My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.90 Bisikan Maut


__ADS_3

"Nak Riki apa yang terjadi dengan Alena?" tanya Lifia dengan wajah cemas kala melihat kedatangan Riki dengan Alena dalam gendongannya.


Awalnya ia hanya ingin melihat keadaan keponakannya itu, namun ia dibuat terkejut dengan kondisi kamar rawat yang kosong.


Tanpa fikir panjang lagi Lifia langsung menelfon Yukas yang tengah berada diruangan tuan Erdan dan memberi tahu kejadian itu.


Namun saat ia akan keluar, ia berpapasan dengan Riki yang kebetulan tengah membopong tubuh Alena yang tengah tak sadarkan diri.


"Nona Alena tadi berniat untuk lompat dari lantai paling atas rumah sakit ini bund" ucap Riki seraya membaringkan Alena di brangkar.


"Astagfirullah, Alena kamu ini ada ada saja" ucap Lifia kemudian mendekat kearah sang keponakan.


"Bund saya permisi panggil dokter dulu" ucap Riki kemudian keluar dari ruang rawat setelah mendapat persetujuan Lifia.


Baru saja Riki melewati pintu, ia berpapasan dengan Yukas. Untuk beberapa detik pandangan mereka beradu, namun dengan cepat Riki memetus perang mata yang terjadi diantara mereka. Karena ia harus segera memanggil dokter dan memastikan keadaan Alena.


"Elif mana Alena?" tanya Yukas panik, namun kepanikannya tak bertahan lama setelah ia melihat anak kesayangannya sudah terbaring ditempatnya.


"Apa yang terjadi? Dan siapa pemuda tadi?" tanya Yukas dengan wajah yang serius, karena ia merasa tak asing dengan laki laki muda yang barusan berpapasan dengannya.


"Alena mencoba bunuh diri kak, untung nak Riki berhasil untuk menggagalkannya" jelas Lifia.


"Riki? Kamu mengenalnya?" ucap Yukas mengerutkan keningnya.


"Tentu saja kenal, dia itu orang kepercayaan putraku Devan, aku juga sudah menganggap dia seperti putraku sendiri" ucap Lifia dengan senyuman tak luntur diwajahnya.


"Rasanya sudah lama sekali aku gak ngobrol panjang seperti ini dengan kakak, biasanya yang ada hanya perdebatan dan luapan emosi saja" batin Lifia.


Yukas langsung memalingkan wajahnya dan berjalan mendekat pada sang anak.


"Pantesan saja saya sangat tidak asing dengan pemuda tadi, karena saya pernah beberapa kali berpapasan dengannya disetiap rencana menghancurkan Devan, dan berakhir dengan kegagalan. Ternyata dia orang dibelakang Devan" batin Yukas, tangannya mengepal hingga ruas jarinya memutih.

__ADS_1


"Nak Riki juga loh kak yang membawa Alena ke rumah sakit saat kecelakaan kemarin" ujar Lifia.


Yukas mendongak kearah sang adik.


"Kenapa kak?" tanya Lifia heran dengan ekspresi wajah Yukas.


"Tidak apa apa" jawab Yukas singkat.


Tak lama dokter pun datang.


"Permisi, bapak ibu silahkan keluar dulu" ucap sang dokter, dengan patuh Lifia dan Yukas pun keluar dari kamar rawat Alena.


Diluar sudah ada Riki yang tengah duduk di bangku tunggu.


"Nak Riki, kenalkan ini kakak bunda sekaligus ayahnya Alena" ucap Lifia memperkenalkan Yukas pada orang kepercayaan putranya itu.


Riki hanya tersenyum tipis, begitu pun Yukas sedikit pun tak ada senyuman diwajahnya.


.


.


Setelah kepergian Lifia, tinggallah Riki dan Yukas yang menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Alena.


Keduanya nampak bungkam, Yukas masih sibuk dengan fikirannya mengenai pemuda yang duduk tak jauh dari dirinya itu.


"Ekhemm" deheman Yukas mampu membuat Riki menoleh kearahnya.


"Saya tidak tahu rencana jahat apa yang kamu dan tuanmu rencanakan dibalik sikap baikmu menyelamatkan putri saya" ucap Yukas tanpa melihat wajah lawan bicaranya.


"Saya sama sekali tidak memiliki niat jahat. Saya menolong dan menjaga putri tuan semata karena tugas yang bos Devan berikan" jawab Riki tegas.

__ADS_1


"Saya tidak percaya" sanggah Yukas.


"Bos saya tidak jahat seperti anda! kalau dia ingin, bisa saja bos Devan menghancurkan karir anda hingga tak ada kesempatan lagi untuk anda bernafas lega tuan" ucap Riki dengan seringai licik nya.


Yukas membuang wajahnya tak ingin berhadapan dengan Riki.


"Sial! Saya kena skak oleh anak muda keparat ini" ucap Yukas dalam hati.


"Tapi tuan bisa lihat kan? Bos Devan malah menyuruh saya menjaga putri anda yang jelas jelas berniat ingin mencelakai dirinya" sambung Riki.


"Saran saya tuan, sebaiknya buka mata hati anda yang terlalu dibutakan oleh harta dan tahta itu. Bagaimana pun hubungan darah antara anda dan bos saya itu sangat kental. Bos Devan adalah keponakan anda" bisik Riki seraya mendekat kearah Yukas.


Rahang Yukas mengeras mendengar bisikan maut dari lelaki disebelahnya.


"Heh anak muda! Tutup mulutmu" ucap Yukas bangkit dari posisi duduknya.


"Kau teruskan saja tugas dari bosmu untuk memperhatikan kondisi putri saya! Awas kalau terjadi sesuatu pada Alena, akan saya penggal lehermu" ujar Yukas sarkas kemudian meninggalkan Riki yang tengah tersenyum kecut.


.


Bersambung....


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKSIH :)...

__ADS_1


__ADS_2