Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Pupus Harapan


__ADS_3

Sudah 2 minggu memang Niken tidak mendapati papanya dirumah dan mamanya selalu beralasan papa ada kerjaan diluar kota bila Niken menanyakan orang paling ganteng di keluarga mereka itu. Niken yang tidak curiga hanya menganggap perginya papa hal biasa dan murni karena kerjaan. Bukan karena merantau seperti yang terjadi saat ini.


"Niken, maafkan kami nak, sepertinya kamu juga nggak bisa melanjutkan kuliah, uang tabungan pendidikan kamu juga habis terkuras. Maafkan kami, nak." Mama Niken kembali menangis tersedu. Niken hanya bisa memeluk mamanya dan mengusap lembut punggung wanita pemilik pintu surganya itu.


"Ma, jangan pikirin kuliahku, yang penting mama sehat, mama kuat, kita pasti bisa lalui ini semua. Lagian aku memang nggak ada niatan untuk kuliah, aku mau ikut bude Dewi, belajar desain baju." Entah dapat pikiran dari mana, Niken tiba-tiba mencetuskan kalimat itu untuk menenangkan mamanya.


"Jangan bohong Nik mama udah tau dari Juna kalo kamu daftar kuliah jurusan psikologi."


Niken sempat terdiam sejenak memikirkan alasan yang dapat diterima oleh mamanya.


"Aku belum daftar ma, lagian aku nggak yakin otak aku mampu. Aku juga kemarin udah datangin bude Dewi dan tanya-tanya soal desain baju kok. Mama nggak usah risau sama kuliahku, aku nggak mau kuliah, mau belajar desain baju aja sama bude." Penjelasan Niken justru membuat mamanya semakin menatap dalam mata Niken. Matanya semakin berembun dan siap tumpah kembali.


Niken menghapus air mata mamanya walau ia sendiri justru terisak. Tak pernah Niken sangka bahwa yang menjadi tangisan mamanya bukan tentang uang yang hilang tapi justru karena mamanya merasa bersalah karena tidak dapat menyekolahkan Niken ke jenjang yang lebih tinggi.


Niken kembali ke kamarnya setelah meyakinkan mamanya dia tidak butuh kuliah. Walau mamanya berkali-kali meminta maaf dengan kondisi yang mereka alami saat ini dan berdampak kepada berhentinya mimpi Niken tapi Niken tak pantang menyerah agar mamanya percaya, Niken tak butuh kuliah.


Begitu masuk kedalam kamar dan menutup pintu, tubuh Niken langsung luruh dan Niken menangis terisak-isak. Semua impian yang Niken dambakan hilang dalam sekali kedipan mata. Semua sudah Niken persiapkan dengan matang dan Niken harus merelakan semua itu hilang.


Bohong kalau Niken mengatakan dia tidak berminat melanjutkan kuliah.


Bohong kalau Niken mengatakan sudah mendatangi bude Dewi untuk belajar desain baju.


Bohong kalau Niken mengatakan dia belum mendaftar di jurusan psikologi impiannya.

__ADS_1


Bohong, semua itu bohong.


Mimpi Niken tinggi dan Niken harus menahan sesak di dada kala meyakinkan mama semuanya akan baik-baik saja. Hatinya tidak baik-baik tapi Niken yakin sakit ini pasti akan hilang seiring bergulirnya waktu. Niken hanya perlu belajar menerima keadaan bahwa semua tak lagi sama.


Niken beranjak dari posisi menekuk lututnya dan menghampiri meja belajar. Dibukanya lembar-lembar kertas yang Niken simpan rapi di dalam map dan di tumpukan buku paling bawah. Niken menatap kertas-kertas itu dengan pandangan nanar.


Niken sudah memenuhi persyaratan yang dibutuhkan, Niken sudah mengisi semua formulir yang dibutuhkan dan Juna lah saksinya. Niken hanya tidak menyangka Juna sudah mengatakan rencana Niken kepada mamanya hingga membuat mamanya kepikiran.


Dengan tangan gemetar, Niken meraih gunting yang berada diatas meja dan menggunting satu persatu lembaran kertas itu. Niken ingin membakar lembaran kertas itu sebenarnya tapi tak ada korek api didalam kamar Niken dan Niken  enggan keluar kamar untuk mencari di dapur. Niken takut bertemu mamanya dan mamanya akan tau mata sembab Niken diakibatkan dirinya kembali menangis.


Niken kembali terisak ketika semua lembaran persyaratan untuk masuk jurusan psikologi itu telah menjadi potongan kertas halus. Dikumpulkannya sampah itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah mini yang terdapat di dalam kamarnya.


Dengan cara ini Niken berharap mamanya tidak akan mengetahui bahwa selama ini Niken sudah berjuang agar dapat kuliah di jurusan impiannya. Niken juga akan memberi tahu Juna tentang masalahnya dan mewanti-wanti ku Juna agar tidak berbicara tentang kuliah lagi kepada mamanya.


***


"Pupus sudah harapan menjadi dokter jiwa," celetuk Marcel.


"Sampai sekarang nenek nggak tau ya ma kalo sebenernya mama belajar tempat Oma Dewi karena faktor ekonomi?" tanya Marsya yang di jawab gelengan oleh Niken.


"Nenek taunya ya mama suka desain, apalagi mama berhasil hidup mandiri dari kerja desain baju itu." Niken memberi penjelasan yang membuat anaknya mengangguk mengerti.


Cerita Niken masih berlanjut bahkan sampai pagi ini. Selesai sarapan dan sang suami berangkat kerja, anak-anaknya sudah duduk tenang, menunggu mama mereka melanjutkan cerita masa muda mamanya. Apalagi mereka sudah bergotong-royong agar pekerjaan rumah cepat selesai.

__ADS_1


Sekolah sedang libur di karenakan tanggal merah, sedangkan papa mereka tetap berangkat bekerja karena tiba-tiba mendapat telepon ada barang yang terlambat terkirim dan baru sampai di hari ini. Kesempatan itu tidak di sia-siakan Marsya dan Marcel. Perjanjian bahwa papa mereka jangan sampai tau cerita mamanya masih berlaku sampai sekarang membuat Marsya dan Marcel kerap curi-curi waktu agar dapat mendengar kelanjutan cerita mamanya.


"Jadi Ma, setelah mama memutuskan tidak jadi kuliah, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Marcel sembari mengemil pop corn. Sudah niat sekali ia ingin mendengarkan cerita mamanya sembari ngemil.


Niken menatap kosong televisi yang berada di depannya, "Setelah itu--"


***


Niken mendatangi bude Dewi keesokan harinya untuk mengutarakan niatnya belajar desain baju. Bude Dewi adalah kakak dari papanya alias kakak ipar Rumila, mama Niken. Bude Dewi punya butik kecil khusus untuk baju pengantin dan sebuah konveksi. Usahanya cukup sukses dan mampu mengangkat derajat keluarga mereka dari kemiskinan.


Rumah bude Dewi tidak jauh dari rumah Niken dan hanya butuh waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Niken mendatangi rumah bude Dewi tepat di jam makan siang agar tidak mengganggu bude Dewi mengawasi para karyawan. Begitu sampai, benar saja ruang kerja bude Dewi sepi, para karyawan yang kebanyakan diambil dari lingkungan sekitar tengah pulang kerumah masing-masing untuk makan siang dan akan kembali lagi nanti pukul 2.


"Tumben anak gadis Rumila main kesini? Udah makan siang belum? Sini sekalian makan." Bude Dewi menyambut ramah kedatangan sang ponakan.


"Udah makan aku kok De, mau kesini tadi makan dulu." Niken juga menyahut tak kalah ramah dari bude nya yang terkenal baik hati ini.


Niken mengobrol sebentar dengan bude nya sembari menemani budenya makan siang. Setelah berbasa-basi sebentar, Niken mengutarakan keinginannya untuk belajar desain baju dan budenya itu sudi mengajarinya.


"Kamu yakin mau belajar disini, Nik?"


"Yakin De," sahut Niken menganggukkan kepalanya.


"Bude udah denger soal papamu, bude juga berharap kamu serius belajar agar nantinya kamu bisa bantu perekonomian keluargamu atau minimal bisa mengurangi beban orang tua dengan hidup mandiri. Nanti kalo kamu udah pinter ngedesain baju dan udah bisa bude lepas, kamu akan bude rekomendasikan ke butik temen bude yang ada di kota, gajinya disana besar." Niken  tersenyum senang mendengar rencana dan nasihat yang diucapkan budenya. Perkataan budenya menambah kobaran semangat dalam diri Niken.

__ADS_1


Satu masalah sudah teratasi, Niken semakin yakin untuk menghentikan mimpi lamanya dan mengejar mimpi baru. Mimpinya membantu perekonomian keluarga.


__ADS_2