa, mama tunggu dimobil saja ya tiba tiba kepala mama pusing" bisik Tiara yang diangguki oleh Devan.
Tiara pun bangkit dari tempat duduknya, tak ada kata pamit undur diri untuk Arga ia hanya tersenyum sekalias.
"Loh, Tiara mau kemana?" tanya Arga, tak berniat menjawab Tiara kembali melanjutkan langkahnya, ia tak ingin membuat hati suaminya semakin keruh.
"Istri saya kepalanya lagi pusing, maklum dia sedang mengandung anak kedua kami" ucap Devan asal.
"Wahh sudah anak kedua rupanya, saya kira kalian baru saja menikah" ujar Arga.
"Pak Arga sedari tadi anda terus membahas istri saya, lalu kapan kita membahas bisnis kita? Jangan sampai saya batalkan kerja sama yang sudah kita jalin dua tahun ini" ucap Devan tegas.
"Oh baiklah pak Devan mari kita mulai" jawab Arga sambil mengeluarkan berkas yang akan mereka bahas, ia harus hati hati jangan sampai kerja sama yang sangat menjanjikan bagi perusahaannya itu batal begitu saja.
Satu jam kemudian obrolan bisnis mereka berakhir dengan kesepakatan kerja sama yang berlanjut yang tentunya menguntungkan bagi kedua perusahaan tersebut, Devan yang akan beranjak pergi menyusul sang istri tiba tiba terhenti oleh ucapan Arga.
"Pak Devan apa tidak penasaran tentang hubungan saya dan istri bapak dulu?" ujar Arga membuat Devan mengurungkan langkahnya.
"Maksud anda apa?" tanya Devan dengan alis yang terangkat sebelah.
Tak ada jawaban dari Arga pria itu hanya terkekeh seolah olah ada yang lucu, membuat Devan mendengus kesal.
__ADS_1
"Maaf pak Devan saya tidak ada maksud, saya hanya mau bilang kalau bapak adalah orang yang beruntung bisa memiliki Tiara" ujar Pria itu kemudian lebih dulu meninggalkan Devan.
"Sialan.!!! Bajingan itu membuatku penasaran saja" desah Devan.
Ia kemudian menyusul sang istri yang menunggunya didalam mobil.
Brughh
Pintu mobil tertutup dengan kencang, membuat Tiara bangun dari tidurnya.
"Maa maaf, papa gak sengaja ganggu tidur mama" ucap Devan seraya mengecup pucuk kepala Tiara.
"Iya sayang tidak apa, gimana meeting nya lancar?" tanya Tiara seraya membtulkan posisi duduknya.
"Hufft.. Papa gak nyangka mamut kenal sama si Arga bajingan itu" keluh Devan seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil, ia belum berniat menyalakan mobilnya sebelum suasana hatinya tenang.
"Bajingan?? Papa gak berantem sama dia kan?" ucap Tiara dengan wajah sedikit panik.
"Mamut, apa kamu sedang mengkhawatirkan laki laki lain selain suamimu??" tanya Devan dengan sorot mata tajam membuat Tiara salah tingkah.
"Te tentu saja tidak sayang, justru aku mengkhawatikan suami aku" ujar Tiara merangsek memeluk tubuh sang suami.
"Aku tau, papa sedang cemburu kan??"
"Baguslah kalo gitu" ucap Tiara.
"Tapi maa, papa gak suka kalo ada laki laki lain yang menatap wanita pujaan hati papa dengan tatapan mendamba seperti si Arga itu, kalau saja tidak mementingkan bisnis sudah papa putus kontrak kerja sama itu" Devan masih merasa kesal.
"Ssst sayang, itu namanya cemburu, papa tenang aja aku kan cinta matinya cuma sama Devano Mahendra tersayang seorang" ucap Tiara kemudian mengecup pipi berjambang milik suaminya.
Seperti disiram air es, hati Devan yang sejak tadi kepanasan seketika sejuk kembali setelah mendengar rayuan dari istri tercintanya.
Devan mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri memulai decapan bibir agar emosinya kian mereda, dengan senang hati Tiara menyambut bibir tebal nan seksi milik pria cinta pertamanya itu, selang beberapa menit Devan pun menyalakan mesin mobil nya untuk menjemput buah hati mereka.
***
Ditempat lain...
"Nenek makan dulu ya, setelah minum obat nenek istirahat lagi" ucap Hanum seraya menyuapi Nek Mawar semangkuk bubur hangat buatannya.
"Nenek gak selera makan Han, rasanya pahit" ucap Nek Mawar.
"Nenek yang sabar ya, untuk sementara nenek cuma bisa makan bubur nanti setelah nenek sembuh makanan apa pun yang mau nenek makan pasti Hanum masakin spesial buat nenek" bujuk Hanum agar nenek suaminya itu mau makan dan meminum obatnya.
__ADS_1
Beberapa bulan terakhir kesehatan tubuh nek Mawar semakin menurun, selain karena faktor umur, tubuhnya menjadi drop secara drastis semenjak meninggalnya Tuan Erdan setengah tahun yang lalu. Ia merasa kehilangan sahabat masa mudanya dan juga meratapi usianya yang tak lagi muda, ia cemas akan kematian yang bisa saja sewaktu waktu menjemput tubuh rentanya.
"Pokonya nanti nenek mau makan sop buntut buatan kamu" ujar Nek Mawar.
"Iyaa yang penting sekarang nenek sembuh dulu"
"Delia mana? Kenapa dari tadi gak kedengaran suaranya?" tanya Nek Mawar.
"Delia ikut daddy-nya ke kantor nek, Mas Dave yang minta tentu saja anak itu mau" ucap Hanum disertai tawa ringannya guna menghibur sang nenek.
"Oiya nek, Mami bilang week end ini mami sama om Yukas akan nginep disini"
"Baguslah, jalan jalan terus mentang mentang sudah punya suami sampai lupa pulang kesini" ucap nek Mawar sarat akan kerinduan pada menantu yang sudah seperti putri kandungnya itu.
Hanum tak bersuara, ia hanya menanggapi keluhan nek Mawar dengan senyum hangatnya.
"Kamu juga Hanum, jangan terlalu lelah. Apa lagi sedang hamil muda, biarlah urusan rumah mbak Siti dan yang lainnya yang urus"
"Tak apa nek, Hanum cuma rawat nenek doang kok, kalo yang lainnya mas Dave juga tak beri izin" jawab Hanum.
***
Setelah selesai acara meeting di plaza, dan dilanjutkan dengan mengajak main cucu kesayangannya di play ground hingga cucunya itu merasa puas.
"Shaka senang tidak main sama jiddah???" tanya Lifia, ia sangat gemas pada Shaka diusianya yang baru berusia dua tahun setengah tapi sudah pandai berbicara dan nyambung kalau diajak ngobrol.
"Cenang dong jiddah..!! Nanti kita kecanah lagi yaa jiddah" ujar bocah kecil itu.
"Iya sayang, emm sebelum pulang kerumah jiddah kita mampir dulu ke rumah oppa Erdan dulu ya" ucap Elifia dengan tatapan sendu.
Sudah enam bulan baba nya meninggal akibat serangan jantung, sungguh berat bagi dirinya merelakan kepergian sang ayah, bahkan Elifia sampai drop selama sebulan untung saja ada Shaka yang si bocah lucu kesayangannya yang membuat ia semangat kembali menata hari. Devan dan Tiara pun tak pernah membatasi kapan saja Lifia menjemput Shaka untuk main bersamanya, hanya saja bocah itu belum bisa diajak menginap dirumah neneknya karena kalau tidur Shaka tidak bisa jauh dari mamanya.
Bersambung...
...JANGAN LUPA...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKASIH :)...
__ADS_1