Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kisah Lanjutan


__ADS_3

Rayya kembali tak lama kemudian. Sudah mengenakan baju dan celana pendek yang lebih sopan. Rayya menggaruk belakang rambutnya. Masih ada sisa-sisa malu diwajahnya tapi dia berusaha secuek mungkin. Rayya langsung duduk disofa yang diikuti oleh Niken. Mereka sama-sama diam. Bila tak sengaja bertemu pandang mereka kompak memalingkan wajah. Padahal Rayya penasaran sekali mengapa Niken bisa berada dirumahnya. Tapi insiden boxer sialan itu rupanya telah menimbun rasa penasaran Rayya.


"Intinya sih yakin dan pasti berhasil. Usaha pasti tidak akan mengkhianati hasil." Sayup-sayup terdengar suara orang berbincang. Rayya dan Niken sama-sama menoleh ke arah suara itu berasal dan tak lama muncul Tante Runita dan temannya.


"Doakan ya Sin, semoga berhasil. Kalau ngomongin lelah sih ya udah pasti lelah dan yang lebih lelahnya lagi dengerin omongan orang."


"Tutup telinga. Biarin aja orang mau ngomongin apa. Saudara aku berhasil pakai metode yang aku ajarin ke kamu tadi. Semoga aja di kamu juga berhasil."


"Amiin."


Rayya dan Niken kompak saling berpandangan karena tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.


"Oya Nit, ini siapa kamu? Aku tadi mau nanya lupa."


"Ini keponakan aku. Namanya Niken. Udah ikut aku sejak dua bulan lalu." Tante Runita mengenalkan Niken yang disambut senyum cerianya.


"Imut banget sih kamu. Baru masuk SMP ya? Sekolah dimana?"


"Di SMP Budaya, Tan." Niken menjawab sembari nyengir karena temennya tante Runita ini bertanya tapi tangannya ikut mencubit pipinya gemas.


"SMP Budaya? satu SMP dong sama kamu, Ray?" Wanita itu berpaling ke arah Rayya dan Rayya menjawab dengan cara mengangguk.


"Pantesan kamu udah duduk disini. Kalian udah saling kenal? Oya Niken, kenalin aku Sinta, kakaknya Rayya. Panggil aja mbak Sinta ya jangan tante. Berasa jadi tante girang aku."


"Dia adik kelas aku mbak, kebetulan waktu itu pernah ketemu waktu rapat OSIS, terus nggak sengaja beberapa kali sempat satu bus." Mendengar penjelasan Rayya entah mengapa malah membuat Sinta tersenyum menggoda dan melirik Rayya.


"Kami pulang deh Sin, udah sore." Tante Runita berpamitan sebelum Sinta yang memang ramah ini bertanya macam-macam kepada Niken ataupun dirinya yang mana pasti mereka akan melanjutkan obrolan hingga malam menjelang.


"Yee memang kalian yang datangnya udah terlalu sore, kita jadi nggak bisa ngobrol banyak."


"Lain kali deh, kita ngobrol lagi. Aku kesini atau kamu yang kerumahku bawa Randy." Tante Runita berbicara sembari berjalan pelan menuju motornya diikuti oleh Niken, Rayya dan Mbak Sinta.


"Insya Allah kalau ada waktu aku main. Hati-hati dijalan ya."


Setelah Niken dan Runita menghilang dari pandangan, Sinta menyenggol lengan Rayya dengan bahunya. Rayya yang masih memandangi arah kepergian motor Niken menoleh.

__ADS_1


"Jadi itu alasan kamu milih naik bus daripada naik motor kayak biasanya?" Sinta tersenyum menggoda.


Rayya hanya mengusap tengkuknya dan tersenyum-senyum sendiri.


***


"Ma, papa kapan pulang?" Marcel bertanya disaat mereka sedang menghabiskan sarapan pagi.


"Kemungkinan besok juga pulang. Kenapa? Udah kangen sama papa?" Iseng Niken bertanya. Suaminya atau papa dari anak-anaknya saat ini memang tengah bertugas keluar kota selama seminggu dan ini adalah hari ke enam semenjak kepala rumah tangga itu bepergian mengais rezeki.


"Sepi juga nggak ada papa. Biasanya papa pagi-pagi heboh cari kaus kaki dan dompet," ujar Marcel dan terkekeh setelah mendapat tatapan maut dari Marsya, kakaknya.


"Kau sama aja sama papa, setiap pagi ada aja yang di ributin, ada aja barang yang hilang. Papa nggak ada, kenapa kau nggak kehilangan barang pagi ini?" sengit Marsya.


"Karena aku anak papa makanya kami sama pikunnya, emang kakak, nggak jelas asal usulnya."


"Ih, kau bener-bener ya, ngajakin ribut pagi-pagi." Marsya tersulut emosi hingga berdiri dan melipat lengan kaus yang dikenakannya. Sedangkan Marcel justru memeletkan lidah dan menjulingkan mata, membuat Marsya semakin tersulut amarah.


"Udah, nggak usah ribut masih pagi. Kalo tetep mau ribut, tuh dihalaman. Nanti siapa yang menang mama belikan bakso." Niken justru menantang anak-anaknya membuat mereka kembali duduk ke bangku masing-masing dengan wajah tertekuk.


"Kamu ada janji mau keluar, kak?" tanya Niken kepada anak gadisnya. Hari minggu seperti ini biasanya Marsya akan jalan-jalan bersama teman-temannya dan Niken mengijinkan berhubung putrinya ini juga sudah mulai dewasa dan perlu mengenal dunia luar. Berbeda dengan si bungsu.


"Kamu masih SMP, belum boleh kemana-mana tanpa pengawasan orang tua," sahut Niken mengomel, tak memperdulikan wajah sebal Marcel dan Marsya yang tertawa ngakak.


"Mama nggak adil," sungut Marcel.


"Dulu, waktu kakak seusia kamu, kakak juga nggak boleh kemana-mana, bahkan kerja kelompok pun harus di rumah." Marsya kini memberi penjelasan menggantikan sang mama, agar adiknya itu tidak merasa bahwa orang tuanya pilih kasih, karena memang itulah adanya.


"Aku mau di rumah aja ma, mau dengerin kelanjutan cerita mama," ucap Marsya kini beralih kepada mamanya. Marcel yang tadinya lesu kini berubah antusias begitu kakaknya mengusulkan mau mendengarkan kisah mamanya saja. Jujur saja Marcel masih penasaran dengan kelanjutan kisah masa sekolah mamanya.


"Yakin? Entar bosan?" ledek Niken.


"Nggak lah ma!" seru mereka kompak. "Cerita mama masih sekelumit."


Niken tersenyum melihat anak-anaknya begitu antusias.

__ADS_1


"Jadi waktu itu...."


***


Niken baru turun dari bus dan sedang berjalan menuju gerbang saat ia mendengar suara siulan dari arah belakangnya. Karena merasa bukan dia yang diberi siulan, Niken cuek saja berjalan sampai tiba-tiba ada yang mensejajari langkahnya. Niken melirik dan Dhani nyengir mendapat lirikan itu.


"Tiba-tiba aku teringat kamu," celetuk Dhani.


Sepertinya Niken harus kebal dengan celetukan itu. Ini baru dari Dhani, belum dari anak-anak lain. Mendapat godaan setiap hari seperti itu entah mengapa membuat Niken lama kelamaan menjadi benci kepada Mulyono.


Iya, ini semua bermuasal dari Mulyono yang memberinya coklat. Kalau saja Mulyono tidak memberinya coklat pasti masa sekolah Niken tenang tanpa mendapat ejekan dari teman-temannya. Padahal Mulyono hanya mengajaknya ngobrol sekali minus dengan pemberian coklat karena itu tidak termasuk ngobrol, Mulyono langsung kabur waktu itu.


Niken tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Mulyono agresif dan sering mendekatinya bahkan sampai meminta nomor telepon seperti yang dilakukan Rayya. Bisa dipastikan masa sekolah Niken lebih suram daripada ini karena teman-teman Niken sudah pasti menggodanya setiap detik.


Salsa saja masih sering menggodanya perihal Rayya meminta nomor teleponnya padahal Adila yang menjadi saksi mata bersikap biasa.


"Nik." Dhani menyenggol lengan Niken karena kedapatan melamun.


"Hmm." Niken yang ketahuan melamun sambil berjalan pun menyahut malas.


"Gimana sih caranya biar gampang ditaksir orang?" Niken melirik aneh mendengar pertanyaan Dhani.


"Yang pastinya sih jangan jabir. Kalau orang kebanyakan mulut kayak lo udah pasti orang ilfeel duluan."


"Maksud lo apaan nih ngomong kayak gini?" Rupanya Dhani tersinggung disebut jabir oleh Niken sedangkan Niken cuma bisa nyengir.


"Jadi lo pura-pura lugu ya selama ini supaya bisa ditaksir cowok." Dhani manggut-manggut dengan pemikirannya. Niken langsung menabok punggung Dhani.


"Sembarangan lo!"


"Pantes aja Mulyono bisa tergila-gila sama lo."


"Bisa nggak sih apa-apa itu jangan disangkut pautkan sama Mulyono? Sebel gue."


Dhani tertawa ngakak, "jahat lo! padahal dia selalu teringat sama kamu."

__ADS_1


Niken langsung berjalan cepat setelah sebelumnya menendang tulang kering Dhani.


"Aduuuhhh. Jangan main kekerasan dong!"


__ADS_2