
"Nov, udah dulu ya, kakak lagi sibuk." Andre langsung memutuskan panggilan padahal di sebrang sana Nova tengah memekik dengan jengkel karena Andre yang mematikan panggilan sepihak.
"Siapa perempuan itu?" tanya Niken tajam sekaligus kesal karena momen romantis nya harus terganggu dengan panggilan dari Nova.
"Nova kan yang nelepon?" tanya Andre bingung.
"Bukan, perempuan itu yang dimaksud oleh Nova tadi."
"Oh. Yang di maksud dia itu ya kamu. Nova kan nggak suka sama kamu. Cemburu katanya."
"Cemburu?" Dengus Niken jengkel. "Seharusnya yang cemburu itu aku, aku pacar kakak. Emang dia siapa kakak, kok berani-beraninya bilang cemburu."
"Udahlah nggak usah bahas Nova. Nanti kita ujung-ujungnya berantem." Andre menyahut tenang. Tau kalau kekasihnya sedang tidak enak hati.
Niken diam tak menyahuti ucapan Andre. Masih kesal rasanya dengan Nova yang terang-terangan mengatakan cemburu pada kekasih orang.
"Tuh kan ngambek," goda Andre sembari mencolek lengan Niken yang masih anteng dengan mode diamnya.
"Kapan kakak ngelamar aku?" tanya Niken tiba-tiba membuat Andre terkejut.
"Besok pun bisa tapi kalo sebulan kemudian langsung menikah, kakak belum bisa," jawab Andre langsung ke intinya. Ia tau syarat dari Niken belum bisa ia penuhi.
"Uang tabungan kita udah banyak, pakai itu aja."
__ADS_1
Andre menggeleng tak setuju dengan ide Niken, "Udah kakak bilang kan, uang itu sampai kapanpun hanya untuk kebutuhan rumah, bukan untuk kebutuhan pernikahan."
"Jadi sampai kapan kakak akan siap penuhi syarat dari aku? Sebentar lagi usia pacaran kita tiga tahun dan sampai sekarang kakak belum bisa juga penuhi syarat dari aku. Udah aku bilang, stop dulu tabungan kita biar uangnya bisa di gunain untuk biaya nikah, tapi kakak masih giat juga menabung tiap bulan," omel Niken sebal.
Andre menghela napas lelah. Lelah karena pembicaraan mereka masih saja seputar lamaran dan lamaran yang tak kunjung bisa ia penuhi persyaratannya. Andre sayang dan ingin segera menikahi kekasihnya ini tetapi keuangan lah yang lagi-lagi masih jadi kendala. Andre tidak mau memakai uang tabungan bersama mereka karena itu untuk membeli rumah mereka kelak.
Andre sanggup untuk menikah dengan Niken tetapi ia merasa belum sanggup membiayai hidup Niken pasca menikah. Itu yang menjadi kendalanya selama ini. Ia dan Niken harus sama-sama berjuang dari nol agar bisa bangkit dan mempunyai ekonomi yang mencukupi. Andre sadar ia tidak bisa mengharapkan dari ayah ibunya yang juga hidup pas-pasan. Mengharapkan dari mertua sungguh tak tau diri rasanya.
"Kamu sabar dulu ya, aku usahain aku segera dapat uangnya dan kita segera menikah. Tapi tolong, jangan paksa aku pakai tabungan bersama kita. Itu untuk rumah bukan untuk biaya nikah."
"Aku kasih waktu setahun lagi kak, kalo memang yang kita bahas masih seputar ini dan nggak ada perkembangan, aku berhenti disini."
"Nik, kamu kok gitu sih ngomongnya?" Andre tidak terima dengan keputusan sepihak yang dilontarkan Niken. Andre sayang dengan Niken dan tidak ingin hubungan mereka berakhir hanya karena permasalahan mereka yang belum kunjung menemukan solusinya.
"Segitu gampangnya kamu ngelepasin hubungan yang udah bertahun-tahun ini Nik? Kakak nggak ngerti lagi mau ngomong apa, mungkin emang kakak nggak begitu berharga di mata kamu," ungkap Andre kecewa.
"Aku bukan melepas hubungan detik ini juga kak. Aku kasih waktu sampai satu tahun kedepan. Kalo memang kakak belum ada dana juga, aku bakalan paksa kakak pakai tabungan bersama kita. Menikah tanpa resepsi mungkin bisa kita lakuin, tapi aku nggak bisa menjamin kalau orang tuaku akan terima anaknya menikah tanpa adanya resepsi. Apalagi aku, anak satu-satunya."
Andre diam mencerna ucapan Niken. Pikirannya berkecamuk dan pusing sendiri.
"Udah malam, sebaiknya kakak pulang. Aku juga lelah mau istirahat."
Mendengar kalimat pengusiran itu membuat Andre mendongak dan segera beranjak dari posisi duduknya. Berpamitan kepada orang tua Niken dan bergegas menuju gerai. Malam minggu seperti ini gerai pasti ramai dan Andre sudah merelakan waktunya untuk mendatangi Niken alih-alih berjualan seperti biasa tetapi ternyata hanya berujung dengan pertengkaran.
__ADS_1
Niken sendiri segera menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya ikut pusing memikirkan masalah keuangan Andre.
Salah kah dirinya yang meminta Andre untuk segera menikahinya disaat Andre tengah kesulitan keuangan?
Andre selalu mengeluh belum mampu melamarnya dengan jangka waktu sebulan sebelum pernikahan tetapi rutin menabung dalam jumlah yang lumayan besar dan tidak mau menghentikan tabungannya agar uangnya bisa digunakan untuk keperluan pernikahan.
Andre terlalu menggebu ingin memiliki rumah dan Niken yang harus ikut merasakan akibatnya.
Niken sesungguhnya belum terlalu berminat untuk menikah tetapi bila mendengar kata-kata seperti yang di ucapkan ibu warung tadi sore, rasa ingin menikah itu tiba-tiba datang menggebu. Niken ingin membuktikan bahwa ia juga bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Bayu.
Belum lagi ayahnya yang terkadang masih sering menyebut nama Juna diantara obrolan mereka. Juna baik dan selalu ada untuknya tetapi kalau untuk hubungan yang melebihi pertemanan, dirinya akan berteriak kata tidak paling kencang.
Kalau Andre masih belum bisa memberi kepastian, Niken harus bisa memikirkan kelanjutan hubungan mereka.
***
Sejak perselisihan yang terjadi antara Niken dan Andre yang terjadi sebulan lalu, hubungan mereka bisa dikatakan kurang harmonis. Niken tak pernah mengunjungi gerai Andre, begitupun sebaliknya, Andre tak pernah mengunjungi kos Niken. Mereka seperti memberi waktu untuk diri masing-masing merenungi kesalahan.
Komunikasi melalui sambungan telepon sajalah yang selama ini menjembatani mereka untuk saling bertukar kabar walau hanya sekedar basa-basi. Tabungan bersama mereka tetap berjalan membuat Niken tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Andre.
Hari sabtu ini sepulang bekerja, Niken pulang ke kos dan segera membersihkan diri. Di polesnya wajah dengan sapuan make up tipis agar tidak terlihat pucat dan bersiap berangkat ke gerai Andre. Niken harus menurunkan ego agar hubungan mereka kembali harmonis seperti dulu. Tidak enak juga rasanya, memiliki pacar tapi tidak seperti memiliki pasangan. Padahal jarak rumah Andre dan kos Niken tidak terlalu jauh tetapi masing-masing dari mereka tidak ada yang bisa menyempatkan waktu untuk bertemu. Niken serasa menjalani hubungan LDR.
Dengan mengendarai ojek, Niken sampai juga di gerai Andre yang sudah mulai ramai dengan pembeli. Ini malam minggu dan pantas saja selesai maghrib, suasana sudah mulai riuh di sepanjang jalan yang dipenuhi gerai makanan dan minuman di kanan kiri jalan.
__ADS_1
Andre tengah menuang adonan kedalam loyang sewaktu Niken memasuki gerai dan sempat terkejut dengan keberadaan Nova yang tengah asyik duduk sembari melipat kotakĀ untuk membungkus martabak. Jika dilihat dari luar, maka yang terlihat hanya Andre seorang diri. Ia hanya melirik melihat kehadiran Niken. Niken pun terlalu malas berbasa-basi dengan gadis remaja centil tersebut.