
"Tiara coba kau lihat ini..!!!" Ucap Devan sambil menarik bahu Tiara agar menghadap padanya.
Devan lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku jaketnya, dan ditunjukan pada Tiara.
"Saya punya ini, kenang kenangan dari kamu dulu. Yang tertulis didalam suratmu supaya kelak kalau kita ketemu kita bisa langsung saling mengenali" Ucap Devan memperlihatkan sebuah gelang kayu dengan ukiran huruf I&V.
Tiara masih tak bergeming, ia masih mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya. Seolah tak percaya bahwa orang yang didepannya kini adalah cinta pertamanya dulu.
"Dan disini terdapat ukiran huruf I&V yang artinya Imut dan Vano, ini kamu sendiri yang buat kan sayang" ucap Devan menatap manik mata sendu istrinya.
Tiara masih tak bergeming, ia hanya membalas ucapan Devan dengan anggukan kepala saja. Hingga tak terasa air mata nya jatuh membasahi pipi merona miliknya.
"Heyy, kenapa menangis hmm??" tanya Devan lembut seraya menghapus air mata di pipi istrinya.
"Kalau kamu benar kak Vano, lalu kenapa kamu tak mencari aku kak??? Asal kakak tau aku selalu menunggu kakak datang menemuiku!!!" ucap Tiara dalam isakannya.
Devan merasa hatinya berdenyut melihat air mata wanita yang sangat ia cintai itu berderai membasahi pipinya.
Devan langsung memeluk tubuh ramping Tiara.
"Maafkan saya, saya sudah berupaya untuk mencarimu imut, entah kenapa sangat sulit sekali. Dan disaat saya menemukan kamu, saya harus menerima kenyataan bahwa kamu ternyata kekasih dari pada kakak saya, David" ucap Devan semakin mengeratkan pelukannya.
Namun jawaban Tiara diluar dugaan Devan.
"Kak Vano, imut kangen" ucap Tiara manja membalas pelukan Devan.
"Tenang yaa imutku sayang, mulai sekarang saya akan terus bersamamu memenuhi janji kita dulu" ucap Devan menenangkan Tiara.
"He'emm" jawab Tiara.
"Yasudah ayok kita makan dulu, tadi saya sudah sekalian siapkan makan untuk kita" ucap Devan dengan tanpa aba aba menggendong tubuh mungil Tiara.
Bukan ala bridal style seperti di novel romantis, melainkan persis seperti seorang ayah yang menggendong anak perempuannya.
"Ya Allah, ternyata ini rahasiamu dibalik patah hatiku dulu. Jika saja dulu aku jadi menikah dengan kak David, mungkin saja aku tak akan punya kesempatan memeluk cinta pertama ku yang selalu aku tunggu, dan sekarang aku bersyukur. Engkau telah kembalikan ia padaku lagi" batin Tiara.
Ia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Devan. Seulas senyum pun tergambar pada wajah cantik Tiara.
**********
__ADS_1
Mereka pun menyelesaikan makan malam dengan tenang.
"Mulai sekarang saya akan panggil kamu Imut" ucap Devan mengacak rambut Tiara.
"Boleeh dong, aku juga akan panggil kamu kak Vano. Gimana???" ucap Tiara.
"Terus panggilan yang sebelumnya??" tanya Devan, sebelah alisnya terangkat.
"Yaudah aku tambahan deh jadi Kak Vano sayang" ujar Tiara.
"Okey Imut sayang" ucap Devan diseambung dengan mendaratkan kecupan manis pada kening Tiara.
"Setelah ini apa kita akan pulang?" tanya Tiara.
Sejujurnya ia belum ingin pulang, Tiara masih ingin bernostalgia ditempat ini, tampat dimana dulu ia sering menghabiskan waktu bermainnya dengan Devan.
"Sepertinya kita akan bermalam disini, tapi disini lebih dingi loh" Ucap Devan mengedipkan sebelah matanya menggoda sang istri.
"iiih kak Vano apaan sih" ucap Tiara dengan wajah yang memerah.
"Oiya kak banyak yang ingin aku tanyakan pada kak Vano" ucap Tiara.
Tiara membiarkan saja apa yang dilakukan suaminya, karena ia juga sangat menikmati moment kebersamaan ini.
*******
Kini mereka telah memasuki kamar yang Devan maksud. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun sangat rapi dan nyaman.
Devan membaringkan istrinya ke atas tempat tidur.
"Sayang ini boneka siapa???" tanya Tiara kala melihat sebuah boneka beruang berukuran lumayan besar.
"Bonekamu imut" ucap Devan dengan pandangan yang tak putus pada wajah cantik Tiara.
Entah mengapa setelah kebenaran itu terungkap, Devan menjadi lebih berani menunjukan rasa cintanya pada Tiara.
Tiara hanya mengernyitkan kedua alis matanya.
"Boneka itu saya bawa 12tahun yang lalu untukmu, tapi kamu nya udah pergi entah kemana, yasudah saya simpan saja disini. Karna saya yakin siberuang ini pasti bertemu dengan pemiliknya" ucap Devan.
__ADS_1
"Emmmm" ucap Tiara manja lalu memeluk boneka besar yang katanya miliknya itu
"Loh kok dia yang dipeluk, harusnya kan saya" ujar Devan.
Tiara pun langsung berhambur kedalam pelukan suaminya.
"Sayang bu Hilda sama bu Halimah mana? Kenapa dari tadi cuma ada kita aja doang disini, aku juga kangen sama mereka" tanya Tiara.
Devan menghembuskan nafas berat, seolah menguatkan hati untuk menceritakan ini.
"Nenek sudah tutup usia 7tahun yang lalu kerja sakit. Sedangkan ibu dia sudah menikah lagi, dan dibawa suaminya ke Kalimantan. Dan rumah ini sudah resmi milik saya. tak hanya rumah ini, rumah ayamu yang dulu dijual juga tanah kebun yang dulu pertama kali kita bertemu sudah saya beli dan sudah saya rubah atas nama Mutiara Rahma." jelas Devan.
Tiara melebarkan matanya.
"kenapa kak Vano lakukan itu?" ucap Tiara tam percaya.
"semua yang bersejarah bagi kita dulu, maka harus jadi milik saya. karna ditempat tempat itu kita memiliki banyak cerita" jelas Devan.
membuat Tiara benar benar kehilangan kata katanya.
"Sebegitu besarnya cinta manusia kulkas ini padaku" Batin Tiara.
"Tiara ada yang mau saya ceritakan padamu" sambung Devan dengan tatapan serius.
.
.
.
Bersambung....
Hayyy para readersku, jangan lupa di like, komen, vote dan berikan hadiah lada author yaa. 😍😍😍
.
.
.
__ADS_1