Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Nomor Telepon


__ADS_3

Istirahat pertama sudah pasti kantin penuh. Niken dan Adila harus berdesak-desakan hanya untuk membeli air mineral.


"Dil, lo aja deh yang ngantri, gue tunggu sini. Lo nggak kasian liat badan gue yang udah kecil gini kegencet kerumunan." Adila mencebik mendengar jurus ngeles Niken.


"Ya udah deh lo duduk situ aja, biar gue yang antri, lama-lama gue takut juga lo pingsan disini." Gantian Niken yang mencebik.


Padahal setiap upacara dirinya sudah tidak pernah pingsan lagi tapi tetap saja ingatan mereka tidak akan lupa kalo dirinya pernah pingsan. Niken memilih duduk di bangku kantin yang kebetulan masih ada beberapa yang kosong. Sembari menopang dagu, Niken melihat kerumunan teman-temannya hilir mudik membeli dan membawa makanan.


"Ngelamunin apa?" Niken menurunkan tangannya yang digunakan untuk menopang dagu dan menoleh ke sumber suara.


"Kak Rayya?" Rayya tersenyum melihat respon Niken.


"Kok nggak makan?" Rayya bertanya kembali walaupun pertanyaan pertamanya tidak mendapat jawaban dari Niken.


"Cuma beli air mineral kak. Temen aku yang lagi ngantri." Niken tidak tau jawabannya nyambung atau tidak dengan pertanyaan Rayya.


"Kakak sendiri kok nggak bawa apa-apa?" Niken gantian bertanya karena dilihatnya Rayya tidak membawa makanan ataupun membeli sesuatu. Rayya mengusap tengkuknya.


"Aku tadi nggak ada niat ke kantin sih tapi begitu lihat kamu masuk kantin aku jadi ikutan masuk."


"Ha?"


"Ayo Nik, aku udah beli minumnya." Adila datang memecah suasana.


"Udah selesai ngantrinya?" Adila yang sepertinya tidak sadar dengan keberadaan Rayya, menoleh terkejut.


"Eh hmm udah kak." Adila menjawab kikuk.


"Udah nggak ada yang dibeli lagi kan?" Niken bertanya kepada Adila yang dijawab gelengan kepala olehnya.


"Ya udah ayok. Duluan kak." Niken langsung menggandeng lengan Adila dan buru-buru kabur dari sana.


"Niken tunggu!" Rayya berseru dan langsung menghampiri Niken yang sudah melangkah keluar dari deretan bangku kantin. Keadaan kantin masih riuh, mereka harus berteriak bila lawan bicara agak jauh sedikit jaraknya.


Niken dan Adila kompak menghentikan langkah dan berbalik badan mendengar seruan itu.

__ADS_1


"Boleh minta nomor teleponnya?"


"Eh?"


Sekarang Adila dan Niken tidak hanya kompak menghentikan langkah dan berbalik badan tetapi juga kompak saling berpandang-pandangan.


Niken menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Bingung harus memberikan nomor apa kepada Rayya karena memang dirumahnya tidak memiliki telepon. Diliriknya Adila yang sudah senyum-senyum sendiri.


"Dirumah nggak ada telepon kak."


"Oh, nggak punya ya?" Rayya mendesah kecewa. Ia baru sadar, belum tentu setiap rumah ada telepon seperti di rumahnya.


"Kalau aku kapan-kapan ke rumahmu, boleh?" Gagal mendapatkan nomor telepon, Rayya tak pantang putus asa. Ia mencoba peruntungan lain.


"Memangnya kakak tau rumahku?" tanya Niken heran.


"Tau dong. Kemarin kan aku lihat kamu turun dari bus."


Ya ampun, bisa-bisanya Niken lupa kalau mereka sempat satu bus kemarin dan dengan jelas Rayya tau dimana dirinya turun.


"Masa sih? Karena belum kenal aku aja kali makanya galak," sahut Rayya percaya diri.


"Idih, masih kecil kak, nggak boleh ngapelin anak gadis orang." Adila masih tak mau kalah.


"Ya udah, aku tunggu sampai besar kalau gitu."


Rayya menyahut bangga. Niken cukup jadi pendengar saja sembari menahan malu dengan celetukan asal Adila, pun merasa tidak diikutkan dalam obrolan mereka. Mau pamit pun takut tidak sopan.


"Ya udah deh kak kami balik ke kelas dulu. Permisi kak." Adila langsung ngacir dan menggandeng lengan Anjani setelah mendapat anggukan dari Rayya.


"Busyet dah, kulitnya bening banget kak Rayya. Mandi susu kali ya dia tiap hari." Di lorong menuju kelas Adila memulai percakapan.


"Masa sih?"


Mendengar respon Niken, Adila langsung menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Lo nggak merhatiin?" Niken menggeleng menjawab pertanyaan Adila.


Niken jadi teringat saat mereka duduk didalam bus waktu pulang sekolah kemarin. Niken tidak memperhatikan warna kulit Rayya karena terlanjur grogi dan bercampur malu perihal lonceng dan salah paham tentang ayo aku antar. Tanpa sadar Niken melirik pergelangan tangannya. Warna kulitnya tidak putih. Kuning langsat kata orang. Dirinya sudah persis seperti anak kecil yang sering mandi di sungai. Hitam dekil.


"Salsa, Marwah, gue punya berita terbaru." Begitu sampai dikelas, Adila langsung heboh menghampiri dua sohib mereka yang lain. Marwah dan Salsa memang tidak ikut ke kantin karena mereka membawa air minum dari rumah. Mereka juga tidak makan di kantin karena Marwah membawa kue dari rumah dan mereka memutuskan makan di kelas saja.


"Berita apaan?" Salsa menyahut sambil makan risol.


Sebelum menjawab, Adila melirik bangku Rindy terlebih dahulu. Kosong dan aman.


"Kak Rayya minta nomornya Niken." Adila sampai mencondongkan badannya ke arah Marwah dan Salsa agar mereka lebih jelas mendengar info yang dibawanya.


"Nomor apa ini? Nomor beha?" Marwah menyedot minumnya dan cuek saja seolah berita yang dibawa Adila tidak penting.


"Gue belum pake beha." Niken menyahut sewot sambil menggigit bakwan dengan kasar.


Marwah tersedak minumnya dan batuk-batuk, Salsa melongo dengan mulut penuh risol sedangkan Adila langsung menggeplak punggung Niken yang menyebabkan Niken ikut batuk-batuk seperti Marwah.


"Nggak usah lo sebutin juga kali!" Adila menyahut keki.


"Gimana bisa kak Rayya minta nomornya Niken?" Salsa memilih mengabaikan perihal beha Niken dan fokus ke info yang dibawa Adila.


"Lah mana gue tau. Tiba-tiba kak Rayya datang minta nomor teleponnya Niken waktu kita masih di kantin tadi. Untuk apa coba kalo bukan karena naksir." Adila sepertinya jadi jubir Niken di topik kali ini.


"Untuk keperluan OSIS kali." Marwah menebak-nebak.


"Kalo untuk keperluan OSIS kenapa nomor telepon Dhani nggak diminta juga coba? Fix ini sih kak Rayya naksir Niken." Adila masih kekeh dengan pendapatnya.


"Ya nomor Dhani minta sama orangnya langsung lah, ngapain juga minta sama Niken, Niken juga belum tentu punya." Lagi-lagi Marwah berseberangan pendapat dengan Adila. Niken jengah juga akhirnya. Pasalnya Niken duduk diantara mereka dan mereka dengan santainya membicarakan dirinya seolah-olah dirinya tidak ada.


"Memangnya kamu punya telepon, Nik?" tanya Salsa penasaran. Telepon adalah barang langkah dan hanya orang yang dengan ekonomi tinggilah yang punya benda tersebut.


"Udah-udah bubar. Ngapain sih bahas hal nggak penting kayak gini." Niken beranjak dari bangku yang didudukinya dan kembali ke bangkunya sendiri.


"Aku nggak punya telepon." Beritahu Niken setelah ia duduk manis di bangkunya sendiri.

__ADS_1


"Cieee Niken! Awas loh Nik, kalo ketahuan Mulyono, dia bisa cemburu. Kalian kan couple goals 7b." Sepertinya Niken harus sabar-sabar menghadapi Salsa yang punya sifat suka menggoda mendekati ke mengejek.


__ADS_2