
Pintu ruang operasi pun terbuka.
Dokter lebih dulu keluar untuk menginformasikan bahwa pasien berhasil selamat begitupun bayinya yang berjenis kelamin laki laki.
Berita tersebut pun disambut haru bahagia oleh dua keluarga yang sejak tadi menunggu proses kelahiran dengan penuh doa.
Setelah itu, barulah brangkar Tiara dan bayinya dibawa keluar untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
Disusul Devan yang keluar dengan mata memerah penuh air mata.
"Nak.." lirih Lifia menatap sang putra.
Tanpa aba aba, Devan langsung berhambur kedalam pelukan sang bunda.
"Bunda, maafkan saya.. Terimakasih telah melahirkan saya ke dunia ini"
Lifia yang mendengar isakkan dari putra semata wayangnya itu pun tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia terharu, untuk pertama kalinya Devan memeluk dirinya dengan segala rasa, rasa sayang seorang anak pada wanita yang telah melahirkannya. Dan Lifia bisa merasakan itu.
"Nak, bunda juga minta maaf ya sayang. Dan terimaksih kamu sudah hadir dalam hidup bunda, selamat ya nak sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah" ucapan Lifia melerai pelukan mereka kemudian mengusap air mata di wajah Devan.
"Ayo sayang, kita lihat anak kamu. Bunda sudah tidak sabar pasti dia sangat tampan seperti kamu. Sudah jangan menangis lagi malu kalau anak bujangmu melihat ayahnya yang gagah nangis begini" Lifia mencoba menghibur Devan.
Devan pun menganggukan kepalanya, kemudian berjalan merangkul sang bunda menyusul opa dan mertuanya yang sudah lebih dulu pergi keruang rawat Tiara.
***
Melihat proses persalinan sang istri, membuat Devan tersadar bahwa perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya kedunia adalah dengan mempertaruhkan nyawa.
Devan berfikir, jika melahirkan secara seccar saja istrinya harus berjuang dan sangat membuat dirinya khawatir, apalagi kalau melahirkan secara normal. Seketika ia teringat bundanya dan rasa bersalah tiba tiba menyeruak didalam dada.
Selama ini meski pun sang bunda telah kembali kedalam kehidupannya, namun masih ada sedikit rasa kecewa dihatinya karena dia ditinggalkan sejak bayi dan menjadikan dirinya anak yang kekurangan kasih sayang dan perhatian seorang ibu, sehingga Devan masih menciptakan jarak diantara ia dan Lifia.
Namun setelah ini, Devan janji akan menyayangi wanita yang telah melainkan nya itu dengan sepenuh hati, menghapus segala kekecewaannya, dan mengikis jarak hingga habis. Karena itu, setelah keluar dari ruang persalinan Tiara, Devan langsung menumpahkan segala sesalnya pada sang ibunda.
***
Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap yang sebelumnya sudah Devan booking, kini Tiara bisa bersitirahat dengan tenang. Keluarganya pun satu persatu pulang untuk istirahat dirumah, dan akan kembali besok.
__ADS_1
"Sayang.. sebaiknya kamu tidur kamu pasti lelah kan ngurusin aku seharian ini" ucapan Tiara pada sang suami yang kini tengah menggenggam sebelah tangan Tiara, dan sesekali diciuminya.
"Tidak imut, saya tidak lelah..! Justru saya sangat bahagia hari ini, terimakasih sayang sudah melengkapi hidupku" ucap Devan air matanya kembali jatuh.
Ia sendiri tak mengerti kenapa hari ini ia menjadi cengeng, kemana Devan yang dingin dan garang??? Untung saja orang disekitarnya dapat memaklumi perasaannya saat ini.
"Sayang aku tau, air mata yang jatuh diwajah mu itu pasti air mata bahagia kan? Aku pun begitu, sangat bahagia" ujar Tiara tangannya mulai membelai wajah sang pangeran di kehidupan nya itu.
"Oeekk.. Oekk" terdengar rengekkan bayi kecil mereka yang berada didalam box bayi tak jauh dari pembaringan Tiara.
Dengan sigap Devan mengangkat bayi mungil itu lalu diebrikannya pada sang istri.
"Anak mama papa tampan sekali, haus ya sayang? Sama mama dulu ya, minum yang banyak sayang biar sehat dan cepat besar" Tiara bermonolog sendiri manakala sang buah hati berpindah ke pangkuannya.
Ada untungnya juga Devan dan Tiara mengikuti privat pelatihan calon orangtua, sehingga kini mereka sudah lihai mengurus bayi yang baru lahir tanpa merasa takut.
"Imut, saya sudah siapkan nama untuk anak tampan kita" ujar Devan
"Ah iya sayang, aku hampir lupa rupanya putra mahkota kita ini belum dikasih nama. Apa itu sayang?"
"Iya sayang aku setuju, aku yakin anak kita pasti akan tampan dan gagah seperti namanya" ujar Tiara menatap wajah mungil sang bayi yang tengah sibuk menghisap makananan utamanya.
****
Dikediaman Mahendra..
"Nenek mau kemana malam malam begini bawa koper?" David merasa heran melihat nek Mawar tampak menggeret tas beroda berwarna ungu muda.
"Nenek mau melihat cicit nenek, aduhhh nenek ketinggalan berita ini. Adik kamu itu keterlaluan sekali Dave!! kenapa baru ngabarin nenek sekarang" gerutu sang nenek.
"Maksud nenek, Tiara sudah melahirkan?" David lebih mendekat pada sang nenek.
"Iya, cicit nenek sudah lahir tadi siang. Dan si Devano Mahendra itu baru ngabarin nenek barusan, hhrhh keterlaluan emang!! yasudah nenek pergi dulu" wanita yang kini berusia enam puluh lima tahun namun masih segar itu tampak semangat dan tidak sabar.
"Tunggu dulu, nenek pergi sama siapa? Biar Dave antar" pinta David.
"Tidak perlu, istri kamu juga sedang hamil. Kamu harus jadi suami siaga dong! Mana tau tengah malam Hanum ingin sesuatu. Nenek pergi dengan Riki, kebetulan dia sedang ada urusan dikota sebelah, jadi nenek ikut dia saja sekalian. Sudah sudah kamu ini buang buang waktu nenek aja, nenek pergi dulu assalamualaikum" dengan langkah cepat wanita senja itu meninggalkan David yang terkekeh melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Walaikumsalam" ucap David kemudian turut meninggal kan tempat itu.
Saat menaiki tangga, sekelebat bayangan Tiara yang dulu selalu tersenyum manis padanya tiba tiba menghadang.
"Selamat ya Tiara" ucapnya Dalam hati, kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Namun tiba tiba langkahnya terhenti kala ia teringat akan sesuatu.
"Astagfirullah, tadi kan Hanum minta dibuatkan susu. Kenapa bisa lupa" ujar David menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
Beberapa saat yang lalu, David turun dari kamarnya menuju dapur ingin membuatkan susu untuk Hanum, kebetulan istrinya itu sedang ingin minum susu buatan sang ayah dari bayi yang dikandungnya. Ehh ketemu neneknya yang rempong malah membuat ia lupa tujuannya mau ngapain.
Dengan tergesa David kembali menuruni tangga untuk melanjutkan tujuannya yang tadi sempat ia lupakan.
Namun saat David kembali kedalam kamar, si ibu hamil yang tadi ingin dibuatkan susu olehnya rupanya sudah terlelap.
Ada perasaan bersalah dalam hati David, selain karena terlambat menuruti keingunan Hanum, ia juga sempat mengingat bayang bayang Tiara dihidupnya.
"Maafkan aku sayang" Bisik David seraya mendaratkan kecupan manis di kening Hanum.
Bersambung....
Hay bestie, setelah sekian lama hiatus sekarang i'm come back..!!!!
Mudah mudahan masih ada yang mau baca..
...JANGAN LUPA YA...
...LIKE...
...KOMEN ...
...VOTE...
...Author kangen sekali sama readers setiaku.....
...TERIMAKSIH :)...
__ADS_1