
Niken berjalan dengan langkah terburu-buru bahkan hampir berlari menyusuri lorong kelas. Terlihat Rayya mengejarnya membuat langkah Niken semakin cepat saja. Niken menoleh panik. Langkah kakinya sudah tidak tahu lagi mau diarahkan kemana. Rasa-rasanya semua tempat sudah Niken kunjungi dan Niken tidak tau tempat mana yang akan ia tuju. Karena terlalu sering menoleh kebelakang membuat fokus berjalan Niken terbagi. Kaki Niken terpleset dan terpelintir. Niken jatuh terduduk. Dengan pergelangan kaki tertekuk.
"Nik, kamu nggak papa? Mana yang sakit?" Rayya berlari menghampiri Niken dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Niken terdiam, mencoba untuk berdiri dan mengaduh setelahnya karena pergelangan kakinya yang terasa sangat nyeri. Rayya pun menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada satupun murid lain yang melintas. Wajar saja bila sepi karena mereka berada di dekat gudang penyimpanan alat-alat olahraga. Siapa juga yang mau berkeliaran di lorong paling ujung sekolah selain mereka yang kurang kerjaan. Contohnya saja Rayya dan Niken.
Rayya panik melihat Niken yang meringis kesakitan ditambah lagi air matanya yang mengalir walau tanpa suara. Dengan nekat Rayya menggendong Niken dan membawanya ke UKS. Niken terkesiap dengan aksi yang dilakukan Rayya.
"Aku bisa jalan kak, nggak perlu digendong gini, aku malu."
"Udah diem aja, Nik, kaki kamu kayaknya keseleo deh. Lagian kamu ngapain sih sampai keluyuran ke rooftop segala, mana sendirian lagi," omel Rayya sembari terus mempercepat langkahnya. Niken ringan sih tapi menggendong Niken dari lantai 2 menuju ke UKS yang berada di lantai 1 ya lumayan menguras tenaga juga.
"Kalau aku nggak keluyuran ke rooftop pasti aku nggak tau kelakuan kakak kayak gimana." Lirih Niken pelan. Rayya terdiam karena sepelan apapun Niken berbicara bila posisi mereka seperti ini pasti masih dapat terdengar. Seharusnya Rayya tidak menyalahkan Niken karena ini semua juga ada andil kesalahannya.
Niken memandangi profil wajah Rayya dari bawah. Kakak kelasnya itu memiliki wajah yang lumayan. Kulitnya putih bersih. Tidak jerawatan seperti anak remaja pada umumnya yang lagi mengalami masa pubertas. Hidungnya mancung, alisnya tidak tebal tapi tertata rapi. Sepertinya Rayya anak laki-laki tertampan yang pernah ditemui Niken.
Prestasinya disekolah pun sepertinya cemerlang walau Niken tidak tahu pasti, apakah Rayya pernah mendapat peringkat atau tidak, Niken tidak pernah bertanya tetapi mendapatkan posisi ketua OSIS, Niken yakin butuh perjuangan, tidak seperti menjadi sekretaris kelas asal comot seperti dirinya. Sedikit banyaknya Niken bangga pacar pertamanya memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain.
Ya ampun Niken, bisa-bisanya disaat kaki sedang sakit begini terpesona dengan ketampanan seseorang.
Begitu sampai diruang UKS, Rayya langsung mendudukkan Niken dan melepas sepatunya. Disentuhnya pergelangan kaki Niken yang sudah agak membengkak. Dapat Niken lihat dengan jelas titik-titik keringat yang ada di kening Rayya. Niken jadi meringis membayangkan betapa lelahnya Rayya menggendong dirinya dari lantai atas.
__ADS_1
"Sakit." Rayya mendongak mendengar rintihan itu. Padahal Niken merintih antara sakit dan kasihan mendapati Rayya menggendong dirinya. Kebetulan yang sangat sial karena tidak ada murid yang berjaga di UKS membuat Rayya harus berlari keruang guru dan mencari pertolongan.
Rayya kembali bersama seorang staf UKS lima menit kemudian dan langsung duduk di bangku dekat meja. Nafasnya tak beraturan. Niken yakin Rayya berlari panik mencari staf UKS yang sekarang sedang menyentuh kakinya.
Niken hampir menangis waktu staf UKS yang bernama Bu Henny itu mengurut kakinya. Seprei kasur sudah tak berbentuk akibat cengkeraman tangan Niken yang terlalu kuat. Rayya yang menyadari Niken kesakitan menghampiri dan duduk tepat disebelahnya. Memegang lengan Niken. Bu Henny hanya melirik Rayya.
"Parah, Bu?" tanya Rayya setelah Bu Henny selesai mengoleskan salep entah apa ke kaki Niken.
"Lumayan. Kamu pulang aja, istirahat dirumah. Sampai rumah kamu kusuk lagi kakinya sama yang ahli. Itu udah ibu kasih salep pereda sakit biar nggak tambah bengkak." Niken hanya mengangguk mendengar penjelasan Bu Henny.
"Saya yang antar Niken pulang ya, Bu?" tawar Rayya.
Bu Henny hanya tersenyum dan mengangguk, "jangan keluyuran kamu, Ray."
"Kamu tunggu disini ya, Nik, aku ambil tas kamu. Sepatunya jangan dipake. Lepas aja dua-duanya. Pasti tambah sakit kalo dipaksa pake sepatu."
Setelahnya Rayya langsung berlalu membereskan peralatan Niken dan mengantar Niken pulang. Niken sendiri hanya menjinjing sepatu karena tas sudah dibawa Rayya. Satu yang Rayya syukuri hari ini adalah dirinya membawa motor.
Mau marah kan jadi tidak bisa bila Rayya perhatian seperti ini. Niken jadi bimbang antara mau memaafkan atau merajuk
***
__ADS_1
3 hari sudah berlalu, hari yang sangat membosankan terlewati oleh Niken. Hari yang hanya dilalui dengan rebahan, rebahan dan rebahan. Tante Runita melarang Niken bersekolah karena mengingat kaki Niken yang masih bengkak. Kemarin waktu diantar Rayya pulang, Tante Runita sudah heboh dan panik sendiri. Menelepon om Uno untuk mencari tukang urut padahal suaminya itu sedang bekerja.
Heboh dan paniknya tante Runita ternyata belum seberapa begitu tau Niken menangis kesakitan waktu di urut. Tante Runita pun ikut-ikutan menangis karena tidak tega melihat kaki Niken yang dipelintir oleh si tukang urut.
Sebenarnya hari ini Niken sudah memaksa ingin masuk sekolah tapi semakin Niken memaksa untuk sekolah semakin memaksa pula tante Runita untuk libur. Akhirnya disinilah Niken.
Rebahan lagi. Di kursi sofa. Depan televisi. Menonton kartun Barbie.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara sahut-sahutan orang mengucapkan salam. Niken ingin beranjak tapi tante Runita sudah terlebih dahulu menuju pintu dan membukanya.
"Waalaikumsalam!" sahut tante Runita kencang. Karena sepertinya tamu itu berjumlah lebih dari satu orang. Niken yang sempat akan beranjak memilih merebahkan tubuhnya kembali. Tak terlalu peduli dengan suara gaduh tamu di luar.
"Hai nyonya Mulyono." Niken sontak menoleh mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara yang paling menyebalkan bagi Niken.
Sementara yang menyapa hanya cengengesan dan langsung duduk di permadani tanpa dipersilahkan. Di ruang tv hanya tersedia satu sofa yang sedang diduduki Niken dan sebuah permadani lembut terbentang.
Niken terkejut mendapati teman-temannya datang menjenguk. Ada Dhani, Rindy, Reni, Adila, Marwah, Salsa dan Mulyono. Niken sempat mengernyit mendapati Mulyono diantara mereka.
"Dia tadi maksa mau ikut," celetuk Reni. Rupanya dia peka dengan tatapan heran Niken.
Adila, Marwah dan Salsa sudah heboh merangkul Niken seolah mereka tidak pernah bertemu berabad-abad dan menanyakan mengapa bisa Niken sampai jatuh dan keseleo. Niken pun menceritakan kronologi kejadiannya secara singkat. Banyak yang tidak Niken ceritakan, termasuk kejadian di rooftop dan digendong Rayya ke UKS. Bisa jatuh pamor Rayya bila mereka tahu ketua OSIS mereka kedapatan merokok.
__ADS_1
"Makanya nggak usah pecicilan. Lemah si lo, baru di godain gitu aja udah pake kabur-kaburan segala." Reni langsung menyenggol lengan Rindy yang berucap sadis tak tau tempat. Rindy sendiri hanya memasang wajah datar.