
Pagi menjelang.
Devan terheran, setelah ia selesai mandi tidak ada baju yang disiapkan Tiara. Tatapannya mengarah pada istrinya yang masih bergelung dibawah selimut.
"Tumben, apa dia sakit" ucap Devan dalam hati, kemudian ia pun mengambil pakaiannya sendiri.
Setelah selesai berpakaian, ia melangkah mendekat pada Tiara, menyentuh kening istrinya namun suhu badannya normal.
Karna merasa terganggu dengan pergerakan Devan, Tiara membuka matanya.
"Sayang kamu sudah rapi???" tanya Tiara lemas.
"Iya, imut apa kamu sakit??" tanya Devan menatap wajah pucat istrinya.
"Entahlah sayang, kepala aku pusing banget, perutku juga mual mungkin asam lambung ku naik" ucap Tiara dengan mata yang masih terpejam.
Devan mengernyitkan alisnya, ada rasa khawatir pada istrinya itu, selama Tiara menjadi istrinya baru kali ini ia terserang sakit.
"Pasti gara gara semalam kamu makan mangga masam itu, atau jangan jangan kamu terlambat makan, kan sudah saya bilang kalau saya pulang telat makan aja duluan tidak usah menunggu saya" jelas Devan.
"Cukup sayang, kamu ngomel ngomel kaya gitu bikin aku pengen muntah tau gak?!" ucap Tiara kemudian berlari ke kamar mandi mencoba memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar.
Hooeeekk hoeekkk
" Dia beneran muntah" Devan segera menyusul Tiara ke kamar mandi dengan sangat khawatir.
"Imut kamu tidak apa apa???" tanya Devan seraya memijat tengkuk Tiara.
"Kepala aku pusing banget sayang" ucap Tiara lemas.
Devan langsung membopong Tiara ke tempat tidur, lalu mengoleskan minyak kayu putih di perut dan punggung Tiara dan sedikit memijat tengkuk nya.
"Gimana udah enakan?" tanya Devan.
"Hmmm" jawab Tiara.
"Apa perlu saya panggilkan dokter??"
"Tidak perlu sayang, aku hanya masuk angin saja" ucap Tiara mencoba memejamkan matanya.
"Yasudah, kamu tunggu sebentar ya, saya masakain bubur dulu untuk sarapan kamu. Biar perutnya terisi" ucap Devan kemudian mengecup kening Tiara.
Tak ada jawaban dari Tiara, barangkali dia sudah tertidur kembali.
**********
Kini Devan sedang berkutat didaour, membuat bubur dan teh jahe untuk istrinya.
"Aden sedang apa pagi pagi di dapur???" tanya bi Esih yang baru saja datang.
"Lagi masak bubur" ucap Devan seraya mengaduk aduk isi panci.
"Loh memangnya non Tiara kemana?" tanya bi Esih penasaran, karna biasanya jam segini juragan nya itu sudah berangkat kerja, tapi hari ini malah sedang berkutat didapur tanpa istrinya
"Tiara lagi sakit" ucap Devan
"Hahh!! Sakit apa non Tiara den??? Sini biar bibi saja" ucap bi Esih mengambil alih kegiatan Devan.
"Saya kurang tau, katany kepala nya pusing tadi pagi juga muntah muntah" jelas Devan.
__ADS_1
Bi Esih kemudian memelototkan kedua matanya, kemudian tersenyum jahil ke arah juragannya itu.
Melihat tingkah aneh pembantunya, Devan hanya mengernyitkan dahinya
"Waahhh sepertinya aden akan menjadi ayah" goda bi Esih yang sontak mengagetkan Devan.
"Maksud bibi???" tanya Devan
"Bisa saja non Tiara sedang hamil den, sebaiknya aden segera panggil bidan Sarah buat periksa si enon" ucap ni Esih sambil menuangkan bubur yang sudah matang kedalam mangkok putih.
"Benar juga yang bi Esih bilang, jangan jangan Tiara sedang mengandung anakku, karna sejak pertama aku menyentuh dia setiap malam hingga selama ini aku tidak pernah mendapati Tiara halangan" batin Devan.
"Ehh si aden bukannya cepat telfon bidan malah bengong" ucap bi Esih yang kemudian menyadarkan Devan dari lamunannya.
"Bibi aja deh yang telfon bidan, saya akan mengantar sarapan untuk Tiara" ucap Devan kemudian pergi ke kamarnya dengan membawa teh lemon, dan bubur yang telah ia masak.
"Imut ayo makan dulu" ucap Devan mencolek colek pipi Tiara agar matanya terbuka.
"Sayang kepala aku pusing banget" ucap Tiara dengan mata yang masih terpejam.
"Iya saya tau, tapi kamu makan bubur ini dulu ya biar perutnya terisi, saya juga sudah menyuruh bi Esih untuk menelfon dokter" ucap Devan meninggikan bantal Tiara kemudian mencoba menyuapkan bubur kedalam mulut Tiara. Namun baru juga tiga suapan Tiara sudah minta berhenti.
"Sayang udah, aku mual sekali" ucap Tiara.
Kemudian Devan menyodorkan teh lemon hangat buatannya.
"Imut, minum ini agar mualnya berkurang" ucap Devan dan dituruti Tiara.
Toktoktok
"Den ini bidan desa nya sudah datang" ucap bi Esih dari luar pintu.
Devan kemudian beranjak membuka pintu kamarnya.
"Kenapa dia bi?? Bukannya seharusnya bidan Sarah?" tanya Devan pada bi Esih.
"Emm tuan Devan, ibu saya sedang membantu warga yang sedang bersalin, jadi sementara saya yang menggantikannya kesini" ucap bidan muda bernama Tyas itu.
"Yasudah cepat periksa istri saya!!!" perintah Devan.
"Baik tuan, apa anda bisa menunggu diluar???" ucap bidan Tyas.
Tanpa berkata Devan pun keluar dan menutup pintu kamarnya, namun tidak benar benar rapat dan ia mencoba mengawasi dari luar.
"Nona, sebaiknya anda bangun dan cobalah alat ini" ucap Tyas pada Tiara.
Tiara pun bangun dari tidurnya dengan sisa tenaga yang ia punya kemudian mengambil alat yang Tyas beri.
"Ini sudah aku gunakan sesuai yang diperintahkan bu bidan" ucap Tiara lemas kemudian memberikan alat tes itu kembali.
"Wawww!! Selamat ya nona anda positif hamil" ucap bidan Tyas dengan ekprwsi yang sulit dijelaskan.
Tentu saja Tiara sangat senang mendengar kabar itu, tapi dia sedikit heran dengan raut wajah bidan yang memeriksanya.
"Hmmm tapi saya tidak yakin kalau anak yang kamu kandung adalah anak dari tuan Devan!" ucap Tyas sarkas.
"Apa maksudnya perempuan ini berbicara seperti itu" ucap batin Tiara ingin rasanya ia melawan Tyas tapi kali ini ia benar benar tak punya tenaga.
"Asal kamu tau yaa, Devan itu tidak menyukai wanita. Semua wanita yang dikenalkan padanya tak ada satu pun yang diterima. Dan aku adalah salah satu wanita yang dia tolak! Aku saja yang seorang bidan cantik sempurna seperti ini dia tolak apalagi kamu yang jelek burik begini!! Aku yakin kamu hanya menumpang hidup mewah pada tuan Devan dengan mengaju hamil anaknya. Huhhh!!!" hardik Tyas.
__ADS_1
Tiara hanya memejamkan matanya, percuma saja ia lawan perempuan gila dihadapannya ini, lagipula Tiara tau semua yang diucapkan Tyas tidak benar sama sekali. Mau dia jelek atau burik sekalipun yang penting Devan tetap cinta pada dirinya.
Brakkkk!!!
Dengan amarah Devan menendang pintu kamar yang sedikit terbuka itu.
Tiara langsung membuka matanya, senyumnya terbit melihat wajah garang suaminya menatap bidan Tyas.
Sementara Tyas dengan angkuhnya tidak memperdulikan tatapan amarah Devan.
"Dasar ******!!! Cari mati kau ya mengatakan istri saya burik" ucap Devan dengan mata yang menyala nyala.
"Iya memangnya kenapa??" tantang Tyas
Devan mengepalkan tangannya semakin kuat
"Yang saya ucapkan itu benar tuan Devan! Wanita ini hanya menumpang hidup pada anda, saya tau anda pasti dijebak sehingga bisa membuat wanita ini hamil" ucap Tyas
Plaakkk!!!
Tangan Devan melayang di pipi kanan Tyas
"Beraninya kamu menghina istri saya!!! Akan saya pastikan vidio skandalmu dengan pak lurah akan tersebar luas, dan wajah murahanmu itu tidak akan berkeliaran lagi di desa ini" ancam Devan.
Wajah Tyas seketika memucat.
"Pergi kamu dari rumah saya!!!"
Tanpa berkata lagi, Tyas meninggalkan kediaman Devan dengan perasaan gusar.
Devan langsung menghampiri Tiara yang tersenyum hangat padanya.
"Imut, kamu tidak apa apa?" tanya Devan khawatir.
"Tidak sayang, kamu seram sekali kalau lagi marah" kekeh Tiara.
"Siapapun yang menggangu mu, tidak akan saya biarkan bisa bernafas lega"ucap Devan kemudian memeluk istrinya
"Sayang kita akan punya baby" ucap Tiara sumringah.
"Benarkah?" tanya Devan antusias, padahal ia sudah tau dari hasil pengawasannya tadi.
"Iya sayang, apa kamu senang" tanya Tiara
"Tentu saja imut sayang" ucap Devan.
.
.
.
Bersambung...
Guys part yang bagian mana yang paling kalian suka???? tulis dikolom komentar yaa!!
Jangan lupa, tinggalkan jejak jempolnya dan masukan ke daftar pavorit kalian!!!!
Terimakasih.
__ADS_1
.
.